8. Cokelat

3.1K 148 1
                                        

Hari ini adalah hari Minggu. Hari dimana semua orang memanjakan dirinya di atas tempat tidur. Hari yang pas untuk bermalas-malasan di rumah dengan tidur seharian di kasur kesayangan. Ditambah jika menonton film atau drama favorite sambil ngemil makanan kesukaan. Tetapi tidak dengan Vania, justru kini ia sedang berada di taman kota bersama Rafa untuk berolahraga. Sejujurnya Vania malas, tetapi Rafa memaksa bahkan saat membangunkan Vania tadi lelaki itu tak segan untuk menarik tubuh Vania yang belum sepenuhnya bernyawa.

"Capek. Duduk dulu, dek!" Ucap Rafa ngos-ngosan sambil memegang kedua lututnya. Mereka sudah berlari kecil mengelilingi jalan selama 15 menit. Sesekali mereka berbincang membahas berbagai hal.

"Baru lari. Alay!" Cibir Vania sambil duduk di kursi taman.

"Alay alay... tapi kamu juga duduk." Ujar Rafa ikut duduk di samping Vania.

"Mau kemana?" Tanya Rafa ketika melihat adiknya sudah berdiri.

"Beli minum."

"Kakak aja yang beli, kamu diem disini." Ucap Rafa yang kemudian pergi menuju warung terdekat.

Sembari menunggu sang Kakak yang sedang membeli minum, Vania mendengarkan lagu melalui headsetnya. Matanya menjelajah sekitarnya memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di hadapannya. Melihat ada orang yang membawa hewan peliharaannya untuk ikut jogging bersama membuat Vania merasa gemas. Sepertinya ia tak diizinkan untuk bersantai, karena buktinya ada saja yang mengganggunya.

"Long time no see, ya!" Ucap seseorang yang pasti kalian tahu siapa orangnya.

Sok akrab sekali manusia ini, segala berkata seperti itu padahal tiap hari juga mereka bertemu. Vania menggeser tubuhnya, seakan ia ogah berdekatan dengan makhluk ini. Bahkan di hari libur seperti ini ia masih saja dipertemukan dengannya.

"Jangan jauh-jauh, dong." Katanya sambil menggeser sedikit tubuhnya mendekati Vania.

Vania memandang Vano risih, tetapi Vanonya pun hanya cengengesan. Kedua alis Vania bertaut dan matanya menyipit, seakan-akan bertanya, "Ngapain sih lo disini?"

"Gue tuh kesini karena pengen lari. Lari dari kenyataan, eh enggak deh. Tapi kok kita bisa ketemu disini, ya? Jangan-jangan kita jo—" Vano sengaja menggantungkan kalimatnya. "Jomblo! Hahaha!" Tawanya terbahak-bahak, padahal tidak ada yang lucu sama sekali.

Sadar karena semua mata memandang ke arahnya, Vano pun menghentikan tawanya. "Gigi gue kering, anjir!"

"Kita nggak jomblo, kok. Kan bentar lagi lo jadi pacar gue." Lanjutnya dengan penuh percaya diri. Alisnya yang tebal dan hitam seperti ulat bulu ia naik turunkan.

Vania memutar bola matanya malas, merasa jijik dengan apa yang barusan ia dengar. Ia berharap supaya kakaknya cepat datang agar ia bisa terhindar dari makhluk aneh satu ini. Ah, Rafa lama sekali. Kemana dia ini? Tidak tahu apa jika adiknya sedang terjebak oleh makhluk aneh namun tampan ini?

"Tunggu bentar, ya." Ucap Vano lalu pergi entah kemana.

Vania menyatukan alisnya, namun ia tak peduli juga lelaki itu mau kemana. Justru bagus jika ia cepat pergi, kenapa tidak dari tadi saja? Sayangnya tak berapa lama, Vano kembali dengan membawa dua es krim di tangannya.

"Nih, buat lo." Ucapnya sembari menyodorkan es krim cokelat pada Vania.

"Nggak, makasih," tolak Vania.

"Serius nggak mau? Enak tau." Ucapnya sambil menjilat es krim, berharap Vania tergoda.

"Bodo."

"Ih, udah gue beliin juga. Yaudah kalau nggak mau." Vano memakan es krimnya kembali sambil memperhatikan sekitar. "Dek, sini deh! Ini es krim buat kamu, tadi kakak beli tapi dianya nggak mau. Sayang kalau dibuang, buat kamu aja ya? Mau kan?" Ucap Vano kepada anak kecil yang baru saja lewat di hadapannya sambil melirik Vania.

The Real of Ice Queen Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang