Bagian 9

81.8K 8.6K 1.1K
                                        

For a Better Tomorrow.

────୨ৎ────

KURSOR pada tampilan pesan chat itu masih berkedip-kedip. Sedari tadi aku hanya memandangi tulisan 'type a message' di sana tanpa ada satu kata pun yang berhasil kuketik. Sesekali tulisan online terlihat di bawah namanya. Sebenarnya, perkataan Athaya tentang memberi kesempatan pada Kak Afif waktu itu sedikit mengubah pola pikirku.

Tentang memberi kesempatan pada diri sendiri untuk tidak terluka di kemudian hari.

Ditambah ketika mendengar perkataan Bang Hazm yang bilang kalau dia akan menikahi Kak Hasna setelah aku menikah. Itu sangat mengganggu pikiranku. Akhirnya, aku mengambil keputusan bahwa aku akan mengizinkan Kak Afif untuk datang ke rumah dan bertemu dengan Ayah. Apakah hanya karena dua hal itu aku berubah pikiran? Of course not.

Mari katakan kalau aku egois karena lebih memilih orang yang kusukai dibandingkan teman, tapi aku tetap akan meminta maaf pada Kinan dan mencoba memperbaiki semuanya. Itulah caraku belajar menyayangi diri sendiri, sebelum aku menyayangi orang-orang di sekitarku.

"Sabtu depan bakda Isya," ketikku terakhir. Aku sudah mengetikkan alamat lengkapku dan waktu yang pas untuk Kak Afif datang ke rumah. Hanya tinggal menyentuh satu icon dan dia akan tahu kalau aku menerimanya.

Send.

Pesan itu terkirim dengan centang dua yang menandakan sudah sampai, namun belum terbaca. Ada rasa lega sekaligus rasa cemas bersamaan setelah itu. Perasaan di mana aku masih memikirkan Kinan, memikirkan apa yang dia rasakan dan bagaimana ke depannya setelah tahap ini kulalui. Kecemasan-kecemasan yang sebenarnya tidak perlu kucemaskan.

Tiba-tiba aku mendapat satu panggilan masuk. Bukan nama Kak Afif yang muncul di layar itu, melainkan nama "Athaya Khalil Adnan Adyatama". Aku sengaja me-rename nama kontaknya dengan nama lengkap, agar kejadian salah melihat nama seperti waktu itu tidak terulang lagi.

Spontan aku menatap ke arah ruangannya. Untuk apa pria itu menghubungiku lewat ponsel, padahal ada telepon kantor di depannya? Konyolnya sekarang dia sedang memandang ke arahku, menyender pada sandaran kursi dengan ponsel yang menempel di telinga kirinya. Dia memberiku instruksi untuk menjawab panggilannya. Minggu lalu beberapa bagian di lantai dua puluh memang mulai direnovasi. Banyak bagian yang diubah dan salah satunya adalah jendela ruangan Athaya.

Yang asalnya hanya setengah bagian, kini jadi semuanya dibuat dari kaca.

Ini agenda lama sebenarnya dan lantai-lantai di bawah sudah lebih dulu direnovasi. Ada plus-minus dari renovasi itu. Plusnya adalah Athaya benar-benar tidak bisa membawa tamu perempuan lagi ke kantor karena seluruh penjuru ruangannya bisa terlihat dari luar. Sementara minusnya adalah Athaya jadi bisa memperhatikan apa pun yang kulakukan dari dalam. 

"Khusyuk banget lihat handphone-nya. Hari ini pertemuan terakhir bareng tim arsitektur sama tim konstruksi mengenai proyek pemerintah itu. Mereka ngajakin kita untuk makan siang bareng timnya setelah bubar salat Jumat nanti. Kamu jadi cuti setengah hari apa nggak? Ini udah hampir jam sebelas. Kenapa belum pergi juga?" kata orang di seberang telepon. Dia mengusirku secara tidak langsung.

"Saya berangkat sekarang kok," jawabku sengaja.

"Baguslah. Kamu mending jangan ikut. Ya, udah, jangan lupa clock out dulu di mesin absen sebelum pulang. Jangan nyusahin orang HRD sama bagian IT lagi," katanya.

"Memangnya kalau saya nggak jadi cuti, terus saya ikut makan siang. Kenapa?"

"Ya, itu... nggak kenapa-napa sih. Selagi kamu bisa nyaman lama-lama sama tim arsitektur dan tim konstruksi yang notabenenya cowok semua itu. Kalau kamu mau, let's lunch together," jawabnya.

SHAF ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang