Pukul empat kurang sepuluh menit, aku sudah berdiri didepan rumah minimalis bercat putih.
Aku lantas memencet tombol bel didekat pagar dan keluar seorang bapak-bapak.
mungkin pesuruhnya. pikirku.
"non Naya, ya? aduhh, silahkan masuk,non. Den Titan sudah menunggu daritadi" Aku berterimakasih saat bapak paruh baya itu membukakan pagar untukku.
Tiara tidak jadi ikut karena ia ada acara mendadak tadi.
Aku memasuki rumah mewah itu dengan perasaan kalut. Antara senang, takut, dan gugup bercampur menjadi satu.
Pak Joko berada didepanku. Menunjukan jalan ke kamar Titan.
Aku mengetuk pelan pintu kamar bercat biru muda itu. Pada ketukan ketiga, pintu terbuka.
Yang pertama kali kulihat adalah wajah kusut Titan yang menurutku tetap terlihat amat tampan.
Aku tidak dapat menahan senyumku.
"masuk, nay. Pintunya dibiarin kebuka aja ya" Aku mengangguk.
Ia menepuk ujung kasur disamping tempatnya duduk. Memberi isyarat menyuruhku untuk duduk disana.
"Makasih ya, nay. Udah mau dateng. Entah kenapa gue seneng banget lo dateng"
Aku tertawa pelan.
"lo tau nggak sih, nay? lo tuh cantik banget kalo lagi senyum. Apalagi kalo ketawa kayak gitu"
Mulutku langsung bungkam. Diam. Salah tingkah.
Aku yakin mukaku merah sekarang menahan malu. Yang aku lakukan hanyalah merapikan poni dan rambutku. Membenarkan posisi duduk.
Aku bahkan tidak berani menatap matanya yang jelas-jelas masih memperhatikanku.
Tiba-tiba ia tertawa. Dan tangan kanannya terulur menyubit gemas pipiku yang sedari tadi bersemu.
Oh, tidak. Apa yang harus ku lakukan?
KAMU SEDANG MEMBACA
struggle for nothing
Roman d'amourAku mulai menggoreskan tinta hitam diatas kertas yang putih. Sesekali menyeka air mata dipipiku. Berfikir. Mencoba menuliskan cerita tentang kita. Tapi, pena hitamku tiba-tiba berhenti seiring berhentinya pergerakan tanganku. Bingung. Apa yang aka...
