Curang

9.4K 558 20
                                        

Cinta itu tidak sopan

Dia datang tanpa diminta.

Tapi, mampu menggetarkan hati yang tadinya beku.

Aku hanya remaja yang dulunya tidak tahu apa itu cinta,

Sampai ketika kamu hadir mengusik sebuah ketenangan jiwa.

Mengusik kedamaian. Dan hanya menyisihkan sebuah rindu.

Curang!

Hei, apa kamu tahu aku di sini mengakui.

Bahwa, aku sedang jatuh cinta untuk kesekian kali.

Boleh aku meminta izin untuk meruntuhkan dinding pemisah itu? Supaya kita bisa bersatu.

Jingga menyunggingkan senyum ketika karya pertamanya menulis puisi selesai. Berulang kali ia baca dengan penuh penjiwaan. Berulang kali juga bibir mungilnya menciptakan garis melengkung yang cantik.

Jingga menutup buku itu. Dan menarik nafas lega. Karena sudah mencurahkan isi hatinya ke sana.
Ia melangkah menaiki tempat tidur. Merebahkan diri dan tidak lupa memeluk Nyownyow. Teman tidurnya yang setia.

Sebelum memejamkan mata untuk datang ke alam mimpi. Dan bangun dengan segar saat mentari pagi menyambut. Ia berucap sebuah kalimat.

"Selamat malam love, semoga mimpi indah."

Ucapnya sambil tersenyum manis. Membayangkan wajah rupawan Zyan Arfon yang selalu saja berlalu lalang di benaknya.
.
.
.
****

Seperti biasa. Sekolah ramai oleh para murid. Ada yang berlari sana sini, bercanda, ketawa, dan Kejar kejaran, ada juga yang hanya diam melamun sendiri atau pun berdua. Ya, seperti itulah tingkah manusia pada umumnya.

Tidak jauh beda dengan tokoh utama yang di ceritakan di sini. Duduk di pojokkan koridor sekolah. Melamun Sambil menompang dagu. Satu tangannya menggenggam ponsel yang seharian ini begitu menyebalkan baginya. Sudah beberapa kali ia mengirim pesan pada nama yang tertera di sana yaitu 'LOVE'.

Jingga sudah menganti nama spesial untuk Zyan yang dari first love menjadi Love. Katanya biar enak kalau di pangil.

Gadis itu bergumam sendiri. Mengerucutkan bibirnya ke depan. Setelah mengetahui pesan yang ia kirim tadi hanya di read oleh si love.

"Iih, si Bapak ngeselin! apa salahnya di balas satu kata aja, udah cukup kok, ini malah di baca doang, kalau males buat ngebales jangan di baca, biar hati ini gak sakit, tega banget sih!" grutunya kesel pada ponsel.

"Ampun! Jelek banget wajah lo!" sindir Nayla datang dengan membawa beberapa cemilan dan minuman botol dingin. "Nih minum, biar otak lo plong, dan gak gila lagi!" ujarnya cengengesan. Jingga menghela nafas jengah.

"Iya, gue benar-benar sudah gila cuma mikirin satu pria itu!" Jingga berkeluh.

"Makanya jangan di pikirin, biar gak tambah gila!"

Jingga melotot ke arah Nay.
"Gomong mah enak, Gratis!" sewot Jingga. Nayla cikikikan.

Jingga mulai meminum teh dingin botol yang ia genggam. Tetapi matanya kelayapan entah ke mana. Sehingga menemukan tatapan yang tidak bersahabat dari seorang siswi yang sedang berjalan melewatinya.

"Apa lo liat-liat?" gertak Iren padanya. Jingga menggangkat satu alis.

Sensian banget sih ni orang,

Ia mendengus sebel.
"Mata-mata gue, kenapa lo yang sewot!"

Irenia geram. Ia melangkah mendekati Jingga kesel. Dengan gesit pula Nayla menghalanginya.

Yes, I'm JINGGATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang