Bab 9

104K 10.6K 485
                                        

9. Rumah Vasilla Dan Gatha.

Loading ...

Start !

***

Vento mempercepat langkah'nya menuju kelas, laki-laki itu yakin bahwa Laura pasti tengah duduk sendirian dikelas. Begitu tiba dikelas, firasat Vento memang benar.

Laki-laki itu menaruh tas'nya lalu duduk disamping Laura yang tampak tengah melamun. "Hei .. Pagi ..."

Laura menoleh lalu tersenyum tipis. "Pagi juga ... Tumben lo."

Vento berdehem pelan. "Lo penasaran sama Vasilla kan ya? Lo mau ga nemenin gue kerumah Vasilla ... Maksud gua, almarhumah Vasilla."

Laura langsung menoleh kearah Vento lagi, "Serius? Kapan??"

"Pulang sekolah, langsung. Kalau lo ga keberatan?" Vento mengangkat sebelah alis'nya, menunggu jawaban dari Laura.

Laura mengangguk cepat seraya tersenyum. "Ikut, gue ikut!"

"Makasih, lo fokus belajar'nya, jangan mikirin Vasilla mulu." Vento terkekeh lalu bangkit dan kembali ketempat duduk'nya sendiri.

Laura kembali melamun sembari mengulas sebuah senyuman tipis diwajah'nya. "Vasilla Agatha ..."

***

Tok Tok Tok

"Lama banget .." gumam Vento yang tengah mengetuk pintu rumah Gatha namun sedari tadi tidak ada yang membukakan.

"Lo yakin ga salah alamat?" tanya Laura, ragu.

"Yakali, gue udah sering kesini mbak!" geram Vento lalu dia kembali mengetuk pintu dengan nafsu'nya.

Laura berdecak sebal lalu membuang muka. Tiba-tiba terdengar suara derit pintu, dan pintu rumah Gatha pun terbuka. Vento menghembuskan nafas lega, menyambut seseorang yang telah membukakan pintu.

"Kak Ga-- Eh sorry, bi Raya?" Vento tertawa malu. "Kak Gatha'nya mana ya bi?"

Laura ikut menoleh, namun dia hanya diam menatap perempuan paruh baya yang tengah menatap'nya dengan tatapan sendu itu.

"Oh iya!" Vento menepis keheningan. "Ini Laura ... Laura Monica ..."

"Iya, Luna sudah cerita ..." bi Raya tersenyum ramah. "Ayo silahkan masuk, bibi buatkan minum sebentar ..." bi Raya membuka pintu dengan lebar lalu langsung mendahului Vento dan Laura untuk pergi kedapur.

Vento dan Laura ikut masuk dan langsung duduk manis disofa ruang tamu. Laura menatap sekeliling, rumah Gatha memang sangat mewah dan tentu saja sangat bersih. "Itu tadi pembantu'nya? Jangan bilang kalo kak Gatha ga ada?!" bisik Laura.

Vento menggeleng pelan. "Belom tau, tadi gua nanya aja kagak dijawab." Vento mendengus sebal.

Laura terkikik pelan. "Oh iya, tadi lu dikacangin, sorry lupa."

Bi Raya melangkah mendekati mereka sembari membawa sebuah nampan besi yang diatas'nya terdapat 2 gelas jus mangga. Bi Raya meletakkan 2 gelas itu perlahan keatas meja dihadapan sofa lalu tersenyum ramah. "Maaf ya mas, non, cuma ada ini ..."

"Bi, kak Gatha mana?"

"Ada dikamar'nya, mau saya panggilkan?"

Vento menggeleng cepat. "Ah, nggak! Makasih bi, kita nanti kekamar'nya sendiri aja. Makasih ya bi, maaf ngerepotin." Vento tersenyum manis, lalu bi Raya mengangguk pelan sebelum akhir'nya berbalik dan pergi.

Vento mengambil jus mangga milik'nya, meneguk'nya sedikit lalu melirik kearah Laura yang tampak melamun lagi. Akhir-akhir ini seperti'nya gadis itu terlalu sering melamun. "Ra? Laura? Minum jus'nya ... Habis ini kita mau kekamar'nya kak Gatha .."

Laura menoleh sekilas. "Menurut lo kalau kak Gatha liat gue yang mirip almarhum adek'nya, reaksi dia bakalan gimana?"

"Oh ya, kayak'nya kak Gatha belom tau apa-apa tentang lo, pasti dia kaget banget ..." Vento tersenyum ramah. "Tiap ngeliat lo, gue ngerasa liat Vasilla. Walau gue ga bisa liat dia dimana, gue cuma pengen dia tau kalau gue nyesel, gue mau minta maaf ... Gak lebih." Vento tersenyum lagi lalu langsung menghabiskan jus'nya, disusul oleh Laura yang langsung menghabiskan jus'nya dalam sekali teguk.

"Kalau misal'nya kak Gatha ngelakuin hal yang aneh-aneh, tolong jangan kaget ... Gatha masih belom bisa ikhlasin Vasilla, jadi maaf ya ..." Vento tersenyum lagi lalu bangkit dan berjalan mendahului Laura.

Ke 2 orang itu menaiki tangga, membuka sebuah ruangan dengan pintu berwarna coklat tua. Saat pintu'nya terbuka, mereka dapat melihat sosok seorang pria dengan kemeja hitam yang rapih. Gatha tengah berdiri membelakangi sosok Laura dan Vento. Tampak'nya pria itu tengah melihat suatu benda yang ada ditangan'nya.

Vento mengetuk pintu yang telah terbuka lebar itu, dengan harapan Gatha akan menoleh. "Kak Gatha ..."

Gatha berbalik, lalu tersenyum tipis. Pria itu tampak biasa saja saat melihat Laura, bahkan dia hanya tersenyum lalu mempersilahkan kedua'nya untuk duduk disofa kamar'nya.

"Kak Gatha ini--"

"Laura Monica kan? Luna udah cerita ke bi Raya, dan bi Raya udah cerita ke gue. Sulit dipercaya sih, ada dua orang yang mirip banget tanpa hubungan apapun ..." Gatha tersenyum sambil menatap Laura. "Ada perlu apa lo berdua dateng kesini?" Gatha menatap Vento dan Laura secara bergantian.

"Mungkin konyol sih alasan kita dateng kesini, tapi kita cuma mau ada dideket Vasilla kok." Vento tersenyum tipis.

Gatha menoleh kekanan dan kekiri. "Gue sendiri juga ga tau dia ada dimana, yang gue tau ... dia lagi ngejagain gue, entah dia ada dimana, tapi yang penting dia disini."

***

Yaka dan Vasilla tengah berdiri dipojok kamar Gatha. Menatap sosok Gatha, Vento dan seorang gadis yang belum Vasilla ketahui siapa nama'nya.

"Cewek yang itu, kembaran lo?" tanya Yaka sambil menyenggol lengan Vasilla.

Vasilla terdiam, masih menatap Laura yang tengah mengobrol dengan kak Gatha dan Vento. "Mereka keliatan akrab ya?"

"Pertanyaan gua ga dijawab?"

"Nggak, bukan kembaran ... Gue sendiri ga tau dia siapa ..."

"WHAT?! Itu muka'nya sama persis kayak lo, Silla ... Kebetulan doang?!"

Vasilla terkekeh pelan. "Gausah heboh gitu ah, Yaka ..."

Vasilla melangkah mendekati mereka bertiga, gadis itu berdiri tepat disamping kak Gatha, berusaha menguping pembicaraan mereka. Yaka juga ikut menyusul, dan berdiri didekat Vasilla.

"Laura ... Nama'nya Laura ..." ucap Vasilla.

"Lo mikir apa?"

"Mungkin, gue bisa minjem badan dia ..."

"Maksud lo?"

"Buat komunikasi, gue bisa minjem badan dia, dia mirip banget ... sama gue."

***

Loading ...

Finish !

Vote + Coment !

[✔] Sixth Sense 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang