Berusaha Keras

7.1K 502 6
                                        

Jingga menghentikan langkahnya.  tersenyum ketika retinanya menangkap sosok pria yang ingin ia temui. Pria itu Sedang duduk bersandar di sebuah pohon rindang di taman kecil tempat janjian. Kedua matanya terpejam. Satu kaki terlipat ke atas dan menompang satu tangan sebelah kiri.

Wajah yang tenang itu menunjukan betapa nyaman dirinya di sana. Menikmati semilir angin sejuk. Jingga mulai mendekat dan duduk di depan Zyan memakai kedua lutut sebagai tumpuan.

Mungkin pria itu tidak menyadari kehadirannya. Dari sana Jingga mengambil kesempatan untuk memandangi lekuk wajah Zyan dengan puas.

"Apa dia tertidur?" ia bertanya di hati.

Entah apa yang mendorong hatinya sehingga ia ingin sekali menyentuh wajah itu. Perlahan telapak tangan Jingga, mulai naik dan menempel di bagian rahang yang tertutupi bulu-bulu halus.

Merasa tidak puas dengan satu tangan. Gadis itu menggunakan tangan satunya dan mulai meraba di sisi lain. Senyum mania terukir di bibir merah mudanya. Tidak pernah terpikir olehnya bisa melakukan hal seperti ini. Menyentuh wajah Zyan dalam keadaan sadar.

Deg deg deg

Degupan terus menghujam jantungnya. Jari-jari miliknya terhenti tepat di bibir tebal Zyan mengundang perasaan yang rumit di dada.

Mata Zyan mulai terbuka secara perlahan. Tapi gadis itu belum menyadari. Karena pandangannya tengah fokus pada bagian bibir. Zyan membiarkan Jingga dengan kegiatannya. Ia tidak ingin mengganggu kesenang gadis itu. Sedetik kemudian pandangan mereka bertemu. Sorot mata Zyan menangkap bola mata Jingga yang kian melebar. Menunjukan kekagetan yang besar.

"Eh, u-udah bangun?"

Jingga terduduk di atas rerumputan hijau dan menutup wajah dengan kedua tangan. Mengundang reaksi lucu bagi Zyan.

Zyan meraih telapak tangan Jingga yang sedang tertutup rapat di wajahnya. Dan membuka dengan perlahan. Terlihatlah wajah gadis itu yang memerah bercampur takut.

"Kamu lagi apa?"

"M-maaf, Pak. Aku nggak bakal kayak gitu lagi, janji!"

Zyan masih menggenggam erat kedua telapak tangan Jingga. Dan mengunci tatapan gadis itu. Rasa cemas sangat tersirat di sana. Lagi-lagi Zyan hanya menahan tawa.

"Kamu suka dengan bibir saya?"

Mulut Jingga terbuka. Kaget dengan pertanyaan Zyan. Seandainya, jujur tidak memalukan mungkin ia akan menjawab yang sebenarnya. Tapi itu tidak mungkin.

"Kamu mau mencobanya?" goda Zyan mendorong sedikit wajahnya ke depan. Sontak membuat gadis itu memundurkan tubuhnya kebelakang.

"M-maksud Bapak apa?"

"Kita akan mencobanya, biar kamu engak penasaran."

Jingga memutar isi kepalanya. Mencari maksud ucapan Zyan itu.

"Dalam itungan ke tiga saya akan mencium kamu." Zyan menatap lekat bola mata Jingga. dengan pelan ia mulai bergerak ke depan lalu mulai menghitung dengan suara pelan.

"Satu."

"Dua."

"Ti...."

Jingga semakin terbelalak. Hidung Zyan hampir bertabrakan dengan hidungnya. Lalu dengan cepat ia mendorong dada Zyan sekuat tenaga.

"Berhenti!" pekik Jingga menutup bibirnya dengan tangan. Zyan sunguh tidak mampu lagi menahan tawa dan akhirnya lepas. Ia ketawa ngakak.

"Iih, Bapak genit!" pekik Jingga memukul-mukul dada Zyan.

Yes, I'm JINGGATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang