Gadis itu terlihat cantik dengan seragam SMA-nya. Rambut hitam polos dengan sedikit ikal diujung serta tas ransel di pundaknya membuatnya terlihat sangat pas untuk penampilan seusianya. Ia menuruni tangga dan menyapa kedua orangtuanya yang tengah asyik menatap layar televisi.
"Bun, Yah, aku berangkat sekolah dulu, ya." Ucap Vania sembari menyalami kedua orangtuanya.
"Kamu berangkat sama siapa, sayang?" Tanya sang Bunda.
"Vania berangkat sama aku, Bun." Sahut Rafa yang baru saja turun dari kamarnya yang berada di lantai dua.
Kemeja kotak berwarna merah yang dimasukkan sebagian ke dalam celana ripped jeans hitam dan ransel hitam yang disampirkan di salah satu pundak membuag Rafa terlihat keren dan tampan. Bisa ditebak pasti cewek-cewek di kampusnya menjadikan Rafa sebagai incaran untuk mereka dekati. Sekedar info, Rafael Keanno Dirgantara adalah kakak laki-laki Vania yang terpaut jarak 3 tahun. Terkadang saat Rafa pergi ke suatu tempat dengan adiknya, banyak orang yang mengira mereka adalah sepasang kekasih. Mungkin karena hubungan mereka yang terlalu dekat.
"Oh, yaudah. Sana berangkat! Nanti kesiangan, lho!" suruh Shella.
"Hati-hati bawa motornya. Jangan ngebut-ngebut!" Nasihat Rama yang kemudian diangguki oleh Rafa.
"Kita berangkat dulu, ya,"
"Assalamualaikum." Ucap mereka berbarengan.
"Waalaikumsalam."
***
Sesampainya di sekolah, Vania langsung menuju lokernya untuk mengambil beberapa alat tulis. Ia membuka lokernya dan menemukan beberapa bungkus cokelat dan kertas surat. Baginya, ini adalah hal biasa. Ini semua pasti kelakuan kakak kelasnya yang mengincarnya sejak ia masuk ke sekolah ini. Semua hadiah yang Vania dapatkan selalu ia kasih kepada sahabat-sahabatnya. Kecuali kertas surat, ia selalu membawa pulang dan menyimpannya di laci meja belajar.
Selesai memasukkan alat tulis dan beberapa cokelat serta kertas surat, Vania pun menutup pintu lokernya. Kemudian ia dikejutkan dengan sosok yang sedang menyender di loker sebelahnya.
"Hai!" Sapa orang itu.
Vania tak menanggapi, ia hanya diam sambil memakai tasnya kembali. Menganggap bahwa ia sendirian disana dan tak ada seorang pun disitu.
"Pagi-pagi udah jutek aja! Senyum, dong!"
Karena tak kunjung senyum, Vano mendekatkan dirinya dan menarik bibir Vania untuk membentuk sebuah senyuman. Membuat Vania sedikit terkejut di tempat dengan aksi dadakan Vano seperti ini.
"Nah, gitu kan cantik." Ucap Vano sumringah
"Ck!" Decak Vania sambil menepis tangan Vano.
"Ih, galak banget sih!" Ujar Vano sembari mangacak-acak rambut Vania.
Merasa dirinya menjadi perhatian orang-orang yang berlalu-lalang, terlebih lagi kini posisinya dipojokkan oleh Vano, Vania langsung meninggalkan Vano dengan berlari kecil. Bisa gawat kalau ia berlama-lama berada di dekat Vano, ia tidak mau menjadi bahan gosip dan berakhir digunjing kaum hawa di sekolahnya.
Melihat dirinya ditinggal begitu saja oleh Vania, Vano menyusulnya dengan berlari kecil dan sedikit berteriak. "Ikut!"
"Tungguin, dong, dek!" Ucap Vano sembari menyamai langkahnya dengan Vania. Tetapi ucapannya tak dihiraukan, Vania tetap melangkahkan kakinya lebar-lebar berharap lelaki yang berada di sampingnya ini merasa lelah karena mengejarnya.
Selama berjalan menuju kelasnya, semua mata memandang ke arah Vania. Ada yang memandang sinis, heran, bertanya-tanya, dan lainnya. Vania hanya bisa berjalan cepat dan sedikit menundukkan kepalanya. Ah, Vania benci saat ia harus menjadi pusat perhatian. Risih sekali hingga membuatnya ingin segera menghilang dari tempat itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Real of Ice Queen
FanfictionVania Calistha Dirgantara, gadis cantik berwajah jutek yang memiliki sifat cuek nan dingin. Membuat siapa pun terpana akan kecantikannya hanya dengan sekali melihat wajahnya. Di balik semua itu, ia memiliki masa lalu yang kelam. Alasan itulah yang m...
