Sadness.
────୨ৎ────
SEJAK duduk di ruang meeting dari setengah jam yang lalu, aku seperti sedang melihat siaran live debat dan bertugas sebagai moderator. Situasinya saat ini Bu Rina ngotot dengan keinginannya dan Athaya juga tidak mau meng-acc hal tersebut.
"Nggak bisa, Tha! Proyek ini udah setengah jalan, tinggal dikirim ke bagiannya Daffin. Masterplan-nya udah dibikin sejak tiga bulan yang lalu. Masa kita mau ngerevisi dan nyusun ulang dari awal? Kamu bisalah omongin sama orang Levin-nya dulu," bujuk Bu Rina.
"Meskipun plan ini udah di-release dari divisi kita, kalau klien minta diubah, ya, ubah aja selagi masih bisa, Bu. Lagian bagian keuangan juga belum bikin RAB-nya, 'kan? Persentase proyek ini masih di bawah satu persen," Athaya tetap pada pendiriannya.
"Tapi, Tha. Tiga bulan loh kita cuma buang-buang waktu doang selama ini. Levin Group nggak merubah deadline proyek ini, tapi mereka meminta diubah rancangan rencana yang udah dibuat di pertengahan. Ya, mana bisalah selesai sesuai deadline yang mereka mau."
"Bukan perusahaan yang paling kuat, paling lama, atau paling pinter yang akan bertahan di industri properti ini, Bu. Tapi, perusahaan yang paling bisa beradaptasi dengan perubahan. Di masa yang akan datang mungkin nggak dari Levin Estates aja kita ngalamin hal kayak gini."
"Tiga bulan justru terlalu lama buat bagian kita mengerjakan suatu proyek. Kita ambil jalan tengahnya aja. Saya coba bicara sama pihak mereka dulu. Kalo semisal mereka tetep mau diubah, saya akan mengajukan kelonggaran waktu buat menyelesaikan proyek ini. Mau nggak mau kita ikutin maunya mereka. Gimana?" tanya Athaya mencoba mencari jalan keluar dari perdebatan panjang yang membuatku pusing harus mencatat apa.
"Ya, udah deh, gitu aja. Semoga aja proyek ini bakal di-pending agak lama. Soalnya kata manajer perizinan, BPHTB di Levin-nya juga masih bermasalah. Kemungkinan digarap setelah hal tersebut selesai di mereka."
Agak menyebalkan memang. Saat masih jadi staf aku sering sekali mengerjakan laporan, revisi sana-sini sampai akhirnya di-acc. Namun, klien mendadak meminta perubahan rencana dan aku diminta merubah dari awal untuk menyusun laporan tersebut dengan deadline yang lebih singkat. Itu baru satu laporan, apalagi ini Bu Rina yang mengurus berbagai proyek.
Meeting berakhir tentative, belum jelas arah ke depannya seperti apa. Namun, aku bersyukur karena itu tandanya aku bisa segera pulang. Di antara orang-orang yang kukenal di kantor, Athaya kunobatkan menjadi satu-satunya pegawai dengan loyalitas paling tinggi. Sampai-sampai dia selalu pulang telat dan membereskan pekerjaannya hari itu juga. Kupikir hari ini pun dia akan melakukan hal yang sama. Jadi, aku berpamitan lebih dulu untuk meninggalkan ruangan.
"Ra, sebentar."
Suara itu membuat langkahku di lobi spontan berhenti. "Bisa kita berangkat bareng?" tanyanya dengan terengah-engah mengambil napas.
"Berangkat bareng ke mana?" tanyaku dengan kening yang mengkerut sempurna. Aku sangat yakin tidak ada schedule lain hari ini setelah meeting dengan Bu Rina tadi.
"Saya janjian sama kakak kamu setelah pulang kerja."
"Kakak saya? Buat?" tanyaku masih tidak paham.
Athaya terlihat keheranan melihat reaksiku yang masih bingung. "Memangnya Hazm nggak bilang sama kamu?" Dia malah balik bertanya. "Dia minta waktu untuk melakukan wawancara sama saya sekaligus diskusi terkait tesisnya. Kakak kamu butuh beberapa sumber lagi terkait Nata Adyatama. Kalo nggak salah tadi judul tesisnya, Formulasi Strategi Bisnis Dalam Meningkatkan Keunggulan Bersaing PT Nata Adyatama Properti Grup," jelas Athaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHAF ✔
RomanceSatu shaf shalat di belakangnya adalah mimpi buruk. Kalimat itu sudah cukup bagi Shafira untuk menggambarkan bagaimana kehidupannnya setelah bertemu dengan seorang Athaya Khalil Adnan. [Spiritual-⚠Romance Act] Tag me on Instagram @ima.madani or @mo...
