"Man, gue kesana. Gue mau bicara hal penting sama Della, pastikan dia nggak tau. Kejutan," ucap Gilang.
"Lo mendadak amat Lang? Ini jam 9 malem," tanya Firman.
"Gausah basa-basi, gue otw sekarang sama yang lain," timpal Gilang lalu menutup telfon nya.
Firman lalu kembali ke tenda setelah izin ke pacarnya, Reisha. Untuk menerima telfon dari Gilang.
"Ada apa?" Tanya Reisha.
"Gak apa-apa Rei," jawab Firman. Reisha kembali bersandar pada bahu Firman sambil memakan camilan. Tak lupa Reisha mengambil ponsel dan mengabadikan momen itu.
"Ya tuhan bagaimana nasib hambamu yang jomblo ini beri saya kekuatan melihat semua inii," rengek Syifa. Semuanya tertawa.
"Yaelah emang Farhan belum ngasih kepastian buat lo Syif?" tanya Kaila.
"Syedihnya jadi sahabat gue ini wkwk!" ledek Aull. Bibir Syifa mengerucut kesal.
Sementara Gilang, ia tetap fokus menyetir sementara teman-temannya mulai terlelap satu persatu. Gilang berusaha untuk tidak mengantuk ditemani kopi yang sebelumnya Gilang buat di rumah.
Gilang sadar bahwa selama ini dia mencintainya, bahkan Gilang baru sadar bahwa Della lebih padanya. Gilang benar-benar membuat Della rapuh. Rasa bersalah menyelimuti nya terus menerus.
Jam menunjukkan pukul 10 malam. Gilang sampai di tempat yang ia tuju. Della yang sadar akan suara mobil tertuju kearah itu. Dilihatnya mobil merah persis punya Gilang. Della nggak peduli, mungkin orang lain?
Namun diluar dugaan...
Hati Della serasa dicabik-cabik, perasaan itu muncul lagi dibarengi pintu mobil itu yang terbuka dan seseorang yang keluar.
Gilang.
Entah apa yang Della rasakan saat ini. Senang, sedih, hancur, rapuh. Semua nya sedang ia rasakan. Tak terasa air mata menetes dan mengalir di pipi nya. Semua orang disana terkejut.
"Del..." panggil Tiara. Della bahkan nggak menggubris sama sekali, ia hanya menatap Gilang dalam-dalam.
"Della, gue.." Gilang memulai, namun segera di potong oleh Della.
"Lo apa? Lo nyakitin gue? Lo bikin gue hancur Gilang! Kenapa lo dateng disaat gue lagi senang? Justru kehadiran lo adalah kutukan untuk gue!"
Gilang kaget bukan kepalang. Hatinya hancur, ia seperti sama-sama merasakan apa yang Della rasakan.
"Lo nggak bisa seenaknya sama gue kalau lo masih nyakitin gue Lang!" bentak Della.
"Gue...Del, maafin gue.." lirih Gilang diiringi tepukan pundak dari Farhan ke pundak Gilang berniat menenangkannya. Kini cowok dingin itu mendadak lemas dan lemah.
"Terlambat, Lang."
"Kenapa gue terlambat, Del? Apa lo nggak mau maafin gue?" tanya Gilang. Ia bingung dengan kata Terlambat yang dilontarkan Della itu.
"Lo nggak perlu tau, bukan urusan lo," timpal Della. Dalam pikirannya ia bisa memaafkan Gilang, tapi otak nggak sejalan dengan hati.
Gilang terpaksa membawa Della ke dalam tenda, berbicara empat mata dengannya. Gilang hanya ingin Della memaafkannya.
"Dell, maafin gue.."
"Buat apa? Sedangkan lo nyakitin gue dengan tunangan dengan Talia apa itu nggak cukup Lang?!" bentak Della lagi. Gilang nggak akan menyerah, saat itu juga ia harus mendapat maaf dari Della.
Gilang memutuskan untuk mengakhiri semuanya dengan Talia. Ia nggak suka type cewek seperti Talia, justru ia lebih menyukai Della.
"Gue udah selesai sama Talia, Del. Maafin gue..gue cinta sama lo, gue sayang sama lo, semua itu tulus. Gue jujur ke lo, gue harap lo nggak ngejauh,"
Della kaget, ditatapnya mata berwarna hitam legam itu dalam-dalam.
"Apa lo baru sadar? Gue suka sama lo dari dulu, gue sayang sama lo dan lo baru sadar setelah gue bakalan pergi?!" tiba-tiba Della mengucapkan semuanya.
"Pergi? Maksud nya?" tanya Gilang.
"Lang, gue bakal sekolah di London minggu depan. Gue nggak bakal ada di Indonesia. Gue bakal memulai kehidupan baru disana, maaf,"
Gilang tertunduk, kesal bercampur sedih.
"Lo bercanda kan, Del?"
"Gue serius,"
Gilang menitikkan air matanya, begitu juga Della. "Gue maafin lo, Lang. Tapi keputusan yang ini, gue nggak bisa ubah,"
"Tetep yakin mau pindah?" tanya Gilang.
"Iya Lang tapi..."
Belum Della menyelesaikan kata-kata nya. Gilang sudah lebih dulu mencium pipi Della.
"Della Sandra Refia, lo resmi milik gue sekarang, please lo jangan pergi,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Posesif #1
Ficțiune adolescențiDella dan Gilang yang harus merasakan manis pahit nya kehidupan cinta, merasakan indahnya hubungan asmara, meskipun selalu saja ada konflik diantara mereka. Mampukah mereka bertahan?
