Jinan memperhatikan seisi rumah barunya. Rumah ini sangat luas dan juga memiliki suasana yang tenang. Tepat seperti seleranya.
Jinan baru menyadari, sejak tadi ia berkeliling rumah ini. Ia sama sekali belum bertemu dengan Deva Pranata, atau yang sering ia panggil Deva.
*Kehabisan stock nama, hehehe. ini nama Danso Devi ya*
"Mungkin masih kerja" Ucap Jinan. Ia melangkah menuju lantai dua dirumah itu untuk melihat kamarnya.
Kamar itu sudah rapi. Beberapa barang-barang pribadinya sudah tertata pada tempatnya.
Jinan meletakkan tas miliknya tepat di samping tempat tidurnya. Sekali lagi ia memperhatikan isi kamarnya sambil tersenyum tipis.
"Semoga kita bisa segera bertemu" Batin Jinan.
Jinan membongkar isi tasnya dan mulai mengeluarkan barang-barang berharganya. Tangannya mengambil sebuah gulungan yang sudah terlihat using. Dibukanya dengan perlahan gulungan itu dan sedikit demi sedikit mulai terlihat lukisan wajah gadis yang sangat dicintainya.
Setelah menyusun semua barang berharga miliknya. Jinan keluar dari kamar menuju dapur. Sepertinya ia mulai merasa sedikit lapar.
Jinan membuka kulkas yang berada di dapur. Semua bahan makanan segar sudah lengkap terisi di dalam kulkas tersebut. Ia mulai mengeluarkan beberapa bahan untuk memasak.
Sudah lama rasanya ia tidak memasak untuk orang lain. Ia sering dimasakkan oleh orang, atau memasak untuk dirinya sendiri. Christi adalah orang yang beberapa tahun belakangan ini memasak untuknya.
Berbicara tentang Christi, sepertinya ia mulai merindukan anak itu. Sejak umur 10 tahun, anak itu sudah mulai mendapatkan tugas dari Ayahnya untuk melayani Jinan. Sementara itu Christian Kennedy, Ayah Christi. Ia lebih fokus untuk menjalankan perusahaan milik Jinan yang berada di Paris.
Tangan Jinan terlihat sangat mahir menggunakan pisau dapur itu. Ia mulai memotong-motong bahan masakannya.
Karena terlalu asik dengan masakannya, Jinan sampai tidak menyadari kehadiran Deva. Pemuda berusia 28 tahun itu pun langsung menyimpan tas kerjanya dan membuka jas serta menggulung lengan kemejanya.
"Tuan, biar saya yang melanjutkannya" Ucap Deva.
"Tidak perlu. Kali ini, biarkan aku yang menyiapkan makanan"
Deva menurut. Ia hanya memperhatikan Jinan yang terlihat sangat tenang dan santai dalam memasak. Jika sedang mengerjakan sesuatu, Jinan akan terus fokus pada pekerjaannya hingga selesai.
"Ada apa?" Tanya Jinan
"Ah, tidak ada apa-apa Tuan. Saya hanya suka ketika melihat Tuan serius mengerjakan sesuatu" Jinan menggeleng pelan lalu kembali memotong-motong kentang.
"Kau sama seperti Kakekmu. Dia juga sering melakukan hal yang sama, padahal tidak ada yang menarik dariku untuk dilihat dalam waktu selama itu" Ucap Jinan sambil menata makanannya dipiring.
"Dulu juga saya bertanya-tanya. Kenapa Kakek suka memperhatikan Tuan yang sedang mengerjakan sesuatu? Dan sepertinya saya sudah menemukan jawabannya"
"Tidak ada yang menarik" Ucap Jinan. Ia berbalik sambil membawa dua buah piring, satu piring ia berikan pada Deva.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.