"Kita sebenarnya mau ke mana?"
"Ikut saja."
Lycra memutar bola matanya malas. "Akhir-akhir ini, sepertinya aku sering merasa kesal."
"Huftt!" Lycra membuang nafas lelah. Kulitnya terlihat agak pucat selama dalam perjalanan yang entah ke mana ini.
"Aku lelah!" gumam Lycra pelan. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tetap bertahan. Jika tidak, bisa dipastikan ia akan segera jatuh dari kuda.
"Seandainya aku cuma sendiri, aku bisa menggunakan teleportasi."
Lycra melirik sosok di di depannya, "Alferd..."
"Sebentar lagi," balasnya seakan tahu apa yang ingin ditanyakan Lycra barusan.
"......."
Tiba-tiba, Alferd merasa ada sesuatu yang salah. Segera ia menghentikan kudanya kemudian berbalik menghadap Lycra.
Hening.
"Lycra?"
"Hei jangan main-main. Ini tidak lucu."
Pangeran dari kerajaan Elforest itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Namun tidak juga menemukan keberadaan sosok gadis yang ia cari.
"Hmpphh!!!"
Lycra berusaha berteriak sekencang mungkin. Namun mulutnya kini disumpal kain entah sejak kapan.
"Kenapa aku selalu diculik semenjak tiba di dunia ini?"
"Shushh... Diamlah!" sesosok makhluk kerdil mengancam Lycra untuk tetap diam.
"Ah, sialan!" umpat Lycra dalam hati.
"Aku diancam sama anak kecil. Ini memalukan!"
Lycra diseret menuju ke sebuah goa yang tidak jauh dari tempat ia diculik. Di sana, terdapat banyak sekali segerombolan makhluk kerdil yang sangat imut.
Tunggu dulu. Apakah itu... Dwarf?
"Cepat. Tanggalkan semua barang berharganya!"
Dwarf yang sepertinya merupakan pemimpin, segera memerintahkan anak buahnya untuk merampok barang-barang berharga Lycra.
Padahal Lycra sama sekali tidak membawa satupun barang berharga. Kecuali...
"Tuan. Kami hanya menemukan lima keping perak."
... sisa uang belanjanya tadi di kota Elf.
"Hanya itu?"
"Ya tuan.
"Tidak berguna. Buang saja gadis itu ke laut!" perintah pemimpin dwarf merasa sedikit kecewa.
"Baik, Tuan."
Tanpa menunggu perintah dua kali, kelima dwarf itupun menyeret Lycra masuk lebih dalam ke dalam goa.
Ternyata dalam goa ini sangat dingin.
Baru saja mereka bersiap mendorong Lycra ke dalam tebing, tiba-tiba saja kepala mereka semua terpisah dari tempatnya.
Sringgg!
"Maaf Nona, kami terlambat."
Dua sosok berjubah hitam berlutut hormat ke arah Lycra yang masih terduduk dalam keaadaan terikat.
"Pergilah! Jangan sampai ketahuan," balas Lycra menggunakan telepati karena mulutnya masih dibungkam.
"Baik, Nona." Merekapun segera menghilang bertepatan dengan kedatangan Alferd dengan raut cemas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fantasy World: Seven Challenges
FantasySemenjak Lycra hampir mati akibat ulah seekor serangga, ia bertemu dengan sosok misterius yang ia duga bukan berasal dari dunia manusia. Akibat rasa penasarannya sangat besar, ia memutuskan untuk pergi ke dunia Fantasi semata-mata hanya untuk mencar...
