this Memory is back?

1.3K 15 0
                                        

Jam beker berbentuk penguin itu nampak tenang. Jarum panjang berada di angka 11 lebih sementara jarum yang lebih panjang berdetik sesuai putaran, juga jarum yang paling pendek berada di angka 6 namun belum tepat.

Satu detik..

Dua detik..

Lima detik..

Jam beker penguin itu bergetar dan berbunyi keras, sebuah tangan muncul dari dalam selimut dan menekan tombol 'im wake' di bagian punggung penguin itu. Seketika getaran dan bunyi nya berhenti.

Seseorang itu keluar dari dalam selimutnya melawan hawa dingin karena musim hujan, namun tak ada hujan hari ini.

Perlahan, ia membuka mata nya untuk menerima cahaya, disambut oleh pemandangan yang tak terduga sebelumnya.

"Happy birthday, Gilang!" ucap Mama dan Papa nya. Gilang tersenyum lalu meniup lilin nya.

"Make a wish?" tawar mama Gilang. Gilang mengangguk.

"My wish in my birthday now, semoga Gilang cepat-cepat menyusul Della ke London," ujar Gilang.

"Mama dan Papa senang kalau kamu memang sudah mengingat Della, tapi apa kamu yakin Della masih menerima kamu?" tanya Mama Gilang.

"Ma, semua perjuangan pasti ada hasilnya, Gilang berjuang melawan penyakit Gilang, sekarang Gilang kembali memori ingatan tentang nya, akan Gilang usahakan sekeras apapun untuk bisa mendapat hati nya kembali, karena salah Gilang juga dia pergi," jelas Gilang.

"Terus Shanata?" tanya mama nya lagi.

"Semenjak Gilang teringat Della, Gilang bahkan nggak ada rasa apapun terhadap Shanata, Gilang juga harus jujur pada Shanata daripada Gilang mengkhianatinya," jawab Gilang.

"Kamu memang bijak, nak," puji ayahnya, "yuk, kue nya dimakan, ini hari spesial loh, 2 hari lagi kamu pindah ke London,"

"Pa, Gilang bukan hanya ingin Della kesana, tapi untuk mengejar cita-cita Gilang juga dan meneruskan perusahaan papa dengan sebaik mungkin," Gilang menjelaskan.

"Gilang juga rindu Della, setelah Gilang tau yang sebenarnya, Gilang salah, Gilang kalut oleh emosi Gilang sendiri," kata Gilang lagi.

"Sudah sudah, lupakan yang lalu, yuk kita makan,"

Lalu ruangan itu dipenuhi canda tawa sebuah keluarga kecil.

***

"Rian, tunggu!" Della menghentikan Rian ketika mereka tak sengaja bertemu di jalan. Rian bahkan nggak menoleh sama sekali.

"Rian, please...just now.." lirih Della. Rian menghentikan langkahnya dan berhenti dihadapan Della. Cewek itu menangis.

"Apa?" tanya Rian dingin seakan ia tak peduli dengan tangisan cewek itu.

"Kenapa lo berubah gini sih?" tanya Della. Rian hanya menaikkan bahu nya.

"Gak tau," jawab Rian.

"Oke oke, Rian. Setiap orang berubah pasti punya alasan, apa lo berubah karena risih kalo gue pernah nyatain perasaaan gue sama lo?"

"Tapi gue nggak ngerasa risih sama lo," ucap Rian dingin.

"Jawab, Rian. Kalau setidaknya lo risih ada gue, lo bilang, gue keluar dari Oxford dan pindah lagi ke Indo, i am serious," ucap Della, Rian masih dingin saat itu, bahkan nggak menatap Della sama sekali.

"Buat apa lo keluar dari Oxford? Apa lo nggak akan nyesel?" tanya Rian kemudian. "Hanya karena masalah ini lo jadi hancur in cita-cita lo,"

Della benar-benar gendok saat itu. Ia tak bisa berkata-kata lagi tentang dirinya yang mengundurkan diri. Toh kalau dia keluar pun nggak akan merubah Rian sama sekali.

"Rian, sekali lagi, kalau lo emang risih ada gue, atau karena lo gak suka kalau gue punya perasaan ke lo, gue bakal lupain perasaan gue, asal kita masih jadi temen kayak biasa, bisa kan? Please, jangan ngejauh dari gue kayak gini,"

"Bisa bisa aja," jawab Rian dingin.

"Anggap perasaan itu nggak ada," ucap Della. Rian mengangguk.

"Udah malem, mending lo pulang, gue duluan" ucap Rian. Meskipun terkesan dingin, namun jawabannya membuat Della tenang sekarang.

Della merebahkan diri di atas kasur, ditemani Claire yang sedang mengotak-atik laptop.

"Dari mana aja lo?" tanya Claire.

"Gue dari rumah Kate," jawab Della. Claire hanya membentuk mulutnya seperti huruf O dan mengangguk.

Tiba-tiba handphone Della berdering. Della segera merogoh saku celana nya dan melihat layar HP nya.

Disitu tertera,

Gilang Rio Samudera
Is calling.

Della mematung. Apa maksudnya Gilang menelfon nya setelah sekian lama? Darimana juga Gilang tau nomor HP Della disini?

Della mengangkat nya dengan gemetar.

"Hallo, Della Sandra Refia, Still remember to me? Your boyfriend," ucap Gilang.

"Nggak, nggak mungkin. Ingatan kamu kembali?! Gilang hey!" ucap Della sambil mengeluarkan air mata nya.

"Ya, dan jika kamu percaya, aku sekarang di London dan aku ada di depan rumahmu," ucap Gilang. Della otomatis melihat ke kaca jendela. Gilang berdiri disana!

"Bener itu kamu?" tanya Della.

"Apa aku menakutkan? Kayak penjahat malam hari? Haha, besok aja kita ketemu, lagian kuliah kita sama, Oxford," jawab Gilang. Della tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

"Bye Gilang, see you.."

Dibarengi dengan di matikan nya telfon, Gilang menghilang dari halaman rumah. Ah, terima kasih tuhan, kau telah mengembalikan Gilang kepadaku, kata Della.

***

Rasanya hari ini Della bersemangat sekali. Dandanan-nya rapi, baju nya yang stylish, semuanya nampak berbeda.

"Tumben lo bisa gaya," ujar Claire.

"Ada yang salah sama gue?" tanya Della. Claire nampak memperhatikan dari ujung kaki sampai ujung kepala.

"Beda 180 derajat!" kata Claire sambil tertawa, Della juga. Ia buru-buru turun ke bawah dan memakan sepotong roti, setidaknya ia mengisi perutnya sedikit.

"Kebiasaan kamu kalo udah buru-buru gitu," kata Tante Sinta. "Eh, kok cantikan? Janjian sama cowo nih?" godanya.

"Apa sih tante, udah ah Della berangkat dulu ya!" kata Della sambil pergi.

"Good luck sweety!"

08.47am

"Dellaaaa!" teriak Aretha dari kejauhan. Ternyata Aretha tak sendirian, semua temannya pun datang.

"Tumben lo cantikan?" kata Ghina sambil memperhatikan sosok Della yang beda di hadapannya.

"Muka kecebong aja lo bilang cantik, somplak emang," timpal Raka. Della hanya mendengus.

"Emang lo tau muka kecebong?" lanjut Aretha. Tempat itu benar-benar dipenuhi kegabutan saat ini.

"Eh masih pagi udah ribut," kata Ridho yang baru datang bersama Ardhan dan Hilman.

"Yee ikut-ikutan lo autis," timpal Azil.

"Bangsat emang lo semua ngerusak suasana gue," ucap Hilman yang sepertinya sedang unmood.

"Gausah ngomen botak, kalau ke ganggu pergi aja," ucap Kate sambil mendelik. Hilman langsung pergi dari tempat dengan kebadmood-an-nya.

"Ngegad mulu deh tuh tuyul satu," kata Fidela sambil tertawa.

"Heh heh, bayar utang lo semua ke gue pekok," kata Ardhan.

"Bokek, hehe.." jawab Panca. Ardhan dengan tatapan sinis nya mulai duduk di kursi.

"Awas lo semua besok nggak bayar," ancam Ardhan. Semuanya tertawa dan mengangguk.

Rian datang bersama Hilman. Mungkin mood Hilman sudah kembali, hahaa!

Dan sekarang Della yang badmood. Dia merasa gengsi jika harus bertemu Rian. Ah, Gilang juga, kenapa dia lama banget?

Gilang, kemana sih?

Posesif #1Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang