Bab 19: Peace

216 4 0
                                        

Sringgg!

"Jenderal Garch?" Lycra mengedipkan matanya bingung.

"Kamu... apa yang kamu lakukan!" ratu Nerlysh menatap jenderal Garch dengan tatapan sedih dan kecewa.

"Maafkan hamba Yang Mulia..." bisik jenderal Garch dengan bibir bergetar. Ia bahkan tidak menyangka telah melakukan hal memalukan seperti ini.

Tangan jenderal Garch kini berlumuran darah. Bukan darah orc maupun darahnya, melainkan darah ratu Nerlysh yang ia tikam tepat di dadanya sebelum raja Orc mengayunkan senjatanya ke arah ratu Nerlysh tadi.

"Kerja bagus," puji raja Orc merasa puas.

"Terima masih Yang Mulia."

"Penghianat!" teriak salah satu tetua yang sudah sadar dari syoknya barusan. "Dasar penghianat!" teriaknya lagi penuh amarah.

"Penghianat!"

"Penghianat!"

Jenderal Garch tidak memperdulikan semua teriakkan mereka. Ia menarik pedangnya dari dada ratu Nerlysh kemudian berjalan menghampiri raja Orc.

"Garch..." lirih ratu Nerlysh menahan rasa sakit.

"Yang Mulia." Jenderal Garch berlutut di hadapan raja Orc sambil menunduk hormat.

"Bagaimana?" tanya raja Orc tidak sabaran.

Jenderal Garch tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya kemudian menyerahkannya kepada raja Orc yang mulai tertawa puas.

"Itu..." gumam Lycra senang bercampur cemas.

"Hahaha! Setelah ribuan tahun menanti, aku akhirnya mendapatkan batu kristal Greenchroust!"

"Mengapa?" bisik ratu Nerlysh menahan rasa sesak di dadanya. Rasa yang lebih sakit dibandingkan tusukan pedang yang diberikan oleh jenderal Garch barusan.

"Yang Mulia." Lycra berlari kecil menghampiri ratu Nerlysh. Segera ia membantu sang ratu duduk bersandar di salah satu pohon terdekat.

Ratu Nerlysh memejamkan mata sejenak. Cahaya emerald tiba-tiba muncul mengelilinginya. Luka-luka sayatan serta tusukan di tubuhnya pun perlahan mulai menghilang sepenuhnya.

"Hebat!" Lycra berdecak kagum.

Ratu Nerlysh membuka mata lagi. "Lycra..."

"Ya?" Lycra menatap sang ratu dengan raut bingung.

"Pergilah..." titahnya dengan sangat tegas.

"Tapi..."

"PERGI!" ratu Nerlysh memegang pundak Lycra, "Jauhi kerajaan ini!" lanjutnya sambil memohon.

Lycra tersenyum miris, "TIDAK!" tolaknya tegas.

"Kamu..."

"Maaf Yang Mulia. Tapi aku tidak bisa meninggalkan kalian seperti ini."

Ratu Nerlysh terkekeh pelan. "Terserah..." bisiknya tersenyum tipis.

Roarrrgghh!!!

Dari atas langit, terdapat banyak sekali makhluk tipe terbang yang ditunggangi oleh masing-masing satu orc.

Langit sepenuhnya ditutupi oleh mereka. Membuat langit yang semula gelap bertambah gelap disertai pekikan nyaring dari makhluk aneh yang menjadi tunggangan para orc.

Raja Orc menyeringai puas. Ia menatap batu kristal Greenchroust di tangannya dengan tatapan rakus seolah-olah ia telah menjadi penguasa seluruh dunia.

Jenderal Garch tetap diam di tempat. Namun matanya sedikit melirik ke arah ratu Nerlysh dan Lycra berada. Walau wajahnya tetap datar, namun sorot matanya mengandung jejak penyesalan.

DUMMM!!!

Langit seolah bergetar.

Raja Orc yang sibuk mengagumi batu kristal Greenchroust pun segera mendongakkan kepalanya ke atas.

Batu raksasa yang sengaja dijatuhkan oleh para orc dari langit menghantam kubah pelindung transparan. Bunyi detuman keras terus bergema memekakkan telinga.

Banyak rakyat kerajaan Elforest yang berteriak histeris melihat betapa banyaknya batu yang dijatuhkan. Orc yang hendak terbang turun juga ikut hancur saat menyentuh kubah.

Raja Orc, ratu Nerlysh, pangeran Alferd dan beberapa petinggi kerajaan Elforest ikut tertegun sejenak.

"Siapa?" bisik ratu Nerlysh bingung sekaligus penasaran.

Sedangkan raja Orc sudah mengumpat dalam hati begitu melihat anak-anak buahnya gagal menembus kubah.

Sring!!!

Dengan secepat kilat, Lycra merebut batu kristal Greenchroust dari tangan raja Orc sewaktu perhatiannya teralih.

Buru-buru ia menyimpan batu kristal tersebut ke dalam sebuah bola kristal bening yang pernah digunakan Jeasy sewaktu mengambil alih tubuhnya dulu.

"Tadi... kalian ingin membuat perjanjian perdamaiankan?" tanya Lycra tiba-tiba.

Semua mata tertuju ke arahnya. "Betul kata raja Orc, sebaiknya Yang Mulia ratu terima saja tawarannya."

Ratu Nerlysh mengernyit bingung, "Lycra apa yang..."

"Mati atau menyerah?" Lycra menatap raja Orc tegas.

"Apa maksudmu?"

"Mati atau menyerah?" ulang Lycra dengan sabar.

"Hahaha! Dasar bocah..." ucapan raja Orc terpotong begitu menyadari batu kristal Greenchroust di tangannya tadi tiba-tiba saja menghilang.

"Kamu! Apa yang kamu lakukan?"

"Aku?" Lycra pura-pura bingung. "Aku tidak melakukan apa-apa," lanjutnya polos.

"Di mana batunya!" raja Orc mulai panik. Ia menarik kerah jenderal Garch menuntut batu kristal kembali.

"Yang Mulia saya..."

Cresss!

Kepala jenderal Garch mengelinding bebas di tanah dengan raut terkejut. Sedangkan raja Orc tampak tidak peduli sama sekali.

"Kamu..." raja Orc menundingkan jarinya ke arah Lycra.

DUARRRR!!!

Detuman keras alhasil membuat semuanya mendongak ke atas langit.

Para orc yang menunggang beberapa makhluk tipe terbang untuk menyerang kastil, kini telah lenyap tanpa sisa bahkan abu sekalipun.

Semua melotot tidak percaya kecuali Lycra yang memang dalang di balik ini semua.

"Mati atau menyerah?" tanya Lycra lagi untuk yang ketiga kalinya.

Semua mata beralih menatap Lycra ngeri sekaligus takjub.

"Kamu..." ratu Nerlysh tersenyum kecil. Dari awal ia sudah menduga kalau Lycra, bukanlah manusia biasa.

Raja Orc terpojok. Ia mengeram marah kemudian menggunakan kekuatannya untuk menggali tanah. Seringaian di bibirnya lenyap begitu saja ketika ia terpental keluar sebelum berhasil kabur dari dalam kubah.

"Ingin kabur, huh?" ratu Nerlysh menyeringai sinis.

Lycra membuang nafas pelan, "Selesaikan urusan kalian. Aku ingin istirahat." Tanpa menunggu respon, Lycra berlalu pergi meninggalkan mereka semua.
.

Dari jauh, Lycra melirik pangeran Alferd yang berdiri mematung di luar kubah. Tatapannya tampak kosong kebingungan.

"Apa yang terjadi?"

Lycra mengangkat sebelah alisnya bingung. "Apanya?"

Pangeran Alferd menunjuk kubah di belakang Lycra. "Kamu yang membuatnya?"

Lycra mengangkat kedua bahu, "Mungkin..." akunya sedikit enggan.

"Lalu..."

"Sudah selesai. Aku mau istirahat." Lycra menguap pelan sambil berlalu pergi mengabaikan pangeran Alferd yang masih bengong.

"Dasar!"
.
.
.

Fantasy World: Seven ChallengesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang