Halo, thanks buat yang udh nge vote. Vote mu, inspirasiku #asek. ok deh capcus aja yuks
#SelamatMembaca.
DAVE POV
Ini sudah jam 11 dan aku masih ada di lobby apartemen Ariana. Jantungku berdegup kencang saat pipiku menyentuh bibirnya. Tapi ini berbeda. Bukan seperti ketakutan. Melainkan rasa...
Suka?
Aku menggelengkan kepalaku. Jangan sampai aku ada perasaan kepadanya. Apalagi mencintainya. Aku menyalakan mesin dan segera pergi dari situ.
Aku membuka pintu apartemen dengan lesu. Aku langsung masuk ke kamar dan tertidur di situ.
Alarmku berbunyi. Menunjukkan pukul 7 pagi. Aku langsung beranjak ke kamar mandi dan keluar apartemen dengan baju dan celana olahraga. Elle mengajaku untuk berlari pagi di taman belakang apartemenku. Aku menunggunya di lobby. Setelah mengencangkan tali sepatu, akupun duduk dengan tenang dan menunggu Elle datang.
"Halo,Bang Dave!" teriak sebuah sumber suara. Well, there she is. Elle tampak lucu dengan celana pendek dan baju olahraga serta ikatan rambut kuncir kuda, "Hi, sama siapa ke sini?" tanyaku. Dia tersenyum misterius, "Sama Pak Sableh dan... TADAAAAA!" teriaknya girang sambil menggeser tubuhnya dan menunjukkan seorang perempuan lain di situ. Aku menatap perempuan itu dengan pandangan terkejut
"Ariana?"
Aku menelan ludah untuk yang kesekian kalinya. Untungnya ada Elle yang mengajaknya berbicara. Kalau hanya aku dan dia? Aku bisa mati kutu nantinya.
"OUCH!!" teriakku saat tersandung kaleng bekas di taman. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Berharap tidak ada yang melihatku. Soalnya rasa maluku lebih besar daripada rasa sakitku.
"Mmph."Suara itu membuatku menengok ke arah Ariana yang sedang menunduk dan menutup mulutnya. Aku menatapnya kesal, "Ketawa aja terus," "Lo nya sih. Pake acara kesandung segala. Gausah malu-malu lah sama gue," katanya sambil memukul bahuku pelan. "Elle mana?" "Katanya sih tadi mau beli minum ke sekolahannya," "HAH? DAN KAMU GA CEGAH DIA GITU?!" teriakku sambil berlari menuju parkiran apartemen.
ARIANA POV
Aku berlari kecil sambil berusaha mengimbangi langkahku dengan Dave. Jalannya lebar banget sih. setelah masuk mobil, aku langsung menyerbunya dengan pertanyaan, "Lo kenapa sih?" "Kamu gatau ya? Dia itu lagi dekat dengan yang namanya Gillan atau Jillian atau siapapun itu?!" "Terus?" "Dia ke sekolahan mau janjian sama lelaki itu! Tadi dia minta izin. Tapi aku ga bolehin dia," katanya sambil berusaha mengebut. Aku menepuk jidatku. Kok aku bisa bego begini ya? Tampar aku,Ma. Aku anak bodoh! Tiba-tiba dia menginjak gas lebih kencang. "DAVE!!!" kataku sambil mencengkram pinggiran mobil dengan kencang. Gila, kalo jalanannya sepi gapapa. Ini lagi macet-macetnya malah nyelip-nyelip. "Tenang. Aku udah handal," katanya sambil tersenyum licik ke arahku. Dia ini, masih aja bercanda padahal situasi udah panas begini. Aku mengusap keringatku yang berjatuhan. Aku bisa mati muda kalau begini caranya!!! Save me from this handsome devil!!!
"DAVE ADA TUKANG BAJAJ!
"DAVE, AWAS! ADA KUCING!!!"
"DAVE... JANGAN NYEMPIL-NYEMPIL! MOBIL KAMU GEDE TAU ?!!"
"DAVE, REM, DAVEEE!!!"
"DAVE ADA POLISI TIDUR. JANGAN DIINJEK!"
"Bodoh kamu."
"DAVE ADA AYAM!!!"
"DIAM!!"
"DAVEEEE!!!"
Tiba-tiba ia mengerem mobilnya dan menatapku kesal. "Kamu tahu? Kamu bikin aku panik sendiri. Tolong tutup mulutmu," "Kalo gue ga mau gimana?" tantangku. dia menatapku dengan senyum miringnya dan mendekat ke arahku, "Kalau ga mau, kamu akan menyesal," "Never," "Yakin kamu gamau tutup mulut?" "Yep. Yakin one-hundred percent!" "Okay then," katanya. Dia mendekat dan mendekat dan bibirnya menyentuh bibirku dengan kasar. Hah? Kenapa nih orang? Aku memaksakan siri untuk menutup mata. Tanganku yang tadinya mau mendorongnya kuat, malah ditahan olehnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unpredicted Love {COMPLETED}
RomansaAriana, gadis riang yang menyimpan masa lalu penuh luka. Ia sudah berkomitmen bahwa tidak akan menyukai lelaki dalam beberapa waktu. Namun, apa yang bisa dilakukannya ketika lelaki itu datang memberikan kepedihan dan pelajaran hidup serta kebahagiaa...
