Bab 22: Helpless

194 4 0
                                        

Lycra larut dalam pikirannya. "Siapa tadi?"

Lycra mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. "Wajahnya tertutup jubah. Tapi... kenapa dia menatapku seperti itu?"

Knock

Knock

Bunyi ketukan pintu menyadarkan Lycra dari lamunannya. "Masuklah."

Alferd melangkah masuk begitu mendapat ijin. "Bersiaplah. Besok kita akan ke suatu tempat."

"Oke."

Alferd terdiam. Karena biasanya Lycra pasti akan menanyakan tujuan dan alasan setiap kali ia mengajaknya keluar. Tapi ini...

"Ada apa?"

"Hn?" Lycra menaikkan sebelah alisnya bingung.

"Tidak ada." Alferd pun berjalan keluar tanpa pamit terlebih daluhu.

"Dia kenapa?" Lycra mengedikkan bahu. "Bukan urusanku."

Dikarenakan sudah hampir larut, Lycra memutuskan untuk segera tidur setelah mematikan lilin yang menerangi ruangan kamarnya.

"Ibu..."

"Kumohon jangan pergi!"

"Jangan meninggalkanku..."

Seorang bocah 10 tahun memegang erat kedua lengan seorang wanita yang terbaring tak berdaya di atas ranjang. Matanya sayu melihat bocah dihadapannya terus saja menangis keras.

"Jangan seperti itu, sayang."

Dengan sekuat tenaga, wanita itu mengangkat tangan kanannya kemudian mengusap lembut puncak kepala bocah yang masih menatapnya dengan air mata berlinang.

"Ibu..."

"Kenapa ibu melakukan hal ini?"

"Kenapa harus ibu?"

Bocah itu meraung lagi. Ia mengalihkan pandangannya ke arah sosok yang telah membuat ibunya sekarat dengan penuh kebencian.

"Janji satu hal..."

Lycra mengerjapkan mata begitu cahaya matahari merembes masuk menerpa wajahnya.

"Uh!" Lycra menggunakan punggung tangan kirinya untuk menghalangi cahaya matahari yang sangat silau.

Walaupun ia berada di dasar laut. Sepertinya cahaya matahari masih bisa menembus kedalaman laut. Ah! tentu saja. Inikan dunia yang hal mustahil juga pasti bisa dilakukan.

"Bangun juga ternyata."

Lycra menolehkan kepalanya ke arah pintu. Di sana, Alferd berdiri santai dengan tangan menyilang dada.

"Bersiaplah. Kita akan ke festival nanti."

"Oke." Lycra yang masih linglung mengangguk pelan kemudian segera bersiap-siap.

Ternyata ada baiknya juga memiliki seseorang yang menemaninya mengembara. Jadi tidak perlulah ia harus repot-repot lagi menyesuaikan diri di setiap situasi ketika mengunjungi suatu tempat asing.

Lycra menguap pelan. Matanya masih tertutup rapat sambil mengikuti Alferd dari belakang.

Hampir saja ia menabrak seseorang jika saja Alferd tidak segera menariknya ke samping.

"Hei bangun!"

Alferd mengguncang bahu Lycra. Namun gadis itu hanya membuka matanya sedikit kemudian menutupnya lagi.

Setelah mereka tiba di tempat tujuan pun, Lycra masih juga menutup mata. Ia memegang erat jubah Alferd di sampingnya agar tidak jatuh ketika kesadarannya benar-benar menghilang.

Fantasy World: Seven ChallengesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang