E. Jaket Musim Gugur

6.3K 1.1K 65
                                        

Haechan menenteng tasnya dengan riang ke kelas Hana. Di tangannya ada wafer cokelat kesukaan Hana dan sekotak susu yang juga untuk Hana. Ia melirik ke jendela kelas Hana.

"Hana gak ada?" gumam Haechan.

Ia menyembulkan kepalanya ke kelas dan bertanya, "Baek Hana di mana ya?"

Seorang teman bernama Hansol menjawab. "Kayaknya udah pulang deh," katanya. "Dia bilang, katanya kalo Haechan nyariin, bilang dia udah pulang."

Haechan mengguk mengerti. "Makasih bro."

Kakinya ia arahkan ke seluruh ruangan yang sekiranya akan didatangi Hana. Mulai dari kelas perpustakaan sampai ruang kesehatan. Namun netranya tidak menemukan Hana.

"Bener udah balik kali ya?"

Haechan mendudukan dirinya di atas motor kesayangannya. Ia merogoh saku jaket sekolahnya dan mengambil benda persegi panjang berwarna hitam.

"Kok gue gak yakin kalo dia udah di rumah ya?" Jarinya beralih mencari kontak bernama Shin Runa di ponselnya. Setelah menemukannya, ia menelepon pemilik nomor itu.

"Halo?"

"Lo liat Hana gak?"

"Ngapain nanyain Hana? Temen gue lagi sakit hati gara-gara lo tuh!"

"Apaan sih? Gue tanya, lo liat Hana gak?"

"Gak liat. Tadi gue gak balik bareng dia."

"Ya udah. Makasih."

Haechan menghela napasnya. Ia mengedarkan pandangannya ke halaman sekolah, berharap menangkap sosok seseorang yang sedang dicarinya. Merasa dirinya hanya buang-buang waktu, ia menyalakan mesin motonya dan pergi ke rumah Hana.

Selama perjalanan, yang ada dipikiran Haechan adalah Hana si gadis polos yang sedang berjalan sendiri entah di mana dan ke mana. Haechan tidak fokus dibuatnya. Ia bahkan sempat diberi peringatan oleh pengguna jalan yang lainnya agar tetap fokus ketika berkendara. Alhasil, laki-laki itu memilih untuk berhenti di halte bus.

Ia menelepon Hana. Bahkan sebelum nada sambung terdengar, panggilan sudah terputus.

"Hana baik-baik aja kan?" tanyanya sendiri.

"Haechan ya? Ada perlu apa?" Ibu Baek menyapa Haechan yang berada di depan pintu rumahnya.

"Hananya belum pulang ya, tan?"

Orang tua di depan Haechan mengangguk. "Tante kira dia lagi main sama kamu," ucapnya. "Tadi sih tante telepon. Tapi gak aktif. Kayaknya batre hpnya abis deh."

Haechan menghela napas tanpa suara. Ia benar-benar dibuat panik oleh Hana sedangkan ibunya sendiri sama sekali tidak terdengar panik dari intonasi bicaranya.

"Kenapa, nak?"

Haechan mengangkat kepalanya. "A-aku boleh nunggu Hana di sini, tan?" tanyanya.

Ibu Baek mengangguk. "Tante ambilin minum ya. Kamu duduk aja," katanya.

Laki-laki bermarga Lee itu mendudukan dirinya di kursi yang ia duduki ketika ia menunggu Hana di rumahnya. Kakinya sibuk mengetuk lantai untuk menghilangkan rasa khawatir dalam diri.

"Nggak usah khawatir." Ibu Baek datang dengan segelas air dan biskuit cokelat. "Hana pasti baik-baik aja. Diakan bukan anak kecil," lanjutnya sembari tersenyum. "Tante di dalem ya. Kalo ada apa-apa panggil aja."

"Hana emang bukan anak kecil. Tapi dia perempuan."

Hitunglah 30 menit Haechan sudah menunggu Hana di kursi yang ia duduki. Bahkan baterai ponselnya sudah menipis karena ia sibuk menelepon teman-teman yang biasanya bersama Hana.

Namun tiba-tiba terdengar bunyi pintu gerbang. Haechan menangkap manik cokelat milik Hana yang menyiratkan rasa terkejut. Perempuan itu berjalan mendekati Haechan.

"Haechan—"

Grep!

"Lo abis dari mana sih?" tanya Haechan.

Hana diam. Ia tidak bisa bergerak sama sekali karena Haechan baru saja memberika sengatan sejak ia memeluk tubuh kecil Hana.

"Gue khawatir," kata Haechan dengan lirih.

"A-aku beli jaket buat musim gugur, Haechan," jawab Hana. Haechan melepaskan pelukannya. "Aku beli untuk keluarga aku dan kamu," kata Hana sembari mengeluarkan jaket berwarna biru. "Dipake ya. Sebentar lagi kan mau ganti musim."

Lee Haechan menerimanya dengan senyuman hangat. Selanjutnya ia menyentuh kedua bahu Hana dan berkata, "Aku gak peduli kalo aku ini posesif atau apa, tapi ayo kita bikin perjanjian kecil."

enigma [ haechan ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang