Sympathy.
────୨ৎ────
SATU minggu tanpa Athaya dengan penuh ketenangan. Pria itu masih sibuk di Osaka, alias go on vacation. Kapan lagi bisa bekerja sekaligus jalan-jalan?
Biasanya tanpa kehadiran pria itu, pekerjaanku akan sangat hectic sekali. Ditambah pressure dari bagian lain yang seolah memanfaatkan keadaan karena Athaya sedang tidak ada. Kadang manajer lain memintaku mengerjakan sesuatu yang sebenarnya bukan bagianku. Karena mereka menamainya dengan "minta tolong", aku jadi tidak bisa menolak permintaannya. Mungkin sebenarnya pekerjaan saat ini sama banyaknya. Hanya saja aku melakukannya dengan mood yang sangat baik dan semangat kerja yang sedang tinggi, sampai dengan ajaibnya semua selesai di hari Jumat.
Sabtu ini aku memang libur. Tanpa overtime dan tanpa pekerjaan apa pun yang harus kubawa ke rumah. Semuanya sudah kuselesaikan kemarin, seolah atmosfernya benar-benar sangat mendukung. Sejak pagi tadi, aku dan Bang Hazm membereskan seluruh rumah. Aku tidak tahu apa isi pikirannya, tapi dia benar-benar membereskan semua penjuru rumah tanpa terlewat sedikit pun. Padahal, logikanya kalau ada tamu tidak mungkin sampai ke kamar. Paling hanya ruang depan dan ruang makan saja yang dipakai.
"Bang, sebenernya Abang sama temen-temen Abang, kalau mendaki gunung, nge-camp dua hari dua malam gitu atau futsal berjam-jam, itu capek nggak sih?" tanyaku.
"Ya, nggaklah," jawab Bang Hazm.
"Terus kenapa baru ngepel ruang depan aja udah ngeluh capek?" demoku sambil mengepel lantai di depannya.
Dia sedang rebahan di sofa tengah, memerintahku untuk menyelesaikan sisanya sambil memainkan ponsel, like a boss.
"Ya, 'kan, nggak hobi," jawabnya dengan wajah datar tanpa rasa iba sedikit pun.
Ingin rasanya lap pel itu kutempelkan saja ke wajahnya yang masih bisa fokus menatap layar ponsel. Haruskah mengepel rumah kujadikan sebuah hobi?
"Udah kerjain aja. Ini buat kebaikan kamu juga. Abang, 'kan, udah lap semua kaca, belum ngeberesin halaman depan. Sampai plafon rumah Abang bersihin. Abang juga udah nyapu lantai. Kamu tinggal ngepel sama lap-lap lemari doang," sambungnya enteng.
"Yeee! Nyapu juga nggak guna kalau harus aku sapu ulang," gerutuku karena hasil pekerjaannya tidak memuaskan.
Beberapa saat setelah aku menjawab itu, terdengar suara bel rumah ditekan. Aku langsung menyuruh Bang Hazm membukakan pintu karena aku sedang menggunakan baju rumahan.
Setelah mendengar sang tamu mengucapkan salam, aku mendapati Bang Hazm yang berlari layaknya atlet menuju ke kamarnya. Pria itu bahkan tak mengatakan sepatah kata pun pada orang yang menekan bel, membuatku ikut bingung dan menebak-nebak siapa yang datang.
"Ada siapa sih, Bang?" teriakku.
Dia seperti baru melihat sosok lain selain manusia. Tapi Bang Hazm tidak menjawab atau merespons pertanyaanku sama sekali. Spontan aku mengintip sedikit ke ruang tamu.
"Eh, Wa'alaikumussalam. Kak Hasna? Kok udah dateng lagi? Kan janjiannya habis asar. Masuk, Kak. Maaf, ya, aku pake baju pendek, lagi beres-beres," kataku sembari memberi isyarat untuk menutup kembali pintunya.
Perempuan itu hanya tersenyum mengangguk, lalu masuk dengan wajah kaku.
Pantas saja kakakku langsung lari maraton ke kamarnya. Dia muncul di depan tunangannya hanya menggunakan kaos hitam dan celana training pendek di atas lutut yang sering dia pakai untuk futsal dan dalam keadaan belum mandi. Serasa membongkar aib sendiri pasti. Aku bisa membayangkan betapa merahnya wajah Bang Hazm sekarang saking malunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHAF ✔
RomanceSatu shaf shalat di belakangnya adalah mimpi buruk. Kalimat itu sudah cukup bagi Shafira untuk menggambarkan bagaimana kehidupannnya setelah bertemu dengan seorang Athaya Khalil Adnan. [Spiritual-⚠Romance Act] Tag me on Instagram @ima.madani or @mo...
