15. Khawatir?

2.8K 131 9
                                        

Vania baru saja keluar dari laboratorium IPA untuk menaruh tabung kimia yang baru saja kelasnya gunakan untuk praktek. Langkah kakinya berjalan menyusuri koridor lantai dua yang merupakan daerah kelas sebelas.

Saat sedang fokus berjalan, matanya tanpa sengaja melirik ke arah kelas yang sangat tenang dikarenakan sedang ada guru yang mengajar. Langkahnya memelan dan matanya bergerak seolah sedang mencari seseorang di dalam kelas tersebut. Tatapannya terfokus pada bangku kosong yang berada di barisan kedua dari jendela.

Dalam hatinya Vania bertanya, kemana penghuni bangku tersebut? Tumben sekali batang hidungnya tidak muncul hari ini. Biasanya orang itu selalu muncul di hadapannya dan terus mengganggunya tanpa henti. Sejak tadi pun Vania merasa ada yang kurang tetapi dia tak tahu itu apa.

Disaat tengah asyik berdebat dengan pikirannya, tiba-tiba ada tangan yang menepuk pundaknya. Otomatis Vania langsung menengok ke belakang untuk melihat siapa pemilik tangan tersebut. Dahinya sedikit mengernyit ketika melihat seorang laki-laki yang kini sedang berdiri di hadapannya sambil tersenyum. Vania seperti merasa tidak asing dengan orang ini.

"Hai!" Sapa cowok itu sambil tersenyum. "Masih ingat gue, kan?" Lanjutnya masih menyunggingkan senyuman.

Setelah mengingat siapa cowok itu, Vania pun menjawab pertanyaan yang barusan dilontarkan oleh lawan bicaranya.

"Iya, gue ingat," jawab Vania.

"Bagus, deh. Gue pikir lo lupa sama gue," balas Bimo.

Vania masih pada posisinya sembari terus menatap Bimo dengan ekspresi tanda tanya. Ia ingin menanyakan sesuatu namun urung.  Seakan tahu isi pikiran Vania, Bimo pun membuka suara.

"Gue kesini karena mau ngasih surat dokter ke wali kelasnya Vano," jelas Bimo.

Vania menyatukan kedua alisnya. "Dokter?" tanya Vania.

"Iya. Emangnya lo nggak tau kalau Vano sakit?" Tanya Bimo balik.

Vania menggeleng tanda tak tahu. Lagipula, untuk apa dia tahu? Toh, dia bukan siapa-siapanya, kan? Tetapi tetap saja rasa penasaran itu muncul di hati Vania. Seperti ingin tahu sakit apa yang sedang diderita Vano saat ini.

"Sakit apa?" Vania pun mulai membuka suara untuk bertanya kepada Bimo.

"Demam. Badannya panas dari semalam," jawab Bimo.

Vania menjawab dengan gerakan mulutnya yang membentuk sebuah lingkaran. Entah kenapa ada sedikit perasaan khawatir yang timbul dalam diri Vania. Vania sendiri bingung dengan perasaannya saat ini. Bagaimana bisa dia mengkhawatirkan seseorang yang jelas-jelas dia hindari agar tidak masuk ke dalam kehidupannya? Sungguh ia tak mengerti.

"Hey! Kok bengong? Kenapa?" Suara Bimo berhasil membuyarkan lamunan Vania.

"Nggak apa-apa." Jawab Vania singkat.

Sadar karena sudah terlalu lama berada di luar kelas, Vania pun memutuskan untuk segera kembali ke kelasnya.

"Permisi." Pamit Vania kepada Bimo lalu berjalan pergi ke arah tangga perempuan. Sosok gadis itu perlahan menghilang setelah berhasil menuruni anak tangga.

Sepeninggalnya Vania, sebuah senyuman terukir di bawah Bimo. Senyuman yang sangat sulit diartikan. Mengingat kalau ia harus menjaga Vano yang sedang terbaring lemas di rumahnya, Bimo lekas menemui wali kelas Vano untuk mewakili orang tua Vano yang sangat sibuk.

The Real of Ice Queen Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang