Bagian 24

57.3K 8.1K 1.1K
                                        

To Be Us.

────୨ৎ────

JUMAT menjadi hari penuh berkah bagi umat Islam. Hari yang penuh kemuliaan di sisi Allah. Juga kebahagiaan bagiku dan Athaya karena bisa menikah di hari ini. Memang sangat amat berbeda dari pernikahan kebanyakan orang yang menggelar acara pernikahan antara hari Sabtu dan Minggu, tapi menjadi spesial bagiku karena kami bisa menikah di hari ini.

Undangan digital yang kubagikan lewat pesan chat ke beberapa orang membuat mereka banyak tidak percaya. Terlebih teman-teman komunitas. Pasalnya, baru seminggu yang lalu kami makan-makan bersama di pernikahannya Abyan dan Kinan. Tidak terlihat ada tanda-tanda sedang menyiapkan pernikahan dalam waktu dekat.

Bagian rumahku yang didekorasi hanya ruang tamu saja. Ada rangkaian bunga melingkar dengan namaku dan nama Athaya yang dihias lampu tumbler. Aku juga hanya mengenakan dress brokat berwarna putih gading, dirias secukupnya oleh temanku yang jago masalah make-up. Sementara Athaya menggunakan setelan tuksedo dengan warna yang sama.

Meja depan dijadikan meja akad dan ruangan tersebut dijadikan tempat untuk berfoto. Kami hanya mengundang keluargaku, keluarganya Athaya, dan teman-teman dekat kami. Kurang lebih hanya tiga puluh orang totalnya. Dan kami menyembelih dua ekor kambing untuk barbecue di halaman depan. Untuk menu yang lain, tim Shaf Kitchen yang memasaknya.

Akadnya dilakukan setelah pulang salat Jumat. Syukurlah teman-temanku di Jakarta dan pasangan baru yang juga berada di Yogya mau datang saat itu. Meski pernikahannya diadakan sesederhana ini, rasa bahagianya sangat luar biasa.

"Bagus nih konsep nikahnya, Shafira. Konsep Idul adha," kata Abyan yang saat itu menggunakan apron dan kebagian memotong-motong daging yang sudah dibersihkan Mas Angga dan Bang Hazm dari tulang dan bagian lain yang tidak bisa dimakan.

"Eh, tapi kapan lagi bisa makan barbecue kambing fresh kayak gini. Baru disembelih banget dan kambing muda lagi. Haduh dagingnya empuk banget asli. Di Yogya itu ada satu tempat makan namanya Rumah Makan Pak Bayu, deket kawasan Prambanan. Menunya kambing muda kayak gini. Rasanya weeeeennaakk banget, bikin nagih."

Suaminya sibuk mencincang daging, istrinya sibuk memakan sate yang sudah matang.

"Pulang dari sini pada dicek tensi darah sama kolesterolnya, kali aja langsung pada darah tinggi," kata Bang Hazm membawakan daging segar yang sudah diiris tipis ke meja untuk dipanggang.

Kami berada di halaman saat itu, sementara keluargaku dan keluarganya Athaya makan-makan di dalam.

"Nikahannya sederhana, maharnya setara maharnya Ummu Salamah, Bro. Empat ribu dirham dong. Kalo dikonversi ke emas murni nih, sekitar jadi 10.000 gram dikali harga emas sekarang. Adalah 1M koma. Kamu cerdas banget milih mahar, Shaf," puji Abyan.

"Kamu bisa bikin perusahaan baru tuh, Shaf," tambah Tsani.

"Sebenarnya Shafira minta mahar sesuai dengan kemampuan gue. Kan mahar terbaik itu mahar yang paling besar jumlahnya sesuai dengan kemampuannya. Bukan cuma seperangkat alat salat doang. Ya, kalau gue mampu ngasih mahar segitu, kenapa enggak."

"Gue nggak nyangka sih, Tha. Gue sama Nalea nikah bulan depan, tahunya lo nyusul menikah minggu ini. Gila... gila... ngebut bener."

Pak Daffin, sepupunya Athaya yang saat ini menjadi general manager di Nata Adyatama, memang kami undang untuk datang. Kebetulan dia sedang berada di rumah orang tuanya yang di Bandung.

Kami duduk melingkar saat itu dan untuk pertama kalinya aku duduk berdampingan dengan Athaya. Dia sudah melepas jasnya dan berganti dengan warna lain meminjam bajunya Bang Hazm. Aku juga sudah ganti dengan abaya berwarna cokelat setelah sesi foto-foto tadi selesai.

SHAF ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang