Terima kasih atau segala dukungan pembaca, karena dukungan kalian aku jadi lebih bersemangat untuk melanjutkan Extra Chapter yang kemarin. Selamat membaca ^^
~~~
BRRAAKKKK
Vento terpental jauh keluar dari mobil, laki-laki itu terbaring lemah diatas aspal panas setelah mobilnya tak sengaja menabrak sebuah pohon dipinggir jalan.
"A-aahh .." Laki-laki itu meraba kepalanya, ia melihat darah diseluruh tangannya.
Yang ia rasakan sekarang hanyalah pusing yang sangat amat menyakitkan, tangannya terasa kram dan kaku. Ia bagaikan orang lumpuh yang tak mampu bergerak. Matanya melirik mobilnya yang terbalik ditengah jalan itu.
Jalanan itu sepi, tiada seorangpun yang ada untuk dimintai tolong. Laki-laki itu dengan pasrah memejamkan kedua matanya, berharap ketika membuka mata dia akan tersadar dari semua ini yang ternyata hanyalah mimpi.
Dia dapat merasakan darah mengalir dikepalanya, perih adalah hal yang ia rasakan sekarang. Nafas laki-laki itu memburu, berusaha melawan rasa sakitnya dan mencari pertolongan.
Laki-laki itu berusaha untuk sekedar mengeluarka ponselnya dari saku. Namun tangannya benar-benar mati rasa dan sulit untuk bergerak. Hanya Tuhan yang bisa menolongnya. Laki-laki itu memejamkan mata meminta pertolongan Tuhan.
Ia menggigiti bibirnya dengan kencang, menahan rasa sakit dikakinya yang tampak terluka parah. Dari jauh, Vento dapat melihat mobilnya dipenuhi kepulan asap.
Dia tak dapat menahan rasa sakit diseluruh tubuhnya, laki-laki itu ingin berteriak siapa tau akan ada yang datang dan menolongnya, namun dia benar-benar tak punya tenaga untuk itu. Tak lama kemudian, ia terjatuh pingsan dibawah teriknya sinar matahari, dengan darahnya yang tercecer disepanjang aspal dan mobilnya yang dipenuhi kepulan asap akibat rusak parah.
~~~
"Sudah temukan identitas pasien ?"
"Sudah dok."
"Bisa segera hubungi keluarganya ?"
"Ponselnya mengalami kerusakan parah, dok. Kita tidak bisa membuka ponselnya."
"Siapa namanya ?"
"Vento Parcival Archer. Umurnya 32 tahun, dia belum menikah dan tinggal tidak jauh dari sini."
"Suster tolong, kita butuh dana. Dia terluka parah, dia bisa kehilangan nyawanya jika kita tidak bertindak lebih lanjut."
"Dokter, dia bisa meninggalkan karena kehabisan darah."
"Stok darah golongan B dari rumah sakit disekitar sini juga sudah kosong. Kita harus menemukan keluarga pasien."
"Baik, dokter."
2 orang pria ber jas putih dengan peralatan dokter lengkap itu mendorong sebuah brankar keruang ICU. Vento terkapar lemah diatas brankar tersebut. Darahnya masih tercecer dimana-mana, bahkan tak berhenti keluar.
Pintu ruang ICU langsung tertutup rapat dan kedua dokter tersebut langsung bertindak. Membersihkan darah diluka Vento, mengobati lukanya, memeriksa detak jantung dan pernafasannya, dan tak lupa juga menjahit kakinya yang sobek dan mengeluarkan banyak darah tanpa henti.
~~~
Dengan risau, Laura berdiri didekat jendela sambil menatap keluar dengan tangan kanannya yang tengah menggenggam erat ponsel miliknya. Ia menelpon Vento puluhan kali namun ponsel pria itu tidak aktif.
Keadaan itu tentu saja membuat satu rumah menjadi panik khususnya Vexo. Pria itu hanya duduk diam, dia benar-benar gelisah namun tidak ada yang dapat ia lakukan. Ia bahkan sudah pergi kemakam Vasilla namun tak menemukan Vento disana.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] Sixth Sense 2
Horror#3 in Horor [COMPLETED] Kelanjutan dari Sixth Sense sebelumnya. Yang belum baca season 1 nya, bisa dibaca dulu jika berkenan:) Kemunculan seorang gadis manis yang memiliki wajah mirip sekali dengan mendiang Vasilla, namun sifat'nya berbeda 180 dera...
![[✔] Sixth Sense 2](https://img.wattpad.com/cover/160568895-64-k409846.jpg)