Hiruk pikuk keramaian kota Jakarta terasa begitu kental ditambah dengan suara nyaring klakson yang berbunyi sahut menyahut mendominasi indra pendengaran masyarakat di Ibu kota. Tak perlu heran karena memang setiap harinya kota metropolitan ini selalu dipenuhi dengan kemacetan di beberapa tempat, apalagi saat ini adalah hari minggu, hari libur untuk semua pekerja dan pelajar.
Suara ketukan jari hingga suara decakan yang beberapa kali keluar dari mulut Vano. Dirinya kesal karena sejak tadi kendaraan yang berada di depannya tidak melaju juga, padahal sudah hampir tiga puluh menit mereka terjebak macet. Karena tak sabaran, ia terus menerus membunyikan klakson.
"Argh! Ini kenapa, sih? Lama banget! Perasaan kita udah berangkat sepagi mungkin, deh," keluh Vano.
"Sabar. Namanya juga weekend, pasti banyak yang liburan." Ucap Vania lembut.
Senang? Tentu. Ini sudah ke belasan kalinya-atau mungkin lebih-Vania tidak hemat bicara lagi dengannya. Vano menyukai cara Vania membalas ucapannya, begitu lembut dan menenangkan, walaupun masih ada aura dinginnya, sedikit. Ia pun berharap semoga ini bersifat permanen.
"Sabar gimana? Udah hampir setengah jam kita disini. Pengen terbang aja gue pakai baling-baling bambunya doraemon." Ucap Vano ngawur.
Tak perlu waktu lama karena keadaan lalu lintas kini sudah kembali normal. Suasana di dalam mobil juga tak sehening saat pertama kali mereka kencan-mungkin hanya Vano yang menganggap itu kencan. Keduanya tengah asyik mendengarkan alunan musik yang berasal dari radio mobil. Sesekali mereka bersenandung bersama ketika lagu dari penyanyi terkenal diputar oleh penyiar radio.
"Selera lagu lo bagus juga ternyata." Ucap Vano menoleh ke arah Vania, lalu kembali fokus ke depan.
"Thanks. Selera lo juga bagus."
"Kalau boleh tau, lo suka lagu apa?"
"Nothing's gonna change my love for you-nya George Benson."
"Widih, suka lagu lama ternyata. Tau darimana tuh lagu?"
"Bunda sering setel di rumah, jadinya ikutan suka."
"Oh, gitu." Vano mengangguk-anggukan kepalanya. "Kenapa suka lagunya?"
"Suka aja, artinya bagus. Maknanya juga dalam."
"Buat gue, kan?"
"Hm?" Vania menolehkan kepalanya ke samping kanan ketika dirasa ucapan Vano barusan sangat aneh di telinganya.
"Enggak, lupain aja."
Diam-diam Vano terkekeh kecil melihat ekspresi Vania barusan. Gadis di sampingnya itu antara polos dan telmi. Rasanya tangannya gatal ingin mencubit pipi chubby itu, tapi ia harus menahannya karena kalau tidak bisa-bisa ia menabrak objek yang ada di depan kendaraannya.
Lima belas menit berlalu dan keduanya telah sampai di salah satu tempat hiburan terkenal di Jakarta dan sekitarnya dengan berbagai wahana yang sangat diminati dari semua kalangan usia. Mereka tak perlu lagi capek-capek mengantre membeli tiket seperti pengunjung lain dikarenakan Vano sudah membelinya lebih dulu via online.
"Mau kemana kita?" Tanya Vano sambil membenarkan tas ranselnya yang ia gendong satu sisi.
"Coba wahana yang standar aja dulu."
"Oke!"
Keduanya berjalan ke arah wahana Istana Boneka dengan posisi Vano yang merangkul Vania. Beberapa orang memandang mereka dengan pandangan iri. Bagaimana tidak ditatap seperti itu kalau keduanya sangat serasi bak pasangan sejoli yang tengah dimabuk asmara atau bahasa gaulnya adalah relationship goals.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Real of Ice Queen
FanfictionVania Calistha Dirgantara, gadis cantik berwajah jutek yang memiliki sifat cuek nan dingin. Membuat siapa pun terpana akan kecantikannya hanya dengan sekali melihat wajahnya. Di balik semua itu, ia memiliki masa lalu yang kelam. Alasan itulah yang m...
