Harapan (13+)

1.4K 13 1
                                        

Malam itu rasanya hampa. Bulan bersinarnya sama sekali tak membuat nya tersenyum.

Sunyi.

Hanya notif dari group chat. Tak ada kata-kata apapun lagi setelah Gilang menyatakan akhir dari hubungan mereka.

Della membuang nafas nya kasar. Ia sama sekali tak menginginkan hal seburuk ini dalam hidupnya.

Diambilnya sebuah buku harapan di laci paling bawah. Ia menulis semua harapan hidupnya disana

Mulai dari harapan pada Papa nya yang membelikannya sepeda ditulisnya saat umur 6 tahun.

Harapan pada ibu nya yang membelikan baju dan gaun cantik untuknya ditulisnya saat usia 8 tahun.

Harapan untuk masuk ke SMA Garuda dan lulus ditulisnya saat usia 13 tahun.

Harapan untuk lulus test di Oxford dan berhasil menjadi sarjana ditulisnya pada usia 15 tahun.

Dan yang terakhir, Harapan untuk menikah dengan Gilang dan hidup bahagia dengannya, ditulisnya ketika ia pertama kali bertemu Gilang, si Ketua OSIS most wanted.

Nyatanya, harapan itu selesai ditengah perjuangan nya. Della mencoret harapan itu. Satu-satunya harapan berharga di hidup Della yang tak terkabul.

Tapi ia yakin Gilang akan kembali. Della mulai menulis harapan baru nya sekarang :

Gilang akan kembali.

Walaupun terlihat gila, tapi Della yakin dan percaya, bahwa segala sesuatu yang dibarengi dengan usaha itu hasilnya akan setimpal.

Air matanya jatuh lagi, lagi, dan lagi.

***

Suara degungan musik di sebuah club cukup ramai dengan orang-orang yang mencari kesenangan di dalamnya.

Seorang laki-laki duduk di sebuah sofa yang berjajar. Sebotol minuman beralkohol dihadapannya tersisa setengah botol.

Gilang dalam keadaan setengah sadar dan mabuk ketika ia menghabiskan hampir setengah botol minuman itu. Kepala nya pusing, serasa melayang.

"Della.." ucap Gilang berkali-kali. Seorang gadis menghampiri nya, duduk di sebelah Gilang dan menyapa cowok itu.

"Hai, Gilang Rio Samudera," sapa cewek itu. Gilang menoleh sebentar, memperhatikan cewek itu.karena ia pusing, ia tak tau siapa cewek itu.

"Lo kenapa tau nama gue?" tanya Gilang. Cewek itu tersenyum dan bergelayut manja di tangannya.

"Lo nggak perlu tau dan berhenti nyebut nama Della, bersenang-senang lah, be happy!" kata cewek itu.

Setelah cukup lama mereka berada di dance floor, Gilang membawa cewek itu ke sebuah room hotel.

Dan disitulah, mereka menikmatinya dengan permainan panas dan desahan yang hebat.

***
Gilang membuka mata nya perlahan menerima cahaya yang masuk. Terlihat aneh, karena tempat ini sungguh asing baginya.

Tak sadar tubuhnya ditutupi selimut, perlahan ia membuka selimutnya. Ia kaget ketika ia benar-benar dalam keadaan naked dan tak memakai sehelai benang pun.

Gilang menoleh kebelakang. Dilihatnya cewek yang tidur berbalik arah dengannya. Yang pasti Gilang juga tau, cewek itupun dalam keadaan naked.

"Emmhh," desah cewek itu sambil merentangkan tangannya dan berbalik, setelah itu menatap Gilang, "good morning,"

"Claire? Apa-apaan ini?!" marah Gilang. Ia kaget bukan kepalang.

"shut..apa lo nggak ingat apa yang kita lakuin semalam, hmm?" ucap Claire. Gilang masih tak mengerti.

"Semalem kita lakuin ini berkali-kali. Apa lo nggak sadar?" kata Claire. Gilang terlihat kesal, amarahnya kalut.

"Nggak mungkin, Claire! Lo nggak ngarang kan?! Nggak mungkin gue lakuin ini sama cewek lain!"

"Cewek lain selain Della? ck, bahkan lo ninggalin dia gitu aja hanya karena kesalahpahaman. Lihat bercak darah disini, kita bener-bener ngelakuin itu semua, sayang.." bisik Claire.

"Lo saudara Della kan? Emang pengkhianat lo! Della bakal kecewa kalo sampe tau semuanya!" bentak Gilang.

"Ya! Gue mau lo! Sebut aja gue anjing yang busuk di belakang! Gue mau nanya, lo masih cinta sama Della?"

"Gue masih cinta sama Della dan itu selalu! Cinta gue ke dia nggak bakal berakhir gitu aja Claire!" bentak Gilang lagi. Claire mulai menangis.

"Inget, Gilang.. Kalaupun lo masih cinta sama Della, tapi lo tetep harus tanggung jawab kalau terjadi apa-apa sama gue," lirih Claire. Kali ini Gilang dilanda penyesalan dan kebingungan.

Gilang memeluk Claire, memberi ketenangan pada cewek itu. Claire tersenyum penuh kemenangan. Puas dengan apa yang terjadi.

Gilang yakin, ia tak melakukan itu. Bahkan ia memang mabuk, namun ia pasti ingat apapun jika sekiranya ia melakukan semua itu.

Della, maaf..

***

Suara klakson mobil berbunyi di depan rumah. Della melihat kearah jendela untuk memastikan siapa yang datang.

"Claire paling," kata Della."Eh tunggu, sama cowok? Pacarnya? Kok dia nggak pernah bilang?"

Della buru-buru menutup jendela dan berniat untuk turun membuka pintu untuk melihat siapa laki-laki itu. Tapi Tante Sinta melarangku dan membiarkan dia yang membuka pintu.

Della menunggu di ruang tamu sambil memakan cemilan dengan HP yang dipegangnya. Terdengar suara Claire dari luar dan suara laki-laki.

Tunggu, Della mengenal suara laki-laki itu, tapi siapa?

Ia menyimpan cemilannya dan bermain HP sebentar. Suara langkah kaki terdengar menuju ruang tamu ketika Claire dan...

Dead air.

"Gilang?" batin Della. Gilang nampak cuek padanya, dan yang lebih membuat nya terkejut ketika Gilang menggandeng tangan Claire.

"Claire, ikut gue," kata Della yang menarik paksa Claire dengan mata nya yang berkaca-kaca. Ketika Gilang ingin mengikuti, Tante Sinta mencegah nya dan ingin mengobrol dengannya. Gilang nampak cemas.

Di dapur, Della seketika menampar wajah Claire sekeras-kerasnya. Claire nampak meringis, meskipun Della sebenarnya merasa tak tega, tapi rasa tak tega itu kalah dengan rasa kecewa nya.

"Apa maksud lo?!" bentak Claire. Della terlihat emosi, ia menyeringai. Claire yang melihat itu langsung membuang muka.

"Harusnya gue yang bentak lo b*ngsat!" bentak Della yang tak kalah sadisnya. Claire meringis ketika tangannya dicengkeram dan semakin kuat.

"Lepasin tangan gue!" teriak Claire. Namun Della malah semakin memperkuat cengkeramannya hingga tangan Claire memerah.

"Emang lo penikung! Saudara macam apa lo?! Bajingan! Murahan!" bentak Della. Sesuatu menusuk hati Claire dan mata nya berkaca-kaca.

"Gue cinta sama Gilang! Gue emang berniat untuk nikung lo! Dan sekarang, gue hamil anaknya dan dia harus tanggung jawab Della!"

Kata-kata yang dilontarkan dari mulut Claire membuat Della terduduk lemas. Ia jatuh ke lantai, air mata nya bercucuran kembali.

"Gilang nggak mungkin lakuin itu, Claire.." lirih Della. Claire tersenyum penuh kemenangan setelah melihat Della yang putus asa dihadapannya.

"Tapi faktanya? Gue lagi hamil, dan Gilang lakuin itu semua sama gue," ucap Claire dengan bangga nya. Della menatap Claire tajam dan berdiri.

"Gue tetep yakin Gilang nggak ngelakuin itu sama lo! Sebejat itukah lo?!" bentak Della lagi dengan mata nya yang memerah akibat menangis.

"Owoo, selow dong mbak. Gilang siapa lo? Bukannya kalian udah putus? Jadi terserah Gilang mau ngapain, gausah lo atur. Apa hak lo?" kata Claire dengan santai nya.

Claire benar, Della nggak seharusnya mengatur kehidupan Gilang. Ia pun pergi ke kamarnya meninggalkan Claire di dapur dengan senyuman nya yang menyeramkan.

Lo emang jahat, Gilang.

Posesif #1Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang