Bagian 20

105K 10.3K 2K
                                        

Respect for Others.

────୨ৎ────

SEMUA urusan Bang Hazm dan Kak Hasna seolah mengalir dengan sendirinya. Meski Bang Hazm kerap kali menolak untuk menikah dalam waktu dekat dengan alasan belum resmi lulus S-2 dan belum mendapat pekerjaan tetap, tapi pada akhirnya dia mau karena Ayah sedikit memaksanya.

Aku tahu sebenarnya Bang Hazm mau-mau saja cepat menikah, hanya mungkin dia merasa kurang nyaman kalau harus berbahagia di atas penderitaan adik sendiri. Kak Hasna juga melakukan hal sama pada awalnya, menolak untuk menikah karena merasa tidak nyaman padaku. Dia menanyakan apakah aku tidak keberatan kalau dia menerimanya. Kukatakan, aku akan lebih keberatan kalau sampai dia menolaknya.

Yang kukagumi dari Kak Hasna, sekalipun pernikahannya hampir semua menggunakan biaya dari keluargaku, dia sama sekali tidak keberatan. Dia tidak memikirkan perspektif orang-orang meski resepsi dilakukan di pihak pria. Katanya, selama pernikahan dilakukan sesuai syariat dan sah, dia akan menyetujuinya. Malah sebagai gantinya, keluarganya akan menggunakan biaya yang sudah mereka kumpulkan untuk menikahkan Kak Hasna sebagai biaya wisuda Bang Hazm.

Hari Jumat selalu terasa berjalan lebih cepat dari hari-hari biasanya. Mungkin karena jam istirahatnya yang lebih lama atau karena aku selalu lebih semangat bekerja di hari Jumat mengingat besoknya adalah weekend. Mungkin hari ini jadi terasa lebih cepat karena ini hari terakhir aku bekerja di Nata Adyatama.

Dua minggu terakhir yang kujalani juga terasa lebih cepat. Tentu saja dengan telinga yang lebih tahan panas, mental yang lebih tahan banting, serta kulit wajah yang lebih tebal lagi. Mengingat kabar batalnya pernikahanku sudah menjadi pembicaraan seluruh karyawan.

Apalagi ketika mereka tahu bahwa calon suamiku... bukan, maksudnya mantan calon suamiku adalah putra tunggal pemilik Astra Land Indonesia. Sontak teori-teori tentang batalnya pernikahanku bermunculan di kantor, terutama soal alasan kenapa dibatalkan dalam waktu yang sangat singkat.

Sebenarnya, aku sama sekali tidak terpengaruh dengan apa yang mereka katakan, seburuk dan sekasar apa pun kata-katanya. Hanya satu hal yang membuatku tidak nyaman. Aku paling tidak suka mereka menarik orang lain ke dalam masalahku ketika mereka berbicara buruk tentangku.

Seperti hari Kamis kemarin misalnya, aku dan Athaya sedang menunggu klien untuk meeting dan makan siang bersama di sebuah restoran yang jaraknya sekitar satu kilometer dari kantor. Saat itu, beberapa orang dari Nata Adyatama juga terlihat makan siang di restoran tersebut, terlihat jelas dari name tag yang masih mereka kenakan.

Mereka duduk tepat di belakang kursi yang aku dan Athaya tempati. Aku yakin orang-orang itu dari divisi yang berbeda karena aku tidak mengenali wajah mereka dan mereka pun tidak mengenali wajahku. Namun, meski kami tidak saling mengenal, beberapa perempuan di antara mereka secara terang-terangan membicarakan tentangku.

"Tapi keren, ya, sekelas sekretaris doang dapetnya kelas kakap sekaligus. Pewaris Astra Land dong. Mana dia deket banget lagi sama bosnya. Gue denger-denger plan manager di kantor kita itu anaknya yang punya Nata Adyatama loh. Kayaknya memang sengaja deh deketinnya cowok-cowok berduit begitu," kata salah satu dari mereka.

"Yang mana sih orangnya? Ada sosial medianya nggak? Gue jadi penasaran sama perempuan yang namanya Shafira itu. Tapi, 'kan, nikahnya ujung-ujungnya dibatalkan juga, ketahuan topeng aslinya kali." Yang lainnya ikut berbicara.

"Itu loh perempuan yang selalu pake kerudung panjang banget. Yang sering dijemput Bapaknya yang pincang."

Aku menghela napas mendengar itu. Haruskah menarik Ayahku dalam masalah seperti ini? Apakah memiliki kaki yang tidak sempurna adalah sebuah dosa?

SHAF ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang