Find You Soon.
────୨ৎ────
ENTAH itu lingkungan pekerjaan atau lingkungan tempat tinggal, aku selalu melangitkan doa yang sama. Aku hanya ingin dikelilingi orang-orang yang berhati mulia. Merupakan karunia terbesar bisa hidup dikelilingi orang-orang baik. Begitu pun ketika harus meninggalkan Jakarta dan pindah ke Bandung dulu.
Rupanya Allah mengabulkan doa itu. Keputusan Ayah untuk pindah sebenarnya tidak terlalu kusesali. Buktinya, selama dua tahun terakhir ini, aku masih dalam keadaan bahagia tanpa kekurangan sesuatu apa pun. Kajian di kota Bandung diadakan hampir di setiap masjid-masjid besar dan komunitas yang bergerak di bidang kebaikan menjamur di mana-mana.
Ditambah rumah yang kami beli dekat dengan daerah tempat tinggal keluarga Ibuku. Nenek, sepupu, Om, dan Tanteku, hampir setiap hari aku bertemu mereka, di mana biasanya aku hanya menemui mereka satu tahun sekali.
"Bang, mandi sana. Jorok, ih! Kayaknya semenjak pindah ke Bandung, Abang jadi jarang mandi," omelku ketika melihat Bang Hazm jam tujuh pagi masih dengan piyama tidurnya.
"Bandung dingin tahu. Abang tuh masih butuh penyesuaian. Mau mandi kok, nanti tapi agak siangan. Lagian, ya, kalo kamu searching soal mandi, sebenarnya mandi yang baik itu menyesuaikan dengan kondisi. Nggak harus sehari dua kali." Dia mulai mengeluarkan landasan teorinya. Sudah dua tahun, apa kurang lama untuk penyesuaian?
"Bilang aja Abang mandinya cuma di tiga tempat: Madinah, Makkah, sama Jakarta. Libur kerja bukan berarti libur mandi juga. Mentang-mentang cutinya masih lama."
"Kamu salah, Abang mandinya di lima tempat: Madinah, Makkah, Jakarta, Pekanbaru, sama Bekasi. Dua daerah itu panas juga tahu. Makanya, Bandung sama Garut Abang nggak mandi saking dinginnya."
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar itu. Bisa-bisanya Kak Hasna mau menikahi Kakakku.
"Kamu mau pergi ke mana udah siap-siap jam segini?"
"Mau ke studio, photoshoot produk baru bareng anak-anak kampus." Aku menjawab itu sembari terburu-buru mengenakan sepatu.
"Nanti di depan, tolong ambilkan surat-surat dulu, ya, sebelum pergi," titahnya. Aku mengiyakan.
Setelah semua persiapanku lengkap, aku memarkirkan motor dulu dari garasi ke halaman lalu menyalakannya sebentar agar mesinnya panas. Setelah itu, aku membuka kotak surat dan mengambil beberapa barang di sana. Biasanya isinya banyaknya surat-surat untuk Bang Hazm dan pesanan paket milikku atau Kak Hasna.
"Nih... udah, ya, bilang ke Ayah aku berangkat sekarang." Aku menyerahkan semua kertas-kertas itu tanpa melihatnya terlebih dahulu.
"Bentar-bentar, ini surat buat kamu kayaknya," kata Bang Hazm, seketika membuatku melihatnya lagi.
Dia menyerahkan sebuah surat yang dari cover depannya saja bisa ditebak bahwa isinya adalah undangan. Aku membuka surat tersebut karena hanya ada namaku di bagian depannya. Tebak nama siapa yang kudapati di dalamnya?
Kinan dan Abyan.
Aku membaca lebih lengkap kapan dan di mana acara pernikahan mereka akan dilangsungkan. Ternyata acaranya dua minggu lagi dan dilangsungkan di Yogyakarta. Aku tidak menyangka bahwa dua orang ini akhirnya menikah setelah sekian lama mereka tidak bertemu, mengingat Abyan masih tinggal di Jakarta dan Kinan di Yogya.
"Bang, Abang perdin minggu nanti di daerah mana? Berapa lama?"
"Ke Semarang? Seminggu. Kenapa?"
"Semarang sama Yogyakarta hampir deketan. Aku ikut, ya?" Aku mulai memperhalus gaya bicaraku setelah mengomelinya karena tidak mandi tadi.
"Mau ngapain?" tanya Bang Hazm dengan alis yang beradu.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHAF ✔
RomanceSatu shaf shalat di belakangnya adalah mimpi buruk. Kalimat itu sudah cukup bagi Shafira untuk menggambarkan bagaimana kehidupannnya setelah bertemu dengan seorang Athaya Khalil Adnan. [Spiritual-⚠Romance Act] Tag me on Instagram @ima.madani or @mo...
