Hubungan asmara menjadi salah satu bagian hidup manusia. Bertemu dengan orang baru kerap membuat diri merasa memiliki kecocokan satu sama lain. Meskipun terkadang merasa heran apa alasan yang membuat hati itu mudah luluh. Namun kembali dalam kenyataan, bahwa sesuatu yang diinginkan tidak semuanya akan terwujud. Ada pertemuan tentu ada perpisahan.
Merelakan dan melangkah untuk hari yang baru adalah keputusan yang harus di ambil. Meski berat namun itu yang terbaik untuk diri sendiri. Dari pada menghabiskan hari-hari meratapi cinta yang hanya bisa membuat kepala pusing. Memotivasi itu penting dari apapun karena kebahagian untuk diri sendiri kudu diprioritaskan.
Beberapa hari ini Jingga berhasil membuat dirinya menjadi sedikit tegar atas cintanya yang kandas sebelum bersemi. Yah, meski rasa sedih masih menggeluti, tapi ini lebih dari cukup. Patah hati tidak selamanya buruk. Itu kalimat yang selalu Jingga ucapakan sebagai obat supaya bisa melupakan si cinta pertama.
Jika boleh berandai, Jingga ingin lahir lebih dulu dan tidak menyandang status sebagai Siswi SMA. Apa mungkin cintanya dengan pria itu akan mekar seperti bunga di taman. Ah, sudahlah semuanya telah terjadi sesuai alurnya. Hidup itu nggak boleh di bikin rumit.
Di koridor sekolah tepat pukul tujuh pagi. Jingga berjalan dengan langkah senang. Seolah beban pikirannya tertinggal di atas bantal setelah tidur nyenyak dan bangunpun segar bugar. Asik berjalan panggilan dari seseorang membuat Jingga memutar tubuh untuk mencari tahu siapa orang itu.
Siswi berkaca mata yang dipastikan Jingga sangat mengenalinya, karena mereka satu kelas.
"Wila, Elo manggil gue?"
Siswi itu tengah memperbaiki pernafasannya,"Iya, dari gerbang padahal, panggilan gue enggak elo gubris!"
Gadis itu cengengesan merasa tak enak,"Sorry, gue nggak denger."
Ia meanggukkan kepala,"Diluar ada mas-mas yang nyariin elo, Ji. Gue nggak tahu siapa, katanya ada hal darurat yang ingin dia sampaikan."
Jingga sedikit tercengang mendengar itu,"Mas-mas nyariin gue? Kok bisa?"
Dengan entengnya siswi berkaca mata itu memukul pelan lengan Jingga karena kesel,"Jangan tanya ke gue donk, kan udah bilang nggak tau."
Lagi-lagi gadis cantik yang tinggi semampai itu cengengesan,"Udah sana temuin keburu gerbang di tutup."
"Ogah, gue nggak merasa ada janji sama mas-mas," tolak Jingga dan ingin melangkah ke kelas yang mulai dekat.
"Loh kok gitu, gue kan jadi nggak enakan sama mas-masnya, Ji. Tadi suruh dia nungguin di sana."
"Gue nggak kenal sama dia, Wil."
"Gimana mau kenal, elo belum ke sana buat liat orangnya!"
Jingga terdiam sejenak,"Jangan-jangan penculik lagi, Wil. Nggak ah takut gue, sekarang kan marak tindakan kriminal."
"Mana ada penculik kayak artis gitu, mas-masnya ganteng banget, terus dia tahu sama nama lengkap Elo, nggak mungkin lah orang jahat."
Jingga semakin ngeri mendengar penjelasan Wila,"nggak, mending elo samperin lagi orangnya, bilang kalau gue nggak mau, biar dia pergi."
Wila mengeram,"Yaudah kita bareng aja ke sana, kalau dia bener mau nyulik elo, gue bakal patahin lehernya sebelum bawa elo," Wila menyeret lengan Jingga untuk kembali lagi ke pintu gerbang yang mulai sepi dari siswa-siswi. Mencoba menolak pun ia tak bisa. Meski tubuh Wila lebih kecil darinya tapi kekuatannya sangat besar. Karena siswi itu terkenal sebagai atlit Karate yang sudah memperoleh mendali beberapa kali dari pertandingan antar sekolah di Jakarta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Yes, I'm JINGGA
Teen FictionCover by @Lilinbening '''"Aku gak mau jadi adik, Bapak!"''' Zyan meangkat alisnya sebelah. "Lalu?" "Aku mau bapak melihat aku sebagai seorang wanita, bukan adik." Zyan tertegun. Memandang lekat pada Jingga, seorang gadis muda berseragam SMA, sedan...
