32. Tindakan

8.4K 1K 15
                                        



Tubuhnya membatu, hanya untuk melihat anak laki laki yang seharusnya jauh didepan telah berdiri menatapnya dengan pandangan gelap

"Ah.. ah.. mohon ampuni aku!!" segera saja ia berlutut ketakutan dengan tubuh gemetaran

"Aku hanya dipaksa! Aku hanyalah budak mereka !" serunya, ia tak berani mendongak dan terus menempelkan wajahnya dipermukaan tanah

Mendengar itu mata Jiao An menyipit. "Lalu? Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya dengan pongah, nada yang ia digunakan memang terdengar santai, namun dengan suasana berat yang mencengkam jelas anak itu menyembunyikan sesuatu.

"Aku dijual oleh bibiku kepada mereka! selama ini aku hanyalah alat yang mereka permainkan! Kumohon... biarkan aku tetap hidup... selama ini aku hanya diperalat" ucap perompak tersebut

"Hee.. benarkah kau dipaksa?" Jiao An menarik benang baja yang sebelumnya digunakan sebagai jebakan dipohon, dengan satu tarikan benang benang tersebut berkibar diudara dan tersusun rapi ketika mencapai tangannya

Ia sibuk membersihkan noda noda darah yang mulai mengering, tidak ada sahutan dari Jiao An setelah mendengar pernyataan perompak tersebut.

Perompak itu terus membungkuk ditanah, ia tak berani bergerak sedikit pun. Melawan pun percuma karena jelas ia sudah tahu betul kehebataan anak ini dalam membunuh, meski lawannya adalah orang dewasa ia tak ragu ragu menggunakan taktik kejam dalam memangsa korbannya

"Lalu.." Jiao An menarik benang yang belum ia bersihkan menjeratnya ke leher perompak tersebut dengan satu jari, dengan tarikan benang tajam mau tak mau perompak itu terpaksa mendongak

Benang itu sangat tajam, satu gesekan sudah membuat kulit lehernya terluka

"Kenapa kau tak pernah melawan?" sambung Jiao An, bibir itu tertarik membentuk senyuman gelap

Perompak itu menghirup udara dingin, waktu seakan berhenti dengan jeratan lehernya yang semakin mengencang ia benar benar merasakan niat membunuh yang ditujukan dari tatapan mengerikan tersebut.

"karena bibiku.. menahan adikku... bila aku melawan maka dia akan menjual adikku kerumah pelacuran, kumohon biarkan aku tetap hidup... aku harus menyelamatkan adikku" bisiknya lemah

Mata Jiao An melebar, namun ekspresi wajah itu sekejap menjadi datar. Ia melepas benang baja itu dengan kasar meninggalkan perompak itu yang terjatuh ditanah

"Adikmu ditahan.....?" gumannya singkat, pandangan mata Jiao An menjadi kosong sesaat, pikirannya berkelana seperti ia menyelami masa lalu yang menyakitkan.

Namun sedetik kemudian sorot matanya kembali mengeras, ia memandang dingin menatap perompak dibawah

"Aku sudah bermurah hati untuk menginzinkanmu hidup" Kata kata Jiao An diwarnai dengan udara datar namun mematikan "Jika kau benar benar ingin menyelamatkan adikmu maka tindakan yang kau lakukan tidak akan seperti ini" selesai mengucapkan kalimat itu Jiao An melepas benang baja yang melilit

Ia melemparkan kerlingan tajam sebelum melompat tinggi meninggalkan perompak itu yang terbatuk batuk

Kakinya melemas, ia segera ambruk ditanah. Tubuhnya basah kuyup karena keringat deras yang mengucur, malam ini ia telah lolos dari jeratan kematian

Perompak itu menatap tanah terakhir dimana anak laki laki tadi berpijak, ia bernafas dengan cepat kepalanya terasa pecah apa lagi saat kata kata terakhir yang ditinggalkan anak itu

"Jika kau benar benar ingin menyelamatkan adikmu maka tindakan yang kau lakukan tidak akan seperti ini"

Ia benar benar ingin menjerit marah dan menyangkal kata kata itu, namun ia juga tidak memiliki kemampuan membalasnya. Karena ia juga tahu betul, dirinya lah yang menyedihkan sehingga tidak dapat melindungi adiknya

The Beautiful Killer Cold-Blooded, Perhaps?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang