"Del, ayo dimakan. Kamu nggak bisa kaya gini terus. Gilang bakal sedih kalau kamu nggak makan. Ayolah jangan nyiksa diri kamu sendiri," Rian menyodorkan sepiring nasi dengan lauk-pauk dan sayur, serta buah-buahan.
Della tak menggubris, sepertinya akan selalu begitu sampai Gilang siuman. Della terus menatap ke arah jendela rumah sakit yang berembun karena hujan.
"Del, aku pernah bilang. Kalau kamu sedih, aku orang pertama yang bakal membuat orang yang membuatmu sedih itu merasakan sakit yang sama seperti yang kamu rasakan. Tapi perihal orang yang lo sayang, gue nggak bisa. Gue cuma mau lo nggak sedih lagi dan turuti kata gue kali ini aja, makan ya?"
"Gue nyesel, nyesel banget ninggalin Gilang gitu aja sampai gue nggak tahu apa yang dia rasakan waktu itu, apa yang ada di batin nya waktu itu, apa yang ada di dalam pikiran nya bahkan gue nggak ngerti, gue jahat ya Ri sama dia sampai dia kayak gini?" Della mulai mengeluarkan air mata nya. Spontan cewek itu memeluk Rian, entah apa yang harus Rian lakukan, hanya bisa membalas pelukan nya dan menenangkan gadis itu.
"Secinta itu kah kamu sama gilang? Kalau iya, kamu harus yakin, dia lagi berjuang untuk hidup agar bisa ketemu sama kamu. Jadi please udah, kamu harus tetep have fun. Berdo'a supaya Gilang cepet siuman,"
"Rian, maafin gue." lirih Della. Rian mengusap puncak kepala gadis itu sambil mendekapnya.
"Rian, kenapa hidup gue jadi seperti ini? Sejak kenal Gilang, hidup gue berubah drastis. Gue nggak mau kehilangan dia, gue nggak mau dia pergi dari hidup gue, gue mau dia jadi satu-satunya dalam hidup gue,"
"Della, takdir nggak ada yang tau. Kamu harus percaya skenario tuhan akan jauh lebih indah, jauh dari rasa sakit dan dekat dengan kebahagiaan. Ayolah, disana Gilang nggak mau kamu sakit juga seperti dia. Makan, ya?"
Della perlahan membuka mulutnya. Dengan lembut Rian menyuapkan makanan itu sambil sesekali tersenyum menatap wajah gadis di hadapannya.
Gue emang nggak bisa memilikinya, tapi gue harap tuhan memberikan kebahagiaan yang jauh lebih indah dari segala rasa sakit yang ia rasakan sekarang. Gue mau dia tersenyum, walaupun bukan berasal dari gue. Gue cuma cowok penyakitan yang nggak pantes buat Della.
Brukkk!!
"RIAN?"
"RIANNN!!"
~^^~
Della berlari ke luar Rumah Sakit. Ia tetap menerobos hujan yang amat sangat deras itu dan berlari ke taman terdekat. Disaat seperti ini taman masih sangat sepi, dan Della pikir itulah tempat yang tepat untuk meluapkan semua amarah dan rasa sakitnya.
"Kalau Tuhan sayang sama gue, kenapa gue harus ngerasain semua ini? Cukup rasa sakit sampai disini saja, Tuhan. Gue mohon!" Della berteriak di bawah hujan. Hatinya seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum.
"KENAPA TUHAN AMBIL RIAN? Kenapa Tuhan jahat sama gue?! Setelah ini siapa? Gilang yang mau diambil?! Nggak! Gue nggak rela!" Della terhuyung lemas. Air matanya terus mengalir deras bersamaan dengan air hujan. Dari kejauhan terdengar suara langkah kaki, yang tak lain adalah Ghina dan Kate.
"Tuhan sayang lo Del, tapi Tuhan lebih sayang Rian. Lo harus ikhlas. Rian nggak mau liat lo sedih, Rian mau lo selalu tersenyum."
Hujan masih sangat deras. Ghina mengajak Della duduk sebentar sambil berteduh, lalu Kate menyodorkan sepucuk surat untuk Della.
"Rian kasih ini ke Hilman sebelum dia pergi, dan katanya ini buat lo,"
Della mengambil surat dengan cipratan noda merah darah itu lalu dibukanya perlahan.
~
Dear, Della
Asal kamu tau, kamu adalah gadis yang aku sukai bahkan sebelum kamu menyukaiku. Aku nggak tau harus gimana.
Setiap aku melihatmu tertawa, rasanya lega sekali bahwa Tuhan masih memberimu kebahagiaan. Berbeda denganku, penyakit leukimia yang kuidap nggak bisa berbohong Del. Sampai ketika aku tau kamu menyukaiku, aku berniat untuk terus menjauhimu. Kamu gadis yang sempurna, gadis ceria, nggak pantes kamu terus-terusan sedih.
Aku ikhlas kalau bahagiamu bukan aku. Karena aku sadar, aku serba kekurangan. Aku nggak bisa menjamin kebahagiaanmu, bahkan kebahagiaan diriku sendiri. Aku tau, pada akhirnya aku akan pergi meninggalkan dunia yang fana ini.
Terimakasih sudah mengajarkanku apa arti kata ikhlas. Mengikhlaskan kamu dengan Gilang adalah suatu hal terberat dalam hidupku. Tetapi sekarang aku sudah pulang, aku sudah dijemput Tuhan.
Della, percayalah skenario yang paling indah akan Tuhan berikan setelah melalui masa-masa menyedihkan ini. Tuhan sayang kamu. Gilang sedang memperjuangkan hidupnya untuk bisa terus bersama kamu.
Ketika Gilang sudah siuman, peluklah dia. Berbahagialah kamu dengannya. Yakinlah aku ikut tersenyum bahagia ketika melihat kamu bahagia, meskipun bahagiamu bukan aku.
From,
Rian Dhiansyah
~
Tangis seketika pecah saat itu. Air matanya seakan mengalahkan derasnya hujan yang turun. Hatinya bagaikan dihujam tombak, rasanya sakit sekali.
Rian sangat menyayanginya. Della menangis sejadi-jadinya karena tak sempat berkata apa-apa pada detik-detik akhir hidupnya. Della terlambat menyadari itu semua. Ingin sekali ia memeluk Rian meskipun untuk yang terakhir kalinya.
Rian, aku juga menyayangimu.
~^^~
2 minggu telah berlalu. Kepergian Rian meninggalkan duka yang sangat mendalam bagi teman-temannya, keluarganya, khususnya Della. Wajahnya terlihat lesu, mata yang sembab, dan tubuh yang terlihat lebih kurus dari biasanya.
Apa yang Tuhan rencanakan buat gue? Apakah gue harus percaya kata-kata Rian bahwa skenario Tuhan akan jauh lebih indah?
Della termenung, menatap kosong kearah langit-langit ruangan. Della sempat berpikir kalau saja ia diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya, lebih baik untuk tidak bertemu sama sekali dengan Gilang.
Seketika itu juga, Della teringat kata-kata Rian beberapa jam sebelum Rian menghembuskan nafas terakhirnya.
Del, aku pernah bilang. Kalau kamu sedih, aku orang pertama yang bakal membuat orang yang membuatmu sedih itu merasakan sakit yang sama seperti yang kamu rasakan. Tapi perihal orang yang lo sayang, gue nggak bisa. Gue cuma mau lo nggak sedih lagi dan turuti kata gue kali ini aja.
Air matanya mengalir kembali. Entah sudah berapa ribu tetesan air mata yang keluar dari mata cantik itu. Andai Rian masih disini, pasti ia sedang mendekapnya, mengusap puncak kepalanya dan menyuapinya makanan.
Ia kembali menatap Gilang dalam-dalam. Dalam hatinya ia berkata, dialah ternyata pembawa masalah di hidupnya. Andai saja Della tak mencintainya, ia pasti sudah tidak peduli. Tapi perasaan itu, perasaan yang tidak bisa dibohongi. Pada kenyataannya Della sangat tidak mau kehilangan Gilang.
Air matanya mengalir deras. Tetesannya jatuh diatas tubuh yang terbaring lemah itu.
Perlahan matanya terbuka. Samar-samar ia melihat seorang wanita yang sedang menangis di hadapannya. Wanita yang sangat dicintainya. Tangannya bergerak lemas, berusaha meraih puncak kepala wanita itu.
Della yang menyadari itu terperanjat. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya tanda terkejut. Tangisan sedih itu berubah menjadi tangisan kebahagiaan. Setelah sekian lama ia menunggu akhirnya Gilang siuman.
Della segera keluar memberitahu teman-temannya yang lain dan memanggil dokter untuk mengecek keadaan Gilang.
Gilang, Aku Rindu!
KAMU SEDANG MEMBACA
Posesif #1
Teen FictionDella dan Gilang yang harus merasakan manis pahit nya kehidupan cinta, merasakan indahnya hubungan asmara, meskipun selalu saja ada konflik diantara mereka. Mampukah mereka bertahan?
