Part 9 : That Awkward Moment.

4.9K 184 4
                                        

ARIANA POV

Aku sampai di apartemen jam 6.15 WIB. Aku langsung merapikan buku-buku yang harus dibawa ke kampus. Gimana nih? Nanti ada pelajaran Seni. Dave pasti marah sama aku karena aku tidur di rumahnya. Aku langsung bergegas ke kampus.

Suasana di kampus masih sangat sepi karena waktu masih menunjukkan pukul 7. Aku segera berjalan cepat ke taman belakang. Suasana damai ini membuatku langsung pergi ke gazebo dan mengeluarkan iPod dari tasku. Lagu Stay with Me-nya Sam Smith mengalun lembut di telingaku.

Oh, won't you stay with me?'Cause you're all I need

This ain't love, it's clear to see

But darling, stay with me

iPodku tiba-tiba terlepas dari telinga kiriku. Dan aku menemukan Mentari sedang berkacak pinggang. "Masuk, Men." Dia langsung menurutiku. Tapi saat dia sudah masuk gazebo, dia mulai nyerocos gajelas.

"Tenanglah,Men. Ceritain pelan-pelan."

"Lo kemaren kemana aja sih,Ree?Gue ke rumah lo tapi kata satpam apartemen lo ja ga ada. Padahal kan gue mau bahas tugas kelompok kita.Ih!"

"Maaf. Kemaren gue... Nginep di rumah om gue."

"Ngapain?"

"Kemaren gue di Bekasi. Tiba-tiba... Umm... Turun ujan abis itu." Dia menatapku curiga, "Oke. Gue percaya. Tapi, gue masih agak curiga sih sama lo," katanya sambil menyipitkan mata. Aku menghembuskan nafas lega. Yah, walaupun dia masih curiga, tapi gapapa. Yang penting dia ga banyak tanya lagi.

Aku sudah masuk 3 pelajaran. Tinggal 1 pelajaran lagi. Seni. NOOO!!!! "Lo gemeteran banget,Ree. Kenapa?" Tanya Esmeralda, salah satu teman seniku. Aku hanya mengangguk sambil mengusap keringat yang ada di keningku dan mengangguk lesu, "Apa lo mau ke UKS aja?" "Ga. Ga usah," kataku mencoba menenangkan dia yang terus bertanya apa aku baik-baik saja. Tapi selama pelajaran,aku tidak melihat batang hidung Dave. Mungkin dia ga masuk. Akhirnya!

"Kok muka lo langsung sumringah gitu sih?" tanya Esme. Aku hanya nyengir kuda sambil berkata, "Hehehehe. Gue udah ga sakit lagi," "ESME!!! ARIANA!!! Kalian perhatikan papan tulis tidak?! Ariana, sebagai hukuman, ambil dokumen-dokumen yang ada di rak UKS," "Baik,Pak." Lumayan, jalan-jalan bentar. Aku melangkah riang ke lantai 3. Kok UKSnya gelap gini sih? Aku membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Sepi amattt. Kayak kuburan. Yaudah deh, masuk aja. Aku mau mengambil berkas di rak UKS tapi pergelangan tanganku ditahan oleh seseorang, "Lho? Dave?Lo kok disini?" "Tungguin dong." Hah? Kok si Dave bisa jadi begini? Sakitnya parah banget ya? "Gue disuruh Pak Endro buat ngambil kertas-kertas ini," "Nanti balik lagi. Please," wajahnya yang lesu memelas padaku. Aku menghela napas pasrah, "Ok, tunggu bentar." Dia mengangguk dan kembali menutup matanya. Aku bergegas ke kelas dan pergi kembali dengan alasan sakit kepala. Kayaknya dia udah tidur deh. Aku duduk di sampingnya. Tiba-tiba matanya terbuka perlahan dan saat ia melihatku, ia langsung tersenyum, "Halo," sapanya

"Lo sakit apaan?"

"Cuma cape."

"Cape-cape kok begitu. Badan lo anget tau ga? Gue BBM Elisa ya..." Saat tanganku aku mengetik pesan untuk Elisa, Dave mencengkram tanganku, "Jangan, please. Kamu temenin aku aja," "Hah? Kenapa gamau?" "Ssstt. Aku mau tidur." Akupun menemaninya sampai sore. Aku mengirim BBM ke Mentari untuk membatalkan diskusi kelompok kami.

"Dave, gue pulang dulu ya. Lo cepet sembuh," kataku akhirnya. Dia langsung menarik tanganku, "Jangan. Aku ga mau ditinggalin untuk kesekian kalinya. Jangan...Jangan." Aku tertegun mendengar gumaman nya. Dia pasti punya masa lalu yang kelam. Akhirnya aku kembali menemaninya.

DAVE POV

Aku menguap beberapa kali dan saat telah sepenuhnya sadar,aku baru menyadari kalau aku tidak sendirian. Ada Ariana. Aku tersenyum mengetahui bahwa dia benar-benar peduli padaku. Aku mengguncangkan tubuhnya pelan, "Hey,Ariana. Bangun. Udah jam 7 nih. Ariana." Dia mengerjapkan matanya lucu dan terbangun, "Oh, hey. Udah baikan?" "Udah. Eh apaan ini? Kok basah?" Aku menyentuh kain basah yang telah terlipat. Dia menatap benda basah itu dan nyengir, "Oh,itu. Tadi gue kompres kepala lo. Abia lo ngigonya serem banget. Jadi gue kompres aja deh." Kata-kata itu ia lontarkan dengan santai. Tapi, buatku tidak. Aku merasa sangat bahagia saat ini, "Ih,lo kenapa nyengir-nyengir najong gitu sih?" katanya sambil menjauhiku. Aku tertawa dan langsung menariknya keluar. Mengabaikan sengatan listrik yang tiba-tiba muncul saat kulitku bersentuhan dengan kulitnya.

AUTHOR POV

"Mau kuantar?" tanya Dave, "Lo kan masih sakit. Nanti kalo kecelakaan gimana?" "Seriusan. Aku udah sembuh. Berkat kompres kamu.Thanks ya," "Wow, seorang Davw Eduardo bisa bilang makasih juga," kata Ariana sambil manggut-manggut. Yang membuat Dave tertawa kembali. Ariana hanya nyengir sok santai. Padahal hatinya sudah berloncatan dengan brutal. Tenang, Ree. Tenang, batin Ariana.

"Ayok,ah," Dave langsung menarik Ariana ke parkiran untuk mengambil mobilnya. How sweet,batin Ariana lagi.

Dave memberhentikan rumahnya di lobby apartemen Ariana, "Ariana, bangun. Sudah sampai,"katanya sambil membuka seatbelt Ariana. Otomatis, lehernya tidak sengaja menyentuh pipi Ariana. Sengatan listrik itu muncul lagi. Dave langsung menggeleng-geleng untuk menghilangkan lamunannya, "Ree, bangun. Arianaaa," ia mendekatkan wajahnya dan memasang tampang jail, "Kalo gamau bangun aku cium ya," kata Dave. Walaupun dia harus menyembunyikan perasaan malunya. Mata Ariana langsung terbelalak saat menyadari wajah Dave terasa sangat dekat. Ia baru menyadari kalau Dave sangat tampan. Hidungnya yang mancung. Bibir tipis yang jarang tersenyum, dan mata coklat yang selalu menatap orang-orang dengan jutek. Sedangkan Dave tetap memaku di tempatnya sekarang. Ia baru menyadari kalau Ariana tampak sangat cantik dari dekat. Wajah lonjong dengan pipi merah. Rambut hitam ikal yang dikuncir kuda, Mata coklat yang bulat, hidung mungil, dan mulut merah. Dave ingin merasakan bibir itu. Perlahan wajahnya kembali mendekat dan mendekat. Ariana langsung tersadar saat itu juga. Ia memalingkan wajahnya yang sudah merah padam, "Kayaknya gue masuk dulu deh. See ya," katanya sambil membuka pintu mobil dengan terburu-buru.

DAVE POV

Aku melempar barang-barangku dengan emosi. Jangan sampai Ariana marah kepadaku. Atau jangan-jangan, dia hanya sok baik denganku? Padahal aku sudah mulai nyaman dengannya. Aku pergi ke kamar mandi yang ada di ujung apartemenku. Aku kesal, emosi,malu, kecewa, semuanya bercampur menjadi satu. Aku menyiapkan bathub untuk mandi. Kurendam seluruh badanku dengan air hangat di bathub. Aku mendesah pelan dan berusaha tidur di sini.

ARIANA POV

Alarm di nitghtstand ku berbunyi nyaring. Aku langsung mematikannya dan membuka gorden di kamarku agar udara pagi bisa masuk. Aku memang menyalakan alarm jam 5 untuk berjalan-jalan pagi. Setelah berganti baju olahraga,aku bergegas keluar apartemen.

Udara pagi sangat menyegarkan. Aku menyalakan iPodku dan memasang earphone di telingaku.

Aku berhenti untuk menarik napas. Kuambil air putih didalam tas olahragaku. Akhirnya aku menyelesaikan kegiatan OR ku karena sudah jam 06.30 WIB.

Balonku ada lima

Rupa-rupa warnanya

Hijau,kuning,kelabu, merah muda dan biru

Aku langsung mengangkat telepon dengan malu-malu. Kayaknya aku harus ganti ringtone deh. Sebelum mengangkat, aku melihat penelepon tersebut.

Ngapain Dave neleponin gue?

Unpredicted Love {COMPLETED}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang