Bagian 6

87.2K 9.1K 512
                                        

Hidden.

────୨ৎ────

"LIGHT will give you some energy to do something right, beside your heart, find your own light, and make them bright." - Hazm Zulmi Arrafi, twenty-three minutes ago.

Aku tidak tahu apa motivasi Bang Hazm mem-posting kata-kata itu di story-nya dengan background tiang listrik dan lampu jalan yang menyala. Apa faedahnya coba? Tepat setelah aku melihat story-nya tersebut, nama orang bersangkutan malah langsung muncul di layar ponselku.

Parahnya dia menghubungiku lewat video call. Spontan aku langsung terburu-buru menggunakan earphone dan menurunkan pengaturan brightness ponselku ke yang paling gelap. Supaya orang-orang di mobil tidak terganggu dengan pembicaraanku dan Bang Hazm. Masalahnya, pria itu suka langsung mengomel kalau sudah menghubungiku lewat video call seperti ini.

"Kamu udah nyampe mana sih?! Lama banget. Abang pegel nih!"

Nah, tebakanku benar. Dia langsung mengomeliku tepat setelah mengucapkan salam.

"Iya, bentar, Bang. Ini bentar lagi nyampe kok. Udah mau keluar tol," jawabku.

Saat itu mobil yang kami tumpangi memang akan keluar tol, tapi saking panjangnya antrean, pintu keluarnya saja belum terlihat. Kukira jalan tol akan kosong kalau pulang semalam ini, apalagi hanya dari Bogor-Jakarta. Namun ternyata, truk-truk besar yang membawa muatan barang malah banyak keluar pada malam hari menghindari kemacetan proyek pembangunan jalan kereta cepat itu.

Jadi, di sinilah aku sekarang. Di pintu keluar Tol Cililitan 2, menunggu untuk keluar bersama mobil-mobil yang lain sejak satu jam yang lalu. Kurang hectic apa coba perjalanan pulang kali ini? Pegalnya sudah seperti setengah perjalanan ke Bandung.

"Subhanallah... Dari tadi masih belum keluar jalan tol juga? Katanya udah deket, gimana sih?! Kamu shareloc ke Abang lokasinya, biar Abang bisa kontrol dari sini. Jangan matiin data, ya!"

"Iya, Bang Hazm Zulmi Arrafi, putra Bapak Adam Hamid. Nanti aku kabari kalo udah nyampe, jangan banyak protes!" gerutuku sepelan mungkin.

Salahku sendiri menyuruh Bang Hazm untuk menjemputku setengah jam yang lalu. Siapa sangka kalau macet di pintu keluar tol saja bisa sampai selama ini. Bang Hazm sudah standby sejak tadi di tempat kami janjian.

Athaya mengamatiku dari spion depan ketika melihatku berbisik sambil menatap layar ponsel. Begitu pun dengan Kinan yang duduk di kursi belakang. Saking khawatirnya padaku, anak itu memilih ikut pulang naik mobil bertukar tempat dengan Tsani. Jadi, di mobil ini ada Kinan, Dita, dan aku. Tak lama Bang Hazm malah memutus panggilannya dan suasana kembali hening karena kami semua benar-benar kelelahan.

"Siapa, Shaf?" tanya Kinan.

Ingin sekali kujawab "satpam rumah". Namun, melihat raut wajahku saja, Kinan sudah langsung bisa menebaknya dengan tepat.

"Kak Atha, kalo pegel nyetir bilang aja. Biar nanti gantian sama aku nyetirnya," kata Kinan pada Athaya ketika melihat pria itu beberapa kali memijat lehernya sendiri. Siapa yang tidak pegal berulang kali memindahkan persneling dan menginjak rem.

"No problem, santai aja," jawab Athaya menolak. Mana mau dia disopiri oleh perempuan. Seorang Athaya itu gengsinya berlapis-lapis.

Beberapa saat kemudian, karena tidak kunjung ada kemajuan, Kinan menyenderkan kepalanya ke sandaran kursi dan mencoba untuk terlelap. Sementara Dita, sejak awal macet tadi, dia memutuskan untuk tidur. Athaya terlihat mengecek ponselnya sesekali. Lalu, aku? Aku hanya menghela napas panjang berkali-kali sambil berdoa supaya sedan hitam di depan segera bergerak.

SHAF ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang