Jam istirahat pertama sedang berlangsung pagi ini, Vania lebih memilih membaca novelnya di dalam kelas ketimbang ikut bersama teman-temannya ke kantin. Hanya ada dirinya dengan beberapa temannya yang tetao berada di kelas sambil menyantap bekal yang mereka bawa dari rumah. Damai rasanya saat bisa menikmati waktu seorang diri di tempat yang terlalu ramai seperti ini. Akan lebih damai lagi ketika memilih tempat sepi lainnya seperti perpustakaan atau taman, namun Vania agak malas untuk beranjak dari tempat duduknya.
"Lagi baca apa, sih?" Tiba-tiba saja sebuah suara muncul di hadapannya. Vania mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang berbicara. Setelah tahu siapa orangnya, Vania kembali fokus pada novelnya.
"Kurang ganteng apa sih gue, sampe diduain sama novel?" Tanyanya sewot karena tak kunjung di jawab oleh Vania.
Akibat kehadiran orang tersebut, konsentrasi Vania terganggu. Ia terkadang merasa kesal dengan orang-orang yang mengganggu waktu santainya. Vania pun membuka suara dan berkata dengan ketus, "Ngapain, sih? Ganggu."
"Suka-suka gue, lah."
"Kayak sekolah punya lo aja." Gumam Vania tanpa suara, hanya gerakan mulut saja.
"Emang sekolah ini punya gue, kok. Tapi lebih tepatnya sih punya ayah gue. Ucapnya dengan wajah tengil.
Vania lupa bahwa sekolah ini milik keluarga Megantara. Walaupun begitu, Vano tak pernah menyombongkan diri akan hal ini. Ia bergaul dengan siapa saja dan menganggap semuanya sama. Bahkan ketika ada murid lain yang selalu membawa-bawa jabatan keluarganya di sekolah ini ketika Vano banyak ditaksir oleh perempuan atau hal lainnya yang membuatnya menjadi terkenal di sekolah, ia akan menghadapi orang tersebut dan berbicara secara empat mata untuk mengatakan bahwa ini tidak ada sangkut pautnya.
Bukannya apa, Vano tak mau dianggap memanfaatkan uang dan jabatan ayahnya sebagai pemilik sekolah ini untuk menjadi terkenal atau digandrungi banyak murid perempuan. Lagipula ia sendiri tak merasa dirinya punya segalanya dan lebih baik daripada orang lain sehingga bisa berulah seenaknya, ia juga tak merasa terkenal dan tidak mau menjadi terkenal. Mereka menganggap dengan posisi seperti ini memudahkan Vano untuk dijadikan prioritas dan mudah mendapatkan apa yang ia mau. Teman-temannya mengatakan jika mereka hanya iri dengan kehidupan Vano di sekolah, padahal mereka tidak tahu saja bagaimana kehidupan Vano yang sebenarnya.
"Oiya! Nanti pulang sekolah lo bareng gue, ya," ucap Vano.
Sebelum Vania mengucapkan sepatah kata, Vano lebih dulu menyerobot. "Seorang Vano nggak akan pernah mau nerima penolakan. Nanti gue tunggu di parkiran. Kalo lo nggak datang, lo bakal gue cium." Ancam Vano yang terdengar gila namun sama sekali tidak membuat Vania takut.
"Dikit lagi masuk, gue balik dulu ya ke kelas. Mumpung masih sepi. Nanti pada heboh lagi kalo pada liat gue ada disini, kan berabe."
"Bye!" Ucapnya sembari mencubit pipi chubby Vania lalu berlari cepat menuju kelasnya yang berada di lantai atas.
Vania langsung mencibir dalam hati dan mengusap pipinya menggunakan lengan seragamnya. Merasa geli dengan tingkah Vano barusan. Cowok itu memang sering kali melakukan skinship secara tiba-tiba tanpa ada aba-aba sebelumnya. Kalau bisa Vania sudah menyadarkan murid-murid perempuan untuk tidak tertipu dengan wajah tampan Vano dan menaruh hati pada cowok itu. Kecuali jika mereka ingin menyesal saat mengetahui sisi Vano yang sebenarnya sangat menyebalkan itu.
Sebenarnya Vania tidak ingin menuruti ajakan Vano tadi—lebih tepatnya paksaan, tetapi lelaki itu mengancam akan menjemputnya di kelas. Daripada satu kelas heboh dengan kehadiran Vano, lebih baik ia menurutinya saja. Vania membayangkan apa yang akan terjadi jika memang Vano melakukan ancamannya itu. Baru dibayangkan saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Real of Ice Queen
FanfictionVania Calistha Dirgantara, gadis cantik berwajah jutek yang memiliki sifat cuek nan dingin. Membuat siapa pun terpana akan kecantikannya hanya dengan sekali melihat wajahnya. Di balik semua itu, ia memiliki masa lalu yang kelam. Alasan itulah yang m...
