ARZU MUHAMMAD.

3K 320 12
                                        

Tumben sekali ayahnya menyuruhnya untuk mengecek panti sore ini, katanya ada seseorang yang sedang syukuran dipantinya. Ah, tidak penting sekali sebenarnya untuk datang. Hanya untuk ayahnya saja ia merelakan sisa sore nya ini sekedar memeriksa panti. Padahal, sehabis isya ia sudah harus memeriksa perlengkapan medisnya untuk besok, karena ada operasi besar.

Jarang juga ia melihat langit sore seperti ini, tiga tahun terakhir hidupnya hanya melulu tentang ruangannya dirumah sakit. Kalau tidak ruangannya, apalagi kalau bukan ruang operasi. Sangat lelah memang, yah mau bagaimana lagi tapinya.

"Jangan ngebut-nebut dijalanan!"

"Yes, Mam."

"Jangan begadang lagi ya habis dari rs."

"Hm."

"Jangan lupa ke panti temuin yang lagi syukuran."

Sejujurnya, ia saja tak tau siapa yang sedang merayakan syukuran kelulusannya dipanti. "Hm."

"Kalau udah kenal sama dia harus kenalin ke Mama."

"I don't."

"Yaudah, kenalan dong gimana sih pak dokter payah!"

"Iya." Jawabnya malas.

"Harus dokter juga."

"Loh, kalau jodoh asli Arzu bukan dokter?"

"Loh, kalau feeling mama dokter gimana dong?"

Sudahlah, Zu. Tak akan menang juga jika berdebat dengan ibumu. "Eh, Mom? Halo? Ngomong apa tadi? Gak kedengeran. Sinyal jelek. Udah dulu ya, bye. Love you." Bohong Arzu mematikan telponnya cepat.

Ah, ia paling sebal jika ibunya terus-terusan bertanya pasangan seperti ini. Tak akan ada habisnya. Baru saja ia ingin mematikan ponselnya, sudah ada dering telpon lagi yang berbunyi diponselnya yang membuat Arzu sedikit mengecap sebal mengangkatnya.

"Apa?"

"Dok, dimana?" Tanya Aldo, asistennya.

"Saya ke panti sebentar. Nanti balik lagi ke rumah sakit."

"Dok, masalahnya pemeriksaan alat medis harus secepatnya." Nada Aldo sedikit cemas dibalik sambungan telponnya. Bagaimana tak cemas, memeriksa peralatan medis sangat memakan waktu yang lama. Bisa-bisa ia➖Aldo, lembur lagi malam ini karena Arzu yang telat memeriksa.

"Ya, sabar." Arzu mematikan sambungan telponnya dengan cepat, sibuk sekali dirinya hari ini. Tidak. Tidak hari ini saja. Memang setiap hari ia selalu sibuk dan lembur, tidurnya saja hanya dua jam perharinya.

Cepat-cepat Arzu memarkirkan mobilnya saat sudah memasuki pagar panti. Arzu turun dari mobilnya dan berjalan cepat kearah Aula. "Siapa yang syukuran?" Tanya Arzu pada Micel, salah satu anak panti.

"Syukuran Kak Demi karena dapat lulusan kedokteran terbaik, sekalian juga katanya Kak Demi ulang tahun hari ini. Katanya sih begitu. Udah ya Kak Zu, aku mau kesana!" Jawab Micel cepat langsung meninggalkan Arzu yang turut mengikutinya.

Sedikit mengintip, dan melihat seorang wanita berambut curly, berdress coklat berdiri didepan anak-anak dengan wajah yang sangat bahagia. Apa dia wanita yang dimaksud Mamanya? Tapi, siapa dia?

Ah, tepat sekali saat Arzu sedang menatapnya lekat, ia ikut menatapnya juga dengan raut wajah penasaran dan..ketakutan.

Hei, apa baginya ia menyeramkan?

Perempuan itu masih menatapnya yang membuat Arzu sedikit risih dan berpaling cepat kearah lain. Dan, tadi apa yang Micel bilang? Wanita berambut curly itu dokter?

MIRACL(e)OVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang