R. I'll Be Your Home

4.3K 742 37
                                        

Setelah bel masuk berbunyi, mungkin semua guru yang masuk ke kelas akan terus mengoceh tentang kejadian itu. Buktinya di kelasku, guru yang seharusnya mengajar malah bercerita mengenai kisah cintanya dulu. Sesekali menasihati dan menyindir orang yang membuat keributan.

Aku kesal. Ya aku tahu kalau itu nggak baik. Tapi memangnya memberi nasihat saja nggak cukup?! Guru itu membuang waktunya dengan sia-sia. Bisa kutebak, pasti kalau pak guru tahu aku terlibat dalam perkelahian itu, beliau akan mengintrogasiku layaknya guru kesiswaan.

Aku mengangkat tanganku, membuat pak guru menghentikan ocehannya. "Ada apa, Hana?" tanyanya.

"Saya ingin izin ke toilet."

Setelah mendapatkan izin, aku meninggalkan kelas. Berjalan lemas menyusuri lorong sampai tungkaiku berhenti di bagian toilet perempuan. Aku masuk dan hanya berdiri di depan cermin. Menatap diriku yang sebenarnya terlihat berantakan. Aku membasuh wajahku. Setidaknya aku bisa terlihat lebih segar.

Ini gak adil. Haechan boleh cemburu, terus aku nggak? Haechan boleh posesif, terus aku nggak? Dia tuh kenapa sih?

Buk!

"A-astaga," ucapku ketika salah satu bilik kamar mandi terbuka, memperlihatkan seorang perempuan dari pantulan cermin. Dia berlajan keluar bilik. "E-eh aku kira nggak ada orang lain," kataku.

Perempuan itu tertawa. "Maaf loh kalo bikin kaget," balasnya. "Hana ya?"

Aku mengangguk. "Kamu...?"

"Rizu."

Aku mematung sebentar. Menatapnya sambil memutar memori ketika aku melihat wajahnya, seperti mendeteksi apakah orang di depanku ini Rizu atau bukan. "O-oh iya," tuturku setelah mengingatnya. Aku kembali melihat pantulan diriku di cermin.

"Bisa jauhin Haechan?"

"E-eh?!"

Dia bilang apa sih?! Dia lagi ngelindur ya??!!!

"Bisa jauhin Haechan?" Rizu bertanya tanpa nada paksaan sedikitpun. "Hana, aku tau kalian pacaran. Tapi perjodohannya udah gak bisa diganggu lagi."

Aku mematung mendengar pernyataan Hana. Mataku masih lurus menatap pantulan diriku yang malah semakin memburuk. "Ta-tapi kamu sama Kak Jaehyun—"

"Udah putus."

"Hah?!" Kali ini aku memutar kepala, melihat Rizu yang sedang melihatku.

Perempuan di depanku menghelas napas. "Aku udah putus sama Jaehyun. Aku gak tau lagi harus apa."

Aku menggigit kuku jariku. Aku gugup. Nggak, pasti nggak akan berakhir buruk. Pasti ada jalan keluar. "Ka-kamu tenang aja. Haechan ma-masih usaha untuk batalin ini semua kok!" Aku meyakinkan dirinya.

"Kalo mereka berhasil misahin aku sama Jaehyun, berarti mereka bakal berhasil juga misahin—"

"Nggak! Pasti Haechan yang berhasil! Mamanya Haechan ngerti!"

Lagi-lagi, helaan napas terdengar dari mulut perempuan Jepang itu. Aku nggak tau bagaimana eskpresinya karena sekarang aku menunduk.

Rizu menepuk pundakku. "Ya udah. Semangat ya, Hana." Setelahnya, dia pergi meninggalkanku.

Aku menatap langit-langit kamar. Lelah untuk hari ini terasa 3 kali lipat lebih banyak. Belum lagi acara menangisku di toilet. Huh, semuanya memang menyulitkan.

Hubunganku dengan Haechan baik-baik saja, kan? Dia sedang apa ya? Anak kelasnya bilang, Haechan nggak ada di kelas. Mark juga. Mungkin mereka kabur?

Mataku terpejam. Lantas aku menarik selimutku dan mencoba untuk tidur. Namun aku mendengar suara pintu kamarku dibuka.

"Kak?" Itu suara Ethan. "Kak Hana? Tidur ya?"

"Hmm."

"Kak, ada Kak Haechan di bawah," kata Ethan.

Sontak aku membuka mataku dan mendudukan diri. Menatap Ethan tidak percaya, laki-laki kecil itu menangguk. "Ada di teras," ujarnya.

"Bilangin, kakak rapi-rapi dulu."

Setelah merasa semuanya rapi, aku pergi ke teras dan menemuka Haechan yang sedang duduk di kursi depan rumah. Di meja sebelahnya ada secangkir teh yang pasti dari ibu.

Aku duduk di kursi sebelahnya tanpa mengatakan apapun. Dia sendiri masih tetap diam.

Kalau niatnya salun diam kenapa dia ke sini???

"Maaf," katanya tiba-tiba.

Aku menghela napas pelan. Maaf lagi?

"Aku kesel. Aku takut. Padahal aku tau maksud Mark baik. Tapi aku takut dia ngambil kesempatan," ujarnya.

Hana, kamu harus marah. Bentak dia. Keluarin semua uneg-uneg—

"Iya, gak apa-apa." Baek Hana bodoh.

Aku kembali merutuku diriku ketika hati dan otak sama sekali tidak singkron. Haechan memang menyebalkan, seseorang yang sulit dipahamj, perlu bentakan, tapi aku terlalu lemah.

"Maaf soal di supermarket. Aku masih usaha untuk—"

"Nggak apa-apa, Haechan," potongku. Dia menghentikan kalimatnya. "Ma-maksudnya, aku nggak apa-apa kalo misalnya semuanya nggaj berhasil."

Laki-laki itu menautkan alisnya. Dia mengusap helaian rambut hitamnya ke belakang. "Aku bakal coba. Rizu sama Jaehyun—"

"Mereka udahan, kan?"

Maaf karena selalu motong kalimat kamu. Tapi aku bener-bener harus sendiri sekarang.

"Rizu yang cerita," ucapku. "Aku cuma mau kamu tau, kalaupun nanti usaha kamu gagal, aku nggak apa-apa. Toh udah kewajiban kamu nurutin orang tua."

Haechan memalingkan wajahnya. Dia menatap lampu jalan di seberang rumah. "Kamu gak kenapa-kenapa. Aku yang kenapa-kenapa."

enigma [ haechan ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang