Kaki Yang Terkilir

352 20 0
                                        

"Apakah ide itu akan berhasil?"
"Aku yakin berhasil. Aku berencana untuk melakukan ini, namun selalu ada saja hambatan"
"Benar benar persiapan yang matang"
"Hehehe... Ide yang bagus" ujar salah satu dari ketiga orang tersebut.
Salah seorang anggota klub basket tak sengaja mendengar apa yang tiga orang itu bicarakan. Mereka merencanakan sebuah rencana untuk membuat ketua klub basket malu. Orang yang mendengar rencana dari tiga orang tersebut berdiri dan menyandarkan punggungnya di sebuah pohon rindang yg tak jauh dari tempat tiga orang itu. Orang itu memikirkan sesuatu tentang rencana yang ia dengar. Tak lama, kaki orang itu mendekati tiga orang yang masih berdiskusi tersebut.
"Apa yang kalian bicarakan disini? Bukankah kalian sekarang seharusnya latihan basket?" Kata orang itu pura pura tidak tahu.
Ketiga orang itu tampak terkejut dengan kehadiran orang itu. "Aku tak peduli dengan yang ketua katakan. Dan jangan ikut campur" kata orang yg tampak lebih tinggi diantara tiga orang itu, Josh Forklyn.
Orang itu tersenyum melihat tiga orang itu. "Ya ampun.. apakah kalian membenci senior John?". Tiga orang itu mengangguk dengan terpaksa. "Jadi, apakah aku boleh mengikuti apa yang kalian bicarakan?"
Tiga orang itu tampak terkejut. "Hei, kau.." tanya salah satu dari tiga orang itu. "Apa tujuanmu untuk mengikuti rencana kita...?"
Orang itu tersenyum licik. "Aku ingin membuktikan sesuatu. Selain itu.. " jeda orang itu. "Aku juga membenci ketua klub basket ini"
Tiga orang itu semakin terkejut dan tak percaya. "Jangan bercanda kau.." kata Josh tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Orang itu tersenyum licik. Melihat senyum itu, Josh menjadi berubah serius. "Baiklah kalau begitu..."
"...Gin"
***
John tengah men-dribble bola basket menuju ring. Setetes keringat menuruni pelipis kiri John, yang menunjukkan keseriusannya dalam permainan bola basket. Beberapa anakan rambutnya basah akibat keringatnya. Sepatunya berdecit setiap John mengubah arah pergerakannya. Dan sorak sorai yang menyebutkan nama 'John' semakin riuh. Entah mengapa, sepertinya gadis gadis dari kelasnya ikut mendukungnya sesuai perkataan Marie. John pun mulai melompat dan memasukkan bola ke dalam ring dengan mulus. Para gadis berteriak senang.
John mengusap peluh di dahinya. Dan salah satu tangannya memegang handuk yang ia siapkan untuk menghapus peluh di leher dan rambutnya.
Marie dan beberapa gadis dari kelasnya mendekatinya. "Permainan yang bagus, John. Semangat untuk lombanya ya?" Kata Marie menyemangati.
"Terima kasih, Marie. Atas ucapan semangatnya" balas John tersenyum. Katty yang ada di sebelah Marie mengulurkan sebotol P*cari Sweat ke arah John. "Apa ini?? Untukku?" Tanya John dan Katty mengangguk malu malu. "Terima kasih" John tersenyum.
"Jaga kesehatan ya, John. Kasihan nanti kelompokmu kalau kamu sakit atau terkilir saat menjelang lomba." Kata Jemima dengan lagak tomboy-nya. John mengangguk.
John dan gadis gadis dari kelasnya berbincang bincang sejenak, hingga Gin menggoda John dari belakang. "Senior, sekarang waktunya latihan, bukan waktu untuk fokus ke pacar." Muka John memerah. Begitu pula muka Marie dan Katty (kecuali Jemima, karena dia tomboy).
"Apa yang barusan kamu katakan, Gin?" Tanya John masih dengan muka yang memerah. "Aku belum punya pacar tau" John mengalihkan pandangannya karena ucapan Gin. Ia mengatur ekspresinya agar tampak tenang. Mendengar ucapan John barusan, mata Marie dan Katty tampak berbinar binar.
"Eehh?!, Apakah itu benar?? Lalu, siapa mereka?" Tanya Gin menunjuk Marie, Katty, dan Jemima.
"Mereka hanya teman sekelasku saja. Jangan terlalu cepat untuk memutuskan bahwa aku punya pacar, okay?" Jawab John. Marie dan Katty tampak lesu mendengarnya.
Gin terdiam sejenak sambil menatap teman sekelas John. "Jadi... Apa senior memiliki orang yang disukai?"
Mata John terbelalak, bersamaan dengan memerahnya wajahnya. Ia cukup terkejut mendapati Gin dengan beraninya menanyakan hal tersebut. Dengan perlahan, John menarik napas dan membuangnya. "Ada" Marie dan Katty terkejut dengan jawaban dari John. Mereka tak menyangka bahwa selama ini John memiliki seseorang yang disukainya. "Tapi, sepertinya dia sekarang tak ada disini" lanjut John.
Gin terkejut dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. "Tak kusangka. Kukira senior tak lagi menyukai seseorang" kata Gin yang seolah olah mencerminkan isi hati Marie dan Katty. John menghela napas, berbalik, dan berjalan ke lapangan.
"Sudah sudah, kita harus latihan" kata John sembari mengelus kasar rambut Gin ketika melewatinya. "Ayo semuanya. Kita berlatih tanding 4 lawan 4 untuk pemanasan kalian. Gin, kau ingin berkelompok denganku?"
Gin terdiam sejenak sembari menatap John. "Aku ingin menunjukkan kemampuanku dengan bertanding melawan senior" Gin pun membentuk kelompok dengan Josh, Ron, dan Luke. Tiga orang yang merencanakan rencana licik kepada John. Kedua kelompok itu pun menyusun strategi.
Pertandingan dimulai. John dengan cepat merebut bola basket dari lawan. Ia pun menggiring bola itu ke arah ring. Sesekali, John mengoper ke teman sekelompoknya. Kelompok John telah memasukkan bola ke ring dua kali. John benar benar tidak tau, mengapa Ron bermain basket tak jauh dari keranjang yang penuh oleh bola basket.
Posisi John tinggal lima langkah dari ring lawan, ia bersiap siap untuk melompat. Tiba tiba, terdengar suara bising. Keranjang yang berisi bola basket itu, entah mengapa jatuh, dan bola basket tersebar dimana mana. John telah terlanjur melompat dan memasukkan bola ke ring. Namun, betapa sialnya. John yang mendarat, tak mengerti bahwa ada sebuah bola di bawahnya.
'Gubraak...!'
John jatuh dengan posisi kepala terbentur terbelah dahulu. Kakinya yang tak sengaja mendarat di atas bola, tergelincir. Pergelangan kakinya terasa nyeri. Kepalanya yang terbentur ia pegang dengan kedua tangannya. Ia kesakitan. John merintih. Sedangkan 3 orang yang merencanakan rencana itu menahan tawa kepuasan di balik punggungnya. Orang yang ikut rencana tiga orang itu tak lain adalah Gin. Gin tak tertawa layaknya tiga orang itu. Gin terdiam. Ada sesuatu yang mengusik batinnya.
Fred, Bill, dan Harry yang sekelompok dengan John langsung menolongnya. Mereka bertiga, dan dibantu oleh beberapa anggota basket lainnya, membopong John menuju UKS secepatnya. John tak mengerti bahwa kecelakaan ini dibuat buat. Hidung John mulai mengeluarkan darah. Mengetahui hal itu, semua orang yang membopongnya jadi mempercepat jalannya.
Gini masih terdiam di tempatnya, membelakangi arah John. Tapi, sebaik baiknya Gin menyembunyikannya, ia tetap tak bisa menyembunyikan semua ekspresinya atas rencananya ini. Tiga orang itu mendekati Gin dari belakang. "Rencana kita berhasil, Gin. Tak kusangka, rencananya lebih baik daripada rencana kita bertiga sebelumnya" kata Ron dengan senyuman kemenangan.
"Iya, kau benar. Tak kusangka, kau yang dekat dengannya pun menghianatinya. John benar benar busuk ya?" Kata Luke kasar.
"Iya kan... Gin..??" Tanya Josh, yang akhirnya membuat Gin membuat pergerakan. Yaitu menarik kerah baju Josh. Gin tak dapat menahan emosinya kali ini. Banyak emosi yang tersirat di wajahnya yang kini mengancam Josh.
"Kenapa kau tak mendengarkan perkataan ku tadi..?!" Gin memberikan tatapan amarah kepada Josh yang kini mulai ketakutan. "Bukankah aku sudah bilang agar rencana ini dibatalkan saja?!" Gin melempar Josh ke lantai. Dengan niatan tak ingin mendengarkan ucapan mereka bertiga lagi, Gin berlari menyusul John yang dibawa ke UKS. Ia ingin mengatakan sebuah pengakuan.
***
Piket hari ini, dilakukan oleh Feyla dan Bill. Namun, karena Bill ada latihan untuk lomba klubnya, Feyla membiarkan Bill untuk meninggalkan piketnya kali ini. Bill berterima kasih, dan berjanji akan memberikan sebuah cookies coklat untuk imbalannya.
Feyla menghapus papan tulis yang penuh kapur itu secara perlahan, agar hasilnya tampak lebih menjanjikan. Setelah ia membersihkan papan tulis, ia merapikan meja guru yang ada di depan kelas, lalu menyapu, kemudian membuang sampah ke tempatnya. Ketika ia melewati lorong kelas 2-F, ia mendengar keributan. Kelas 2-F dekat dengan UKS. Ia melihat banyaknya kerumunan di depan UKS. Ia tak mempedulikan hal itu karena tak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
"Eh? Jadi dia jatuh karena rencana orang lain gitu??"
"Itu cuma tebakanku saja. Karena, John kan hampir dibenci semua juniornya di klub basket"
Langkah Feyla terhenti mendengar pembicaraan barusan. Ia meletakkan sampah yang ia bawa ke lantai, dan meluruskan lengannya ke arah kerumunan itu dengan santai. Dan tiba tiba, kerumunan itu bubar. Semua orang berpencar ke arahnya masing masing, dan ekspresi orang orang itu tampak seperti tak mengalami apa apa.
"Kau mau makan di kantin?"
"Ya"
"Kalau begitu aku ikut"
"Latihan kali ini capek banget ya?"
"Ya iyalah, bentar lagi kan lomba"
Feyla memasuki ruang UKS. Ia melihat pengurus UKS sibuk dengan kaki John yang mulai berwarna keunguan. Feyla mengulurkan tangannya ke arah pengurus UKS lalu ke arah pintu. Seakan akan menyuruhnya keluar tanpa basa basi. Pengurus itu pun keluar tanpa berkata apa apa. Balutan perban yang hendak di balutnya di pergelangan kaki John pun dibiarkan olehnya. Kini hanya ada Feyla dan John yang berbaring kesakitan di dalam ruang UKS itu. Pintu ruang UKS pun tiba tiba tertutup keras.
Feyla mengambil tempat duduk di sebelah kasur John sekaligus membelakangi jendela. John masih merintih pelan. Perlahan tatapan Feyla menatap ke arah pergelangan kaki John yang terkilir. Ia melanjutkan balutan pengurus UKS itu. Dengan perlahan dan pasti, tangannya membalut perban di pergelangan kaki John. Feyla tak menampilkan ekspresi atau emosi apapun.
Tak lama kemudian pintu UKS terbuka keras dan menampakkan sosok seseorang yang membukanya. Dia adalah Gin. Dengan napasnya yang terengah-engah usai berlari dari lapangan ke dalam UKS. Gin berdiri di sisi lain kasur yang John tempati. Gin tak menangis, ia hanya tampak menyesal. Tak seharusnya seorang laki laki meneteskan air mata. Kepala Gin tertunduk. "Maaf, senior. Maafkan aku" kata Gin lirih. Feyla melirik Gin dengan sudut matanya. "Aku telah melakukan kesalahan kepadamu kak John. Maafkan aku. Aku sengaja melakukannya, maafkan aku. Aku menyesal telah merencanakannya, maafkan aku. Sekali lagi, maafkan aku" Gin menggenggam erat kasur itu, dengan tujuan dapat menghentikan air matanya yang hampir menetes.
Feyla memejamkan kedua matanya. Mungkin ia sedang berpikir apa yang telah terjadi, sampai sampai Gin meminta maaf seperti itu.
"Ah, maaf.." kata Gin yang membuat pikiran Feyla membuyar dan kedua matanya terbuka. "Kamu masih ada disini ya? Lupakan apa yang aku katakan barusan. Siapa namamu? Kamu siapanya kak John?" Tanya Gin untuk menenangkan emosinya sementara. Feyla terdiam sejenak.
"Apa yang baru saja terjadi tadi?" Tanya Feyla mengabaikan pertanyaan Gin.
"Tadi?? Yang menimpa kak John?" Kata Gin dan Feyla mengangguk. Gin memberikan sebuah jeda sebelum menceritakannya. "Baru saja kak John tergelincir oleh bola basket yang berserakan di lapangan. Ini semua salahku. Aku memberitahukan rencana busuk ini kepada tiga orang yang membenci kak John."
Feyla menatap tajam Gin dari sudut matanya. "Atas tujuan apa kau memberitahukannya?" Tanya Feyla menginterogasi.
Gin terdiam. Ia menatap wajah John yang merintih pelan. "Tujuan ya? Kurasa aku membenci kak John" jawab Gin lirih. "Ia selalu berbuat baik kepada semua orang. Entah junior atau senior, ia tetap berbaik hati, tanpa memikirkan ada seseorang yang membencinya. Ia selalu mendapatkan banyak perhatian dan dukungan. Dia selalu ceria. Sesekali, aku ingin melihatnya terpuruk dalam kesedihan. Aku ingin melihatnya seperti itu. Tak adil rasanya bila hanya dia saja yang bersikap positif. Aku iri kepadanya. Tapi kenapa, saat aku telah memberitahukan rencana ku kepada tiga orang itu. Ketika aku sudah memantapkan hatiku untuk melaksanakan rencana itu. Dia berbuat baik dan meruntuhkan niatku. Aku merasa malu kepada diriku sendiri. Rasanya aku tak sanggup menatap mukanya. Aku seorang pengecut, dan tak lebih dari itu" jelas Gin panjang lebar. Feyla mencermati penjelasan Gin.
"Gin" kata Feyla lalu berdiri. Gin menatap Feyla. Gin sangat ingin tau bagaimana dia mengetahui namanya. Tangan kanan Feyla terangkat dan menampar Gin keras. Gin menerima kenyataan itu. Feyla menarik rambut Gin. "Jika orang sepertimu bisa hidup di dunia ini, bukankah lebih baik kau mati dan menggantikanku?" Feyla menatap tajam ke arah mata Gin. Gin terkejut sekaligus takut. Namun ia berusaha tetap tegar. Ia merasa curiga dengan kata terakhir Feyla.
"Hentikan... Jangan sakiti temanku..." Rintihan John tak sadar. Feyla melirik sekilas John lalu melepaskan tangannya yang menarik rambut Gin.
"Lebih baik kita selesaikan masalah ini baik baik" kata Feyla duduk sambil memejamkan kedua matanya. Gin masih menatap Feyla.
"Ada yang ingin kutanyakan" kata Gin lalu dibalas anggukan dari Feyla. "Kau.. siapa namamu? Dan.. siapa kau yang sebenarnya?"

***

Mysterious Girl [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang