Bagian 8

88.3K 10.2K 1.9K
                                        

Accept and Lose.

────୨ৎ────

SARAPAN tanpa kehadiran Ayah di meja makan adalah tanda hari Senin di rumahku. Sarapan berdua dengan Bang Hazm memang akan sangat membosankan karena ini akan menjadi sesi mendengarkan ceramahnya. Tapi, kadang juga menjadi timing yang tepat untuk berbicara dengan pria itu, tanpa ada Ayah.

Seminggu sudah berlalu tanpa ada progres yang baik. Aku hampir tidak bisa tidur setiap malam dan terus mencoba menghubungi Kinan berulang kali. Sampai ketika sarapan pagi bersama Bang Hazm pagi ini, mata dan tanganku tidak bisa terlepas dari yang namanya ponsel.

"Makan dulu, ponselnya nanti lagi," tegur Bang Hazm ketika melihatku lebih fokus pada layar menyala itu. Aku mematikannya, lalu menaruhnya di samping.

Kalau Kinan masih tidak mau merespons, sepulang bekerja hari ini aku akan datang ke rumahnya lagi. Aku harus menyampaikan permintaan maaf padanya. Maaf memang tidak mengubah apa pun, tapi setidaknya membebaskan aku dan Kinan dari rasa sakit.

"Kinan masih sulit dihubungi?" tanya Bang Hazm di sela-sela memasukkan sendok ke mulutnya.

Aku mengangguk menjawabnya.

"Ya, udah sih, lupain aja kalau dia memang maunya begitu. Ribet amat," kata Bang Hazm.

"Nggak segampang itu, Bang. Abang sih nggak pernah temenan selama itu," kataku.

"Cowok itu pertemanannya simpel. Mau gabung, ya, ayo. Nggak mau, ya, udah. Hilang satu temen aja nggak jadi masalah. Yang penting itu kualitas, Fir, bukan kuantitas. Kalau gara-gara hal ini aja dia udah nggak mau temenan sama kamu, itu tandanya dia nggak berkualitas untuk dijadikan temen. Soal jodoh Allah yang ngatur kali," kata Bang Hazm.

Aku lupa makhluk di depanku ini lebih dominan mengandalkan logika.

"Kamu udah istikharah? Kamu juga belum ngasih jawaban sama orang itu, 'kan?" tanya Bang Hazm lagi.

Aku sudah istikharah setiap malam karena tidak bisa tidur. Namun, sampai saat ini aku belum menemukan titik terang.

"Jangan kelamaan, nggak baik gantung orang. Kalau mau ditolak, tolak dari sekarang. Kalau mau diterima, suruh datang ke rumah secepatnya," ceramahnya lagi.

Apa kubilang? Dia tipe kakak yang hobi sekali menceramahi adiknya. Tujuh ribu kata per hari bagi laki-laki tidak berlaku baginya.

Aku belum memberikan jawaban pada Kak Afif karena aku masih ragu dengan keputusan yang harus kuambil. Terlebih masalahku dengan Kinan masih belum selesai. Perkataan Bang Hazm yang terakhir benar-benar mengganggu pikiranku. Sepanjang dia mengantarku, aku terus saja memikirkan itu. Aku harus memberikan jawaban secepatnya agar tidak menggantung Kak Afif terlalu lama. Setidaknya, aku harus memberikannya kejelasan.

"Woy," ucap Bang Hazm.

"Apaan?" kataku.

"Turun! Ini udah nyampe. Niat kerja nggak sih? Ngelamun mulu," omelnya.

Aku baru tersadar kalau motor itu sudah berada tepat di depan building Nata Adyatama. Keteledoranku minggu lalu bermula dari masalah luar yang kubawa ke kantor. Jadi, ketika turun tepat di depan Nata Adyatama, aku harus langsung membagi pikiranku. Sampai ada sistem otomatis di otakku di mana ketika aku berada di kantor, aku tidak boleh memikirkan masalah lain selain pekerjaan.

"Udah, jangan banyak ngelamun. Abang jadi merasa bersalah ngomongin masalah tadi ke kamu. Santai aja. Kalo lagi dapet ujian, siapa coba yang megang kunci jawabannya?" tanyanya ketika aku menyerahkan helm.

SHAF ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang