"oh, tentu boleh nak" Mama menjawab santai saat melihat mukaku yang amat sangat sumringah.
Kebahagiaan menyeruak memenuhi hatiku.
Setelah mengucapkan terimakasih, Titan menutup telfonnya.
Aku lagi-lagi berteriak heboh didepan mama-ku sendiri.
Berusaha meredam teriakan dengan menelungkupkan mukaku ke bantal sofa yang sedaritadi ada dipangkuanku.
Kenapa cowok tampan itu bisa amat menggemaskan?
Aku berlari ke kamarku dan mematut diri didepan cermin.
Baju apa yang harus kupakai? apakah aku harus memakai make up untuk kencan pertama kami?
astaga. kencan? tidak-tidak.
Ia hanya mengajakku jalan ke mall. Ini bukan kencan, nay.
Ah, aku tidak peduli. Yang penting aku bisa berdua dengannya, ada didekatnya untuk beberapa jam kedepan.
Lagi-lagi aku berteriak histeris. Memukul dan menepuk-nepuk pipiku sendiri. Memastikan ini semua bukan mimpi.
KAMU SEDANG MEMBACA
struggle for nothing
RomanceAku mulai menggoreskan tinta hitam diatas kertas yang putih. Sesekali menyeka air mata dipipiku. Berfikir. Mencoba menuliskan cerita tentang kita. Tapi, pena hitamku tiba-tiba berhenti seiring berhentinya pergerakan tanganku. Bingung. Apa yang aka...
