Blessedness.
────୨ৎ────
PERASAAN harap-harap cemas itu mengisi pikiranku di keesokan harinya. Aku sampai tidak pergi ke mana-mana dan membatalkan segala janji karena tidak tahu kapan Athaya akan datang. Pria itu baru memunculkan sosoknya di rumahku setengah jam menjelang azan magrib. Itu pun dia datang sendirian. Setelah berbincang sebentar dengan Ayah yang entah membicarakan apa, dia digiring ke masjid bersama Bang Hazm untuk berjamaah magrib lebih dulu.
Kalau dia datang sendirian, bukankah itu sama dengan dia tidak bisa membawa papanya?
Aku menghela napas gusar dan memilih menunaikan salat magrib juga. Namun, dari yang semula berangkat bertiga, Ayah, Bang Hazm, dan Athaya datang lagi menggunakan mobil yang berbeda. Padahal mobilnya Athaya masih terparkir di halaman rumahku saat itu.
Tebakanku mengatakan kalau mereka tak sengaja berpapasan dengan Pak Andreas. Karena mereka turun berlima. Pak Andreas sempat menyapaku sebentar sebelum akhirnya kami semua duduk di ruang tamu. Ayah dan Pak Andreas sudah terlihat berbincang sangat jauh.
"Saya ke Bandung karena sedang ada pekerjaan dan kebetulan keponakan saya yang melangsungkan pertunangan. Saya mengerti kekagetan Pak Adam. Sebenarnya saya juga sama kagetnya, tiba-tiba dapet pesan titik lokasi dari Athaya dan dia minta datang ke tempat ini untuk melamar perempuan katanya. Padahal sebelum-sebelumnya nggak ada percakapan apa pun soal lamar-melamar," kata Pak Andreas.
Pembicaraan-pembicaraan basa-basi berlangsung setelah itu. Sampai akhirnya sampailah di titik di mana Ayah mulai berbicara lebih serius.
"Apa yang menjadi pertimbangan Nak Athaya mau melamar Shafira? Sependek pengetahuan saya, dulu Shafira hanya sebatas pernah bekerja sama Nak Athaya sebagai sekretaris. Apa kalian mungkin perlu waktu dulu untuk mengenal satu sama lain sebelum benar-benar melangkah ke jenjang yang lebih serius."
"Kalau dari saya pribadi, saya merasa sudah cukup banyak mengenal anak Om. Tapi kalau Shafira butuh waktu untuk mengenal saya, atau Om merasa kami butuh waktu untuk berkenalan lebih banyak satu sama lain, saya akan mengikuti kemauan Om dan Shafira," jawab Athaya penuh wibawa.
"Anak saya ini... sebenarnya udah dari lama banget naksir Shafira, Pak. Selalu saya ingatkan dia dari dulu, untuk nggak berharap lebih dan berdoa minta diberikan yang terbaik aja. Saya khawatir, kalau ternyata suatu saat Athaya bertemu dengan Shafira lagi dengan kondisi Shafira yang sudah menikah, saya takut anak saya kembali ke masa lalunya. Hidayah itu anugerah paling mahal yang sulit buat didapatkan."
Athaya menyikut sikut papanya pelan ketika semua kartunya dibuka di hadapan kami.
"Saya menyerahkan sepenuhnya hari ini pada Nak Shafira dan Pak Adam, atas keputusan yang akan diambil, berdasarkan apa yang saya sampaikan sebelumnya. Begitulah keadaan keluarga kami, Pak," tambah Pak Andreas.
Kini Ayah beralih padaku, dari tatapannya saja aku bisa menebak apa yang akan Ayah tanyakan.
"Lamarannya kami terima, Pak."
Bola mataku hampir keluar dari tempatnya mendengar jawaban Ayah. Pasalnya dia tidak bertanya pendapatku sama sekali, apakah aku mau menerima lamaran Athaya atau tidak.
"Yah, kok nggak nanya aku dulu sih?" kataku pelan. Sepelan-pelannya berbicara saat itu, tetap saja akan terdengar.
"Loh, Ayah kira kamu mengizinkan Nak Athaya untuk ketemu Ayah karena kamu memang sudah menerima lamarannya," kata Ayah tanpa rasa bersalah.
"Selama ini, setiap kali ada laki-laki yang mau dateng ke rumah, yang Abang kenalkan dan mau ketemu sama kamu, kamu selalu menolaknya dengan alasan mau fokus menyelesaikan kuliah dulu. Logikanya sih... kalau kamu mengizinkan anaknya Pak Andreas untuk ketemu Ayah, itu artinya kamu memang menerimanya. Nggak perlu ditanya lagi," tambah Bang Hazm.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHAF ✔
RomansaSatu shaf shalat di belakangnya adalah mimpi buruk. Kalimat itu sudah cukup bagi Shafira untuk menggambarkan bagaimana kehidupannnya setelah bertemu dengan seorang Athaya Khalil Adnan. [Spiritual-⚠Romance Act] Tag me on Instagram @ima.madani or @mo...
