7. Kisah Vasilla Agatha.
Loading ...
Start !
***
Laura dan Vento tengah duduk dilantai roof top, lantai dingin tanpa alas itu mereka duduki. Laura berdehem karena Vento melamun sambil menatap wajah'nya.
Vento mengusap wajah'nya setelah lamunan'nya buyar. "Sorry, jadi mulai dari mana?"
"From the start ..." sahut Laura, lemah.
"Waktu itu gue masih anak baru disini. Gue kasian aja sama sosok Vasilla yang selalu dibully anak-anak sekolahan karena dia beda. Bisa dibilang selain karena dia beda, dia juga broken home ..."
"Maksud lo beda?"
"Maksud gue ... Dia indigo ..."
Laura terdiam kemudian tersenyum tipis. "Lanjut."
"Nyokap dan bokap'nya itu berkali-kali maksa Vasilla buat kerumah sakit jiwa. Karena malu, orang tua Vasilla pindah rumah, ninggalin Vasilla tinggal berdua sama kakak'nya. Pernah sekali, orang tua Vasilla berhasil bawa Vasilla kerumah sakit jiwa, tapi Vasilla kabur entah gimana cara'nya. Dan waktu itu ga sengaja dia ketemu gue dijalanan. Gue bawa dia kerumah gue buat nginep. First impression gue ke dia, dia itu cantik, manis, baik dan polos banget ..." Vento terkekeh pelan lalu menarik nafas panjang.
"Gue jatuh cinta sama dia, tanpa gue sadari. Dia udah bantuin gue berkali-kali, gue pernah ketempelan, dan gue bebas karena bantuan Vasilla. Oh ya, soal rumah ... Orang tua Vasilla tau kalau Vasilla dirumah gue, akhir'nya mereka dateng dan bawa Vasilla pergi kembali kerumah sakit jiwa, tapi kata dokter disana, Vasilla ga punya kelainan jiwa, terpaksa mereka bawa Vasilla pulang lalu orang tua'nya Vasilla pergi lagi. Beberapa hari setelah kejadian itu, Orang tua'nya Vasilla kecelakaan dan meninggal, berkat bantuan hantu yang jadi teman baik'nya Vasilla, nama'nya Yaka." Vento menghapus air mata yang hampir saja jatuh.
"Gue nembak Vasilla karena gue rasa gue mampu bahagiain dia, gue cinta sama dia. Tepat dihari jadian gue, gue mampir kerumah'nya dan ketemu sama anak pembantu'nya Vasilla, nama'nya Luna. Pertama kali ketemu Luna, rasa'nya udah beda ... Malu buat gue ngakuin bahwa gue suka sama Luna, bertepatan dihari jadian gue sama Vasilla. Sejak ketemu Luna, gue udah minta kontak'nya Luna. Gue sering alasan ngerjain tugas dan ngebiarin Vasilla pulang sendirian, sedangkan gue kacafe, ketemuan sama Luna. Gue sadar gue salah, gue ngebiarin pacar gue pulang sendirian, panas-panasan dari sekolahan, sedangkan gue malah ketemu cewek lain ..."
Laura masih tak bergeming, mata'nya berkaca-kaca. "Lalu ...?"
"Buat nebus kesalahan gue, gue janjian buat liburan sama Vasilla. Liburan ketaman hiburan. Pagi itu gue kerumah Vasilla dan Luna bilang kalau Vasilla masih siap-siap. Luna tiba-tiba meluk gue dan narik gue kedapur. Luna ngasih gue segelas jus jeruk bikinan'nya sendiri ... lalu setelah minum, Luna tiba-tiba ngalungin tangan'nya dileher gue, dan narik wajah gue sampe gue nyium dia, tepat dibibir. Dan saat itu gue denger suara barang jatuh dan pecah, gue noleh dan ternyata ada Vasilla. Gue ga tau gue kerasukan setan apa, gue mutusin Vasilla disaat itu juga. Gue ngakuin kalau gue naksir sama Luna dan nyelingkuhin dia ..." Vento tertawa pahit. "Betapa bodoh'nya gue ..."
"Lo mutusin dia demi Luna ...?"
Vento mengangguk pelan. "Iya ... Vasilla nangis saat itu, tapi entah kenapa gue ga peduli. Dan setelah itu, gue liat kak Gatha pulang. Saat itu kak Gatha kayak'nya emosi sama gue, dia nusuk gue pake piso. Setelah itu gue ga tau lagi ... Tiba-tiba gue sadar dirumah sakit, dan dokter bilang kalau gue sempet kekurangan darah, tapi ada seseorang yang donorin darah'nya buat gue. Gue denger dari kak Gatha, yang ngedonorin darah'nya ke gue itu Vasilla. Gue butuh banyak darah saat itu, Vasilla ngedonorin darah'nya ke gue, sampe dia sendiri kekurangan darah dan wajah'nya pucat setelah donor darah, maka'nya dokter sempet nahan dia buat jangan pergi. Tapi diam-diam Vasilla pergi, dan ga berapa lama kemudian ada kabar, Vasilla meninggal ketabrak kereta."
"Bunuh diri ...?"
Vento mengangguk pelan. "Saat itu gue, kakak gue dan kak Gatha langsung pergi kestasiun kereta itu. Disepanjang rel kereta, gue bisa lihat darah walau cuma sedikit. Beberapa kali gue liat cctv yang nampakin sosok Vasilla. Vasilla ga keliatan sendiri, Vasilla keliatan lagi ngobrol sama seseorang yang gue yakin itu Yaka. Dan ga lama kemudian, saat kereta udah muncul dan mau lewat, Vasilla langsung lompat dan badan'nya langsung kesambar kereta itu sampai hancur ..." Laki-laki itu mengusap air mata'nya yang berjatuhan.
"D-dia ... meninggal ... Hidup dia menderita ... Lo tau, dia dibenci anak-anak sekolahan, dibenci sama orang tua'nya sendiri. Dia cuma punya kak Gatha dan gue, tapi gue? Gue ninggalin dia disaat dia butuh gue. Disaat semua orang benci sama dia, gue muncul jadi pelindung yang bawa kebahagiaan buat dia, dan beberapa saat kemudian gue pergi setelah ngukir luka dihati Vasilla. Lo tau rasa'nya jadi Vasilla ...? Dia cuma kangen masa kecil'nya, disaat orang tua'nya masih sayang sama dia. Gue selalu ngehibur dia, sambil janji bahwa gue gak bakal ninggalin dia, tapi akhir'nya? Gue pergi layak'nya seorang bajingan ..." Vento menyeka air mata'nya dengan kasar lalu laki-laki itu menangis sesegukan, tak malu walau Laura tengah menatap'nya.
"Lo sadar kesalahan lo?" tanya Laura, gadis itu ternyata juga sedang menangis.
Vento mengangguk. "Gue nyesel ninggalin dia. Sekarang gue udah ninggalin Luna, dengan harapan Vasilla mau maafin gue."
"Apa menurut lo kesalahan lo patut dimaafin? Lo ngasih harapan palsu ke Vasilla, lalu ngebuang Vasilla gitu aja disaat dia terpuruk? Lo baru nyesel sekarang? Kemaren kemana aja? Lo nyesel sekarang? Ga guna, orang'nya udah ga ada."
Vento menggeleng. "Arwah dia ... pernah ngedatengin gue, kak Gatha dan kakak gue. Vasilla bilang, dia bakal terus ada didunia ini, sampai kak Gatha pergi nyusul dia. Lo tau maksud gue kan? Vasilla ngejagain kak Gatha ..."
"Kak Gatha, kakak'nya Vasilla ?"
Vento mengangguk lagi. "Harus'nya gue yang mati kekurangan darah waktu itu, bukan Vasilla." laki-laki itu kembali menangis.
"Dia udah tersakiti karena ditinggal sama lo. Tapi dia tetep ngedonorin darah'nya buat lo, bahkan sampe diri'nya sendiri kekurangan darah? Dia bego ... Vasilla bego. Dia sayang sama seseorang yang bahkan ga mikirin perasaan'nya ..."
"It's all my fault ..."
"Bagus, kalau lo sadar ..." Laura menyeka air mata'nya dengan kasar.
***
Loading ...
Finish !
40 Star For The Next Chapter? '-'
Vote + Coment !
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] Sixth Sense 2
Horor#3 in Horor [COMPLETED] Kelanjutan dari Sixth Sense sebelumnya. Yang belum baca season 1 nya, bisa dibaca dulu jika berkenan:) Kemunculan seorang gadis manis yang memiliki wajah mirip sekali dengan mendiang Vasilla, namun sifat'nya berbeda 180 dera...
![[✔] Sixth Sense 2](https://img.wattpad.com/cover/160568895-64-k409846.jpg)