Bagian 13

71.9K 8.8K 1.2K
                                        

Kind-Hearted.

────୨ৎ────

BENAR kalau sebaiknya kita tidak bergantung kepada manusia. Kesibukan Bang Hazm dalam merampungkan tesisnya berdampak juga padaku. Jumat itu aku tidak membawa motor ke kantor karena dipakai Bang Hazm ke kampus. Dia sangat sibuk sekali, sampai kadang ketika aku terbangun di jam tiga pagi, dia masih terjaga di ruang tengah dengan tumpukan buku referensi serta layar laptop yang sudah dia atur menjadi dark mode agar matanya tidak cepat lelah.

Karena hal tersebut juga, aku jadi ikut mobil Athaya lagi untuk pergi ke Grand Plaza yang ada di kawasan Kebayoran Baru itu. Tentu saja dengan disopiri Pak Iman. Kalau tidak ada Pak Iman, aku tidak pernah mau berangkat bersama. Syukurlah Kak Afif juga memang membuat janji temu sekitar pukul lima. Jadi, aku bisa ikut meeting dulu sampai selesai.

"Berangkat ke Boyolalinya kapan, Pak?" Athaya berbicara dengan sopirnya.

"Habis magrib, Pak Atha," jawab Pak Iman.

Pantas saja pria yang sejak tadi mengemudi di sampingku ini terlihat gusar melihat jalanan yang hanya bergerak merayap.

"Ya, udah, Pak. Nanti habis nganterin saya langsung pulang aja. Biar saya bawa pulang ke Kuningan City aja mobilnya," kata Athaya lagi.

Pak Iman terlihat semringah mendengar kelonggaran itu. Namun, dia menanyakan sesuatu lagi pada Athaya.

"Nggak akan ngejenguk Dek Sheina dulu hari ini, Pak?" tanya Pak Iman.

"Nggak," jawab Athaya lugas tanpa memikirkannya terlebih dahulu.

Entah kenapa aku agak kecewa mendengar itu. Athaya tetaplah Athaya yang tempurung kepalanya terbuat dari beton yang dicor berlapis-lapis. Dia berpegang teguh pada apa yang mau dia lakukan. 

Kami sampai di Grand Plaza Kebayoran sekitar jam 15.40. Mobil diparkirkan di lantai 5A di mana tempat parkir tersebut memiliki akses langsung menuju lantai lima. Aku tidak tahu kenapa Pak Iman memarkirkan mobil di lantai tersebut, padahal kulihat parkiran di lantai bawah masih ada yang kosong.

Setelah kami semua turun, Pak Iman menyerahkan kunci mobilnya pada Athaya dan berpamitan untuk langsung pulang. Sepertinya, aku akan sebahagia Pak Iman setiap kali diperbolehkan untuk pulang lebih cepat. Aku melihat kepergian Pak Iman dengan tatapan setengah iri karena ingin cepat pulang juga. Athaya tiba-tiba mengatakan sesuatu padaku.

"Pak Iman nggak pernah ngambil cuti kalau lagi Lebaran karena harus nganter saya pergi ke mana-mana, bahkan sampai ke luar kota. Makanya, saya izinkan dia untuk ambil cuti pulang kampung kapan pun dia mau, di luar dari libur Lebaran," katanya.

Aku terdiam ketika mendengar itu. Bukan memikirkan tentang Pak Iman. Tapi memikirkan bagaimana Athaya bisa membaca pikiranku untuk kesekian kalinya? Rasanya aku tidak mengatakan sepatah kata pun.

Athaya tidak melangkah menuju pintu masuk mall. Namun, pria itu masih berjalan di area tempat parkir lantai 5A. Padahal, kami membuat janji dengan Prasada Group di sebuah tempat casual dining bernama Ouroom & Dimsum di lantai upper ground.

"Tadi akses pintu masuk ke mall-nya terlewat," kataku, mungkin saja dia lupa atau sama-sama tidak tahu arah sepertiku karena baru pertama kalinya datang ke mall ini.

"Saya belum salat asar. Kamu juga belum salat, 'kan?" tanyanya. Ternyata, dia mencari tempat untuk salat.

Aku menggeleng pelan menjawab pertanyaannya, saat itu aku memang sedang berhalangan. Bangunan mall seperti ini rata-rata sudah dilengkapi dengan masjid atau setidaknya ruang musala sempit meski kadang letaknya tersembunyi di ruang basement.

SHAF ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang