Seluruh tubuhku serasa sakit dan nyeri, mandi air hangat solusi terbaik meredakannya. Setelah membuka pintu kamar kos Aku segera meletakkan tas ransel yang penuh dengan seluruh perlengkapanku selama menginap dihotel kemudian menuju dapur mengisi air ke dalam panci dan meletakkannya diatas kompor dan tak lupa menyalakannya. Sambil menunggu air mendidih Aku mengeluarkan baju kotor dari dalam ransel dan meletakkannya dikeranjang cucian dan tak lupa menyusun kembali buku-buku di meja belajar .
"Ya ampun Sa Kamu ndak capek apa?" Mita yang sejak buka pintu kos langsung terjun ke kasur terusik dengan kegiatan beres-beresku.
"Capek dong Ta badanku sakit semua, ini Aku mau mandi dulu terus tidur"
"Mau Aku telponin dokter Misha untuk periksa kamu? Wajahmu pucat banget tuh" Mita meraih ponselnya yang tergeletak di meja kecil dekat tempat tidurnya
"Eh ndak usah Ta Aku ndak papa kok cuma butuh tidur aja nih, besok bangun udah segeran lagi" Aku tidak mau merepotkan Mita dengan menelpon dokter keluarganya untuk meriksa kondisiku.
"Tapi Sa Kamu tu sa...."
"Aku mandi dula ya Ta, udah lengket ini" potongku sebelum mendenger ocehahan Mita yang jika diladeni bakalan panjang dan tak berujung. Aku segera masuk ke kamar mandi sambil membawa ember yang berisi air panas.
Aku hampir saja tidak percaya ada luka dan memar menghiasi tubuhku, luka gores dengan darah yang sudah mengering di lutut, memar di bagian paha dan pundak kiri berwarna biru keunguan di tambah telapak tangan merah dan sedikit perih.
Entahlah Aku tak tau penyebab Fauzi marah dan mendorong tubuhku yang langsung disambut baik aspal halaman parkir hotel dan Dia pergi meninggalkan Aku dan Mita. Mita yang melihat Aku terjatuh mengangkat tubuhku dan memapah menuju taksi yang berbaris rapi di pingir jalan samping pintu gerbang hotel. Di sepanjang jalan Mita meluapkan emosinya Dia terus mengutuk tindakan Fauzi kepadaku dan jarinya terus mendial nomor ponsel Fauzi berharap Dia memberi penjelasan atas sikapnya tadi namun tidak dijawab oleh pemiliknya. Pertengkaran pertama Aku dan Fauzi selama Kami berteman. Semoga besok dia sudah kembali ceria.
"Allisa ,Aku telponin dokter ya atau kita kerumah sakit langsung"
"Ndak usah Ta, Aku ndak papa "tolakku lagi
"Iih, Kamu batu banget sih, ini juga Fauzi dari tadi aku telponin tapi ndak diangkat kenapa sih tu anak, heran Aku."
"Aku salah apa ya Ta Dia marah banget gitu sama Aku"
"Aku juga ndak tahu Sa, bukannya tadi Dia masih happy pas kita turun podium Dia juga masih senyum sambil nyiumin piala" Mita mengingat kejadian di ballroom hotel selesai lomba cerdas cermat.
"Iya Dia seneng banget Kita juara lagi " iya Aku dan tim berhasil meraih kemenangan dalam lomba cerdas cermat tingkat SMA
"Terus pas di lobi Kita panggil tapi ndak noleh bahkan langsung pergi gitu aja Aku ngejar Dia sampe parkiran dan terjadilah"
"Nah kan, misterius banget tu bocah" tebak Mita
"Udalah Ta, moga aja besok di sekolah Fauzi udah balik lagi. Aku mau tidur" Aku merebahkan diri di single bad milikku.
Di dalam kamar kos yang sempit ini dihuni Aku dan Mita di bagain depan ada 2 buah kasur kecil, 1 lemari pakaian, 1 meja belajar dan 1 meja kecil untuk meletakkan alat-alat kecantikan Mita. Dapur dan kamar mandi di bagain belakang yang dipisahkan dinding tripleks tidak ada ruang tamu ataupun sofa empuk. Karpet dari wol kami jadikan alas untuk meletakkan kasur karna pemilik kos tidak menyediakan ranjang atau dipan.
Hari ini penuh dengan kejutan kalian masih ingat cowok yang menolong Aku menghajar preman jahat semalam? Ternyata Dia salah satu juri dalam lomba yang Aku ikuti Dia salah satu Dosen muda di universitas terbaik kota ini. Selesai acara pembagaian penghargaan Aku keluar dari ballroom yang penuh dengan peserta dan panitia yang asik berfoto menuju lift yang ramai juga sehingga aku harus antri. Dia menghampiri Aku yang menunggu antrian di depan pintu lift .
"Bisa berbica sebentar" pintanya setelah berdiri disebelahku
"Oh iya Mas boleh"
Dia hanya mengangguk dan berjalan ke lorong yang sedikit lebih sepi. Dia kemudian mengeluarkan hp dari dalam tas laptop di tangan kirinya dan menyodorkannya ke arahku
"Ini hpmu"
"Alhamdulillah hpku makasih Mas......." Aku lupa siapa namanya
"Al"
"Makasih Mas Al, Aku pikir di ambil preman jelek semalam"
"Hp jelek kayak gitu mana ada yang mau ngambil, dijual ndak laku"
"Jangan salah Mas, ini hp lebih bagus dari pada android yang kalau terpleset langsung tak bernyawa. Ini hp walaupun udah jatuh terinjak dan tersiram air masih hidup" Aku jadi cermah panjang lebar. Hpku memang jadul hanya untuk telpon dan sms harganya murah tidak ada kameranya tapi lebih awet dibandingkan android mahal punya Mita yang kalau jatuh layarnya retak mudah lowbat aplikasinya jugaminta di upgrade berkala.
Aku sempat melihat Dia tersenyum tipis sangat tipis bahkan hampir saja tak terlihat
"Pagi tadi ada telpon dari Ibumu maaf Aku lancang mengangkatnya"
"Ndak papa Mas. Sekali lagi makasih ya, Aku permisi dulu" ucapku tulus yang di balas anggukan kepalanya.
Baru dua langkah dari Dia badanku terdorong ke depan dan langsung diterima lantai buku yang aku bawa berserakan di lantai. Orang yang menbrakku langsung pergi tanpa meminta maaf bahkan menolehpun tidak.
"Kamu tu ceroboh banget ya" celoteh Mas Al sambil jongkok di dekatku dan mengambil buku yang berserakan disusunnya kembali dan di serahkan ke tanganku.
"Lain kali hati-hati" ucapnya sambil berlalu pergi meninggalkanku yang masih tergugu kaget ternyata dia bisa bersikap manis juga. Ooopsss Aku mikirin apa sih
---------------------------------------------------------------------------------------------
Wellcome Oktober 2018
KAMU SEDANG MEMBACA
DOSENKU SUAMIKU
General FictionSejak ayahnya meninggal ketika Ia masih berumur 8 tahun Allisa tumbuh menjadi gadis yang mandiri, cerdas, tangguh, dan bertanggung jawab. Demi mewujudkan cita-citanya Allisa menerima tawaran beasiswa pendidikan di Kota sehingga ia harus rela...
