Bab 5: Trauma

202 16 0
                                        

Leo hanya melihat seorang gadis yang tinggal di sebuah keluarga yang cukup sederhana. Tiap hari kehidupannya sama saja, tidak ada perubahan. Dia merupakan anak tunggal di keluarga itu, tidak punya saudara untuk bermain bahkan dia tidak mempunyai teman sama sekali. Hal ini menyebabkan dia jarang bergaul dengan dunia luar.

Suatu hari, ketika ia memutuskan untuk bermain-main sendiri di hutan, ia melihat ada 2 orang yang memakai jubah berwarna hitam sedang mencari sesuatu entah apa. Gadis itu memutuskan untuk mengekori mereka, sehingga mereka berdua menyadari dengan kehadiran gadis itu dan mereka berdua kelihatan sangat marah sehingga menyeretnya ke suatu tempat sangat asing sekali/ dikenal sebagai dunia Fantasy. Mereka membentak dan memaksa gadis itu sehingga ia mau membuka mulut untuk menjelaskan tujuannya yang mengekori mereka dari tadi.

Sepertinya mereka berdua mendapat isyarat dan segera menganggukkan kepala serentak. Sebelum pergi mereka membawa Lycra sekali, kemudian membuangnya ke dalam hutan terlarang. 

Leo hanya melihat, Lycra dikejar oleh binatang buas di dalam hutan terlarang itu. Sehingga dia bertemu dengannya.

Lanjut cerita, apabila Lycra berlalu pergi meninggalkan Leo dan Iqbal, ia sempat menangis seketika.

Disaat itu, Leo terdiam merasa bersalah padanya, dia menyesal membiarkan Lycra berlalu pergi begitu saja waktu itu.

Waktu malam pun tiba, Leo melihat Lycra yang sedang meringkuk ketakukan sambil berteriak histeris sepanjang malam itu.

Perasaan bersalah tambah menyelubungi hatinya...

Teriak demi teriakkannya telah menyadarkan Leo bahwa ia adalah gadis lemah yang perlu dilindungi, bukan ditinggalin begitu saja dalam ketakutannya.

Saat itu juga, Leo berjanji akan melindungi gadis itu sepanjang waktu dan tidak akan membiarkannya dalam ketakutan lagi.

Dan ia pun melihat memori Lycra yang sedang tertidur pulas, tiba-tiba datang seekor ular berbisa dan mematuknya saat itu juga.

Itu saja memori Lycra...
.

"Maaf." Kata itu terucap sendiri dari mulut Leo. Ia menatap lekat wajah Lycra kemudian tersenyum kecut.

Selang beberapa menit, ia meringis pelan petanda bahwa ia telah sadar.

"Auw! Eh kamu?" Lycra terperanjat ketika menyadari Leo berada tepat di samping kirinya.

"Hn." Leo menjauh dari Lycra. Ia menyandarkan pungungnya di batang pohon yang berdekatan.

Lycra seperti menyadari sesuatu. Buru-buru ia melihat lengan kirinya namun tidak ada apa-apa. Ia menghela nafas lega. "Terima kasih telah meolongku lagi." Lycra menatap Leo dengan senyum lebarnya.

"Kau berhutang nyawa padaku!" Jeda. "Kapan kau akan membayarnya hn?" Leo mengangkat sebelah alisnya. Sudut bibirnya terangkat sedikit.

"Erkk... ni orang nolongnya tapi tidak ikhlas," batin Lycra seraya mengepalkan tangan kananya.

"Kenapa? Tidak sanggup membayarnya huh?" remehnya.

"Cih! Kita lihat saja nanti, suatu hari aku pasti akan membayarnya. Bahkan lebih dari yang kau lakukan," ujar Lycra dengan semangat yang berkobar-kobar.

"Dan aku pasti akan menunggu hari itu." Leo menyeringai sinis, yang di balas tatapan kesal dari Lycra.

kriuukkkkkkk

kriukkkkkkkk

Duhh ni perut buat malu aja

"Hrmm Kak, aku lapar nih hehehe." Lycra menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil  cengengesan.

Fantasy World: Seven ChallengesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang