"Ran, kamu harus lebih perhatiin Jingga lagi, jangan sampai lengah, di masa remajanya sekarang ini banyak pengaruh berdatangan."
"Memangnya kenapa, Ma? Kok tiba-tiba Mama ngomong gitu."
"Itu, tadi Jingga ke rumah Mama diantar sama lelaki dewasa berseragam polisi, Jingga memperkenalkan dia sebagai teman, Mama jadi kepikiran loh."
"Maksud Mama? Te-terus Jingga-nya masih di sana Ma?"
"Nggak, udah pergi bawa Kiyo, kalau mereka masih di sini mana mungkin Mama bisa nelfon," jawab Tania dari seberang telfon,"pokoknya kamu kudu jeli, jaga anak perempuan susah-susah gampang, emang kamu mau cepet-cepet punya mantu?"
"Ih Mama, masa gitu sih, Jingga kan masih sekolah."
"Iya, makanya Mama hanya bisa ingetin, ya udah telfonnya Mama tutup ya, mau lanjutin masak sayurnya, Assalamualaikum!"
"Iya Ma, waalaikumusalam."
Dengan perasaan cemas Kirana menggigit kukunya. Kabar dari ibu mertua membuat ia berpikir keras mengenai putri sulungnya itu. Menaruh ponsel dari genggaman ke atas meja, ia berjalan menuju jendela yang langsung mengarah ke halaman rumah, di balik pagar besi ada jalan di mana orang-orang berlalu lalang dengan berbagai kendaraan.
Kirana semakin nggak tenang, ia menyibak tirai jendela lebih lebar lagi. berulang kali matanya melihat kearah jam di dinding. Jika benar perkataan ibu mertuanya, pasti Jingga diantar sampai depan.
Semakin lama menunggu pikirannya makin terbang ke mana-mana. Menghela nafas, Kirana kembali ke meja dimana ia meletakan ponsel. Menyalakan dan langsung menghubungi seseorang.
"Assalamualaikum, sayang?" suara berat dari seberang yang terdengar cukup girang.
"Waalaikumusalam, Bang Yo, pulangnya masih lama nggak?"
"Sebelum isya mungkin."
"Mmn, gitu," Kirana tampak berpikir lama.
"Kenapa? Ada masalah?"
"Nanti aja deh aku ceritain kalau Abang dah di rumah."
"Kok kedengarannya kuatir banget, ada apa?"
"Tentang Jingga."
"Jingga kenapa Sayang?"
"Tadi Mama nelf—eh!"
Kirana terpaksa menghentikan ucapannya ketika ia melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang. Hatinya berkata mungkin itu Jingga. Setelah pamit pada sang suami untuk mematikan ponsel. Ia mengintip dari balik jendela dengan penasaran. Terlihat jelas di dalam mobil jeep hitam putri sulungnya sedang mengobrol dengan pemilik mobil.
Cukup lama, sosok Jingga mulai terlihat sedang berusaha membuka kunci gerbang. Masih diposisi yang sama, Kirana kembali berperang dengan pikirannya. Apa yang harus ia lakukan. Apa dirinya keluar dan memilih marah, melemparkan deretan pertanyaan? Atau dia harus pura-pura tidak tahu?
Duh! Meski begitu, ia harus keluar dulu menyambut kedatangan kedua putrinya. Apa lagi ia melihat Jingga begitu kesusahan membopong putri bungsunya yang tampak tertidur lelap.
Kirana sudah duluan membuka pintu membuat Jingga sedikit terkejut, ia bersegera mengambil alih Kiyo dari Jingga.
"Udah pulang, nggak papa di jalan?" tanyanya.
"Nggak papa Bun," jawab Jingga "Aduh, pegel!" gumam Jingga kecapean menggerakan kedua lengannya ke depan belakang.
"Maaf ya, Bunda jadi nyusahin Kakak buat jemput adek."
KAMU SEDANG MEMBACA
Yes, I'm JINGGA
Teen FictionCover by @Lilinbening '''"Aku gak mau jadi adik, Bapak!"''' Zyan meangkat alisnya sebelah. "Lalu?" "Aku mau bapak melihat aku sebagai seorang wanita, bukan adik." Zyan tertegun. Memandang lekat pada Jingga, seorang gadis muda berseragam SMA, sedan...
