Bagian 7

82K 8.8K 469
                                        

Not to be chosen.

────୨ৎ────

KALIMAT seperti apa yang paling pas untuk kukatakan pada Kinan? Satu pertanyaan itu memenuhi pikiranku berhari-hari. Oke, bukan. Lebih tepatnya, berminggu-minggu karena ini sudah berjalan tiga minggu dari hari di mana aku melakukan konsultasi pada Bang Hazm.

Sehalus apa pun kalimat yang kurangkai, tetap saja rasanya terlalu mengerikan untuk diucapkan. Aku benar-benar takut perkataanku menyakitinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya ketika mendengar pengakuanku nanti.

"Ra, saya telepon berulang-ulang. Kenapa kamu nggak angkat teleponnya?"

Tiba-tiba saja Athaya sudah muncul di depan meja kerjaku. Aku bahkan tidak menyadari benda itu berdering.

"Ma-maaf, saya kurang fokus tadi. Ada yang harus saya kerjakan?" tanyaku.

"Meeting siang ini dipercepat setengah jam. Orang Bappeda-nya udah pada nyampe. Resume meeting-nya tolong di-print agak banyak aja daripada nanti kurang karena audience kali ini pasti banyak. Saya dapet kabar barusan kalau ruang meeting-nya dipindah ke lantai delapan, kapasitasnya lebih banyak di sana. Saya ke ruang meeting duluan, ya," kata Athaya terburu-buru, dia orang yang ditunjuk perusahaan untuk mewakili presentasi.

Aku langsung mengerjakan apa yang Athaya minta. Aku membuka resume meeting yang Athaya kirim padaku kemarin, lalu mencetaknya lebih banyak dari meeting biasanya. Baru sekitar lima belas menit kemudian proses print itu selesai.

Setelah itu, aku langsung membawa tumpukan kertas tersebut menuju ruang meeting. Saat aku menyelinap masuk, sudah banyak orang di sana. Sudah sangat penuh malah. Athaya bahkan sedang berdiri di depan dan mempresentasikan proyek yang sudah dibuat rancangan-rancangannya. Aku duduk di salah satu kursi tak jauh dari tempat Athaya berdiri.

Aku tidak begitu menyimak apa yang Athaya paparkan. Aku hanya membuka buku catatan dan pura-pura fokus sedang menyimak. Namun, tiba-tiba aku merasa semua mata sedang memandang ke arahku.

"Ra, bagikan resume-nya," kata Athaya pelan, membuatku tersadar kalau semua orang di ruangan itu menungguku untuk membagikan resume tersebut.

Aku bangkit dan membagikan kepada semua peserta rapat yang hadir di ruangan tersebut, ada sekitar tiga puluh orang.

Ketika baru membagikan setengahnya, aku mendengar salah satu dari mereka berbicara.

"Kenapa resume-nya mismatch sama proyeknya? Ini malah resume proyek pembangunan resort Bali nih."

Mendengar itu aku spontan menatap kertas-kertas yang sedang kupegang. Innalillah, aku salah mencetak resume!

"Mohon maaf ada kesalahan teknis di sini. Resume-nya akan saya tampilkan di proyektor dan akan saya jelaskan sekaligus," kata Athaya sembari menatapku dengan tatapan kecewa.

Presentasinya tetap dilanjutkan meski tanpa ada resume. Aku kembali duduk di tempatku dengan pikiran yang sangat kalut. Aku malah membuat kesalahan fatal dalam meeting yang sangat penting. Athaya menjelaskannya sambil berpindah-pindah dari dokumen resume ke slide presentasinya.

Setelah meeting selesai, Athaya masih berada di ruangan itu dan membicarakan beberapa hal dengan direktur konstruksi. Aku meninggalkan ruangan meeting itu lebih dulu dan kembali ke ruanganku. Beberapa menit kemudian, Athaya muncul di depanku.

Dia menaruh kertas-kertas yang tadi kubagikan ke hadapanku dengan agak keras.

"Kemarin kamu salah mengirimkan laporan pada divisi pengawasan. Hari ini kamu salah mencetak resume. Besok apa lagi, Ra? Serumit apa pun urusan pribadi kamu di luar, tolong jangan dibawa ke kantor! Kalo kamu nggak bisa kompeten sebagai sekretaris dan merasa nggak mampu kerja di sini, bilang aja. Saya bisa nyari pegawai yang lain!"

SHAF ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang