Mataku mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke indra penglihatanku. Tubuhku lemas tak berdaya. Aku masih terbaring di atas kasur kecil dengan selang infus terpasang di punggung tangan kiri dan handuk kompresan di dahi.
"Essssttt..," erangku ketika rasa sakit kembali menyerang kepalaku.
"Alhamdulillah akhirnya Kamu siuman juga Sa" kelegaan terpancar dari wajahnya yang tersenyum.
"Aku kenapa Ta?"
"Awalnya Aku kira Kamu tidur tapi Aku bangunin buat sholat Magrib kamu ndak bangun-bangun terus Aku telpon dokter Misha untuk periksa Kamu. Dokter menyarankan bawa Kamu ke Rumah Sakit tapi Aku tolak karena Kamu pasti ndak bakalan nyaman jadi Aku minta dokter Misha buat rawat Kamu di kost aja." Terang Mita
"Maaf ya Ta Aku ngerepotin Kamu" sesalku yang tak bisa menjaga kondisi tubuh hingga merepotkan Mita sahabatku. Andai saja malam itu Aku memilih istirahat di kamar hotel pasti tubuhku tak akan selemah ini. Sakit ini sungguh menyiksa dan menghambat aktivitasku belum lagi Aku yang harus merepotkan orang lain untuk mengurus kebutuhanku
"Santai aja Sa, Kamu itu sahabatku jadi udah sepantasnya Aku merawatmu. Kamu juga pasti akan melakukan hal yang sama kalau aku sakit"
"Udah pasti itu"
"Ya udah sekarang Kamu makan dulu terus minum obatnya biar cepet sembuh" Mita membantu Aku duduk dan menyodorkan bubur Ayam yang masih hangat. Aku pun menyuap satu sendok bubur yang terasa pahit di lidah namun tetap ku telan paksa karena Aku mau sembuh tak mau berlama-lama dengan rasa sakit.
****
"Sa, Kamu ndak papakan Aku tinggal sekolah ada ulangan soalnya." Sesal Mita karena harus meninggalkanku yang masih terbaring sakit
"Iya Ta ndak papa, Kamu sekolah aja ntar izinin Aku ya sama Bu wulan biar Aku bisa ulangan susulan"setelah di infus semalaman dan minum obat kondisi tubuhku belum ada perubahan pusing di kepalaku masih menyerang bahkan subuh tadi Aku beberapa kali harus mengeluarkan isi perut yang teras pahit dimulutku.
"Ok, ntar pulang sekolah kita ke Rumah Sakit ndak ada penolakan pokoknya. Aku pergi dulu bye Asalamualikum "pamit Mita setelah menutup pintu kos. Setelah kepergian Mita ke sekolah Aku kembali memejamkan mata semoga dengan tidur bisa mengurangi rasa pusing di kepalaku.
Tok tok tok
Aku terbangun mendengar ada yang mengetuk pintu kost
"Siapa" tanyaku lemah
"Ini saya doktek misha mbak" jawab orang yang mengetuk pintu
"Masuk aja dok, ndak di kunci pintunya" jawabku masih pada posisi berbaring
"Assalamualaikum, gimana mbak udah mendingan?" Sapa dokter Misha sambil mengecek selang infus yang masih terpasang di tubuhku
Waalaikumsalam, kepala saya masih pusing, mual dan badan saya lemes banget"
"Baik Saya periksa dulu" dokter Misha mengeluarkan peralatan kedokterannya dari dalam tas jinjing yang dibawanya, termometer, stetoskop dan tensimeter. Dokter Misha meletakkan termometer di ketiakku,kemudian mengukur tekanan darahku dengan tensimeter
"Obatnya semalam udah dimimumkan ?" Yang ku jawab dengan anggukan kepalaku
"Ndak ada perubahan dari pemeriksaan awal Saya kemarin dan hari ini kondisi Mbak semakin buruk, sepertinya Mbak harus Saya bawa ke Rumah Sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Saya akan telpon ambulance tunggu sebentar ya Mbak."
Dokter Misha mengeluarkan gawai dari saku jas dokternya dan menghubungi Rumah sakit untuk mengirimkan mobil Ambulance ke kostanku . Aku hanya pasrah saja semoga dengan di rawat di Rumah Sakit Aku bisa sembuh kembali.
Tiga puluh menit kemudian Aku dan dokter Misha sudah berada di ruang IGD Rumah Sakit Pemerintah tempat dokter Misha mengabdi. Tampak dokter Misha sedang berbincang dengan rekan dokternya saat seorang perawat mengambil sampel darahku untuk di uji di laboratrium dan berbagai proses pemeriksaan lainnya dilakukan oleh dokter Misha dibantu seorang perawat
"Mbak akan di opname selama beberapa hari hingga kondis Mbak kembali stabil Nanti akan ada perawat mengantar mbak keruang inap. Semoga lekas sembuh ya Mbak" jelas doker Misha sambil ersenyum manis
"Iya dokter terimakasih"
********
"Assalamualikum" salam Mita ketika masuk ke ruang rawatku bersama Fauzi dibelakangnya
"Waalaikumsalam, masuk Ta, zi" jawabku lemah
"Ya ampun Sa kok kondisi Kamu makin parah, Kamu ini coba kemarin langsung ke dokter pasti ndak seperti ini jadinya" Mita langsung histeris melihatku yang terbaring di ranjang rumah sakit.
"Maaf Ta Aku pikir kemarin cuma kelahan aja"
"Lain kali ndak bikin orang khawatir bisa ndak" Fauzi pun ikut menyalahkanku
"Iya maafin Aku" Aku bersyukur walau dirantauan masih ada sahabat yang perhatian kepadaku
"Aku yang minta maaf Sa kemarin udah marah-marah gaje sama Kamu, maafin sikap Aku ya. Aku janji kejadian itu ndak terulang lagi" permintaan maaf tulus Fauzi menghancurkan pertahananku untuk tak menangis. Alhasil cairan bening itu meluncur indah dari kedua mataku
"Jangan nangis please, Aku ndak bisa hapus air matamu bukan muhrim soalnya tapi kalau Kamu mau Kita muhrim ayo aja."
"Huuu Kamu ini Zi orang sakit masih aja digombalin"
"Aku ndak ngegombal Mita"
"Ndak gombal tapi gembel"
"Iya Ta sekarang Aku jadi gembel nih lagi mengemis maaf sama bidadari surgaku"
"Ya ampun Zi Kamu habis makan gula berapa kilo tuh mulut manis bener ntar diabetes loh"
"Aku udah kena diabetes Ta, melihat senyum manis princes Allisa"
"Aduh adek ndak kuat bang"
"Udah kalian berdua jangan ribut terus Aku mau tidur nih" Aku menghentikan perang mulut Mita dan Fauzi yang ndak bakal kelar sampai negara api menyerang kembali
"Tidur aja Sa ada Aku disini yang bakalan jagain Kamu, Kamu udah maafin Aku kan?"
"Iya Zi Aku udah maafin Kamu dari kemarin. Kamunya aja yang ndak merespon telpon sama smsku"
"Hpku di sita sama Papa, makanya Aku ndak ngasih kabar dari kemarin" pengakuan Fauzi sontak membuatku kaget soalnya Papanya Fauzi selalu memanjakan dan memenuhi semua keinginannya dengan berbagai fasilitas terbaik bahkan terkesan berlebihan
"Kok bisa Zi?"
"Udahlah ndak usah dibahas, sekarang Kamu istirahat biar cepet sembuh. Aku sama Mita harus balik ke sekolah lagi ntar pulang sekolah Kami kesini lagi."
Fauzi dan Mita izin ketika jam iztirahat untuk menjengukku dan Mereka kembali lagi kesekolah
Sorry for typo yang bersebaran ^-^ happy reading ^-^
KAMU SEDANG MEMBACA
DOSENKU SUAMIKU
General FictionSejak ayahnya meninggal ketika Ia masih berumur 8 tahun Allisa tumbuh menjadi gadis yang mandiri, cerdas, tangguh, dan bertanggung jawab. Demi mewujudkan cita-citanya Allisa menerima tawaran beasiswa pendidikan di Kota sehingga ia harus rela...
