Different Feelings.
────୨ৎ────
KETIKA bumi beserta isinya sedang dalam senyap-senyapnya, sekitar jam tiga dini hari, ponselku malah berdering. Menggemparkan alam mimpi sampai aku terjaga seketika karena tahu kalau itu bukan dering alarm, melainkan dering panggilan masuk.
Mendengar benda tersebut berbunyi di tengah keheningan, mataku langsung terbuka seperti sakelar lampu yang baru beberapa menit yang lalu dimatikan, kemudian dipaksa menyala secara tiba-tiba. Pening parah langsung terasa di kepalaku.
Ketika melihat nama Athaya yang muncul di sana, peningnya malah semakin menjadi-jadi. Biasanya aku akan me-reject panggilannya dan mengecek pesan chat. Namun, mataku masih belum mau terbuka sepenuhnya, akhirnya aku mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Ra? Kamu bisa bantu saya sekarang nggak?"
"Anda nggak lagi setengah sadar, 'kan? Minta bantuan teman-teman Anda yang masih sadar aja untuk mengantar Anda pulang."
Aku menanyakan itu sambil menguap sebentar karena masih sangat mengantuk. Orang di seberang telepon itu malah tertawa.
"Bener, ya, perempuan itu ingatannya panjang. Kamu masih inget aja soal itu. Saya lagi nggak dalam pengaruh alkohol, Ra. Kayaknya kamu yang masih setengah sadar?" kata Athaya.
Mendengar itu aku berusaha menyadarkan diriku untuk bisa lebih fokus menyimak pembicaraannya.
"Terus Anda mau minta bantuan apa jam segini kalau bukan minta diteleponkan Pak Iman?" tanyaku.
"Tolong jemput tunangan saya di bandara. Pesawatnya landed jam empat subuh nanti," kata Athaya.
Subuh-subuh begini, aku harus menjemput orang ke bandara. Ayolah...
"Kenapa nggak Anda jemput aja sendiri? Kan dia tunangan Anda, dia pasti senang kalau Anda yang menjemputnya," kataku mencoba menolak secara halus.
Aku bersedia membantu Athaya apa pun itu selama tidak aneh-aneh. Tapi, tidak di jam tiga pagi seperti ini juga.
"Saya 'kan lagi di Karawang, Ra. Kalau saya bisa jemput sendiri, mana mungkin saya minta tolong sama kamu. Pak Iman juga lagi pulang kampung. Saya bilang kalau sekretaris saya yang akan jemput. Kamu tinggal nemenin dia, anterin ke rumahnya atau ke mana pun dia mau pulang. Kamu tunggu di Terminal 3 di arrival lobby. Saya bisa percayakan Lea sama kamu, 'kan?"
Memangnya tunangannya umur berapa sih sampai tidak bisa pulang sendiri dari bandara? Dia juga pasti bisa memesan taksi tanpa kehadiranku.
"Ra?" panggil Athaya ulang ketika aku tak kunjung berbicara lagi. Mungkin Athaya sengaja menghubungiku jam tiga dini hari agar aku tidak terlalu mengantuk dan bisa bersiap-siap sebelum jam empat.
"Baiklah, landed-nya jam empat, 'kan? Kirimkan nomer dan fotonya ke saya, supaya saya mudah mengenali tunangan Anda," kataku.
"Thanks, ya, Ra," kata Athaya sebelum panggilan itu terputus.
Setelah itu, aku mengambil wudu sekaligus mencuci wajah dan gosok gigi. Sekalipun Jakarta identik dengan panas, tetap saja mandi jam segini akan terasa dingin setelahnya. Aku bersiap-siap seperlunya setelah salat tahajud terlebih dahulu meski hanya dua rakaat.
Kemudian, aku membawa tas selempang yang isinya ponsel, powerbank, dan dompet serta barang-barang lain yang mungkin dibutuhkan nanti. Ketika turun ke lantai bawah, Bang Hazm sedang berkutik dengan laptopnya. Dia menatapku heran karena sudah bersiap-siap sepagi ini di hari Sabtu.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHAF ✔
RomanceSatu shaf shalat di belakangnya adalah mimpi buruk. Kalimat itu sudah cukup bagi Shafira untuk menggambarkan bagaimana kehidupannnya setelah bertemu dengan seorang Athaya Khalil Adnan. [Spiritual-⚠Romance Act] Tag me on Instagram @ima.madani or @mo...
