24

726 64 49
                                        

Eve baru saja selesai mengemasi pakaian yang akan ia bawa untuk berangkat berlibur bersama keluarga barunya.

"Ah, ini gak usah deh. Kalau gini mah bawa tas kecil aja cukup." Eve kembali mengeluarkan beberapa pakaiannya dari dalam koper dan kembali menatap isi kopernya.
Eve sudah melakukan kegiatan itu dari setengah jam yang lalu.

"Eh, ini bawa gak ya?" Eve lagi-lagi memperhatikan baju yang beberapa menit lalu ia lempar keluar dari  kopernya.

"Kenapa belum tidur?"

Eve terkejut karena tiba-tiba mendengar suara Jinan.

"Astaga Pakboss ngagetin aja." Eve duduk di lantai, Jinan pun menghampiri Eve dan ikut duduk dilantai.

"Gak perlu bawa pakaian banyak. Kita bisa beli pakaian disana."

"Tapi aku galau beneran ini Pakboss" Eve menatap isi kopernya yang masih berantakan.

"Kosongkan saja kopermu, nanti kita bisa beli banyak disana." 

"Serius Pakboss?!" Jinan mengangguk.

"Duh, benih-benih kesultanan di jiwa aku tuh tiba-tiba bersorak-sorak gembira gitu dengernya."
Jinan hanya tersenyum meski ia tidak sepenuhnya mengerti apa maksud dari ucapan Eve.

"Sekarang lebih baik tidur, besok jam 9 kita harus ke bandara."

"Oke, tapi... Pakboss, aku boleh minta sesuatu?"

"Apa?"

"Aku mau denger cerita Pakboss sama Makboss jaman dulu. Terus kalau kalian udah ada dari dulu, aku juga dulu ada gak? Kalau iya, aku orang kaya atau miskin?"

"Kamu sama Cindy berasal dari tempat yang sama. Dulu kalian memiliki kehidupan yang kurang beruntung. Tapi dari kalian lah aku belajar banyak, dan kehilangan kalian adalah rasa sakit yang sangat menyiksa."

Eve langsung naik ke atas kasurnya, berbaring dan menarik selimut hingga sebatas dada.
"Ceritain lagi Pakboss!"

Jinan menarik kursi dan duduk di samping kasur Eve.

"Aku dulu adalah anak yang sangat egois dan keras kepala. Aku gak suka kalah dari orang lain, aku selalu ingin semua yang kurencanakan harus berjalan sesuai dengan keinginanku. Malam itu, entah kenapa aku memutuskan untuk pergi lebih jauh lagi. Aku penasaran dengan apa yang ada di luar, apa di desa lain akan seramai di kota?"

Jinan memberi jeda pada ceritanya.

"Aku keluar dengan satu orang pengawal pribadiku, dia menemaniku menyusuri jalan sampai aku tiba di hutan. Disana awal pertemuanku dengan Cindy." Jinan tersenyum. Ia masih mengingat dengan jelas kejadian dimalam itu. Malam yang menjadi awal dari kebahagiaannya.

"Awalnya aku memilih untuk memperhatikannya dari kejauhan. Tapi, aku penasaran dan memanggilnya. Dia terkejut dan jatuh, dia menyalahkan aku karena dia gagal menangkap ikan di sungai. Dia marah besar dan meninggalkan aku sendiri, beberapa kali aku harus menahan pengawalku untuk tidak memenggal kepalanya."

"Loh, kok anarkis sih Pakboss?"

"Gak ada yang boleh berucap kurang ajar pada Raja, berbicara dengan nada tinggi saja sebuah kesalahan besar."

"Terus?"

"Aku dan pengawalku mengikutinya sampai ke desa, disana aku benar-benar terpukul melihat kondisi mereka disana. Sangat miris, aku malu sekali melihat penampilanku saat itu dan melihat pakaian mereka. Hari itu juga, aku benar-benar merasa bersalah karena ternyata Cindy mencari ikan untuk makan ibunya yang sedang sakt. Dia kembali tapi ibunya sudah meninggal."

"Emaknya Makboss sakit apa?"

"Mereka meninggal karena kelaparan dan kedinginan. Musim dingin disana saat itu benar-benar menusuk"

"Makboss marah gak? Pakboss di gebuk gak sama Makboss?"

"Gak, aku menebus kesalahanku dengan membawakan mereka makanan dari kota. Tak lama kami dekat, aku memperjuangkan kesejahteraan mereka dengan meminta pada Ayahku, Raja saat itu. Tapi ternyata permintaanku tidak bisa langsung dilakukan, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Aku bertengkar dengan Ayahku cukup lama, aku menjadi anak yang membangkang sebagai bentuk protesku. Aku hanya bisa menyuruh pengawalku untuk mengirimkan surat pada Cindy, sampai akhirnya aku berhenti mengiriminya surat karena Ayahku yang sakit cukup lama dan aku harus belajar lebih giat lagi sebagai seorang penerus. Dua tahun berlalu, Ayahku meninggal dan aku naik menjadi Raja baru. Setelah cukup lama, akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya lagi. Tapi sebelum aku bertemu dengan Cindy, aku malah bertemu dengan kamu terlebih dulu."

"Aku?! Aku cantik gak dulu?" Jinan mengangguk.

"Gak ada yang berubah darimu. Dulu namamu Gi Hyun, nama yang benar-benar cocok dengan kepribadianmu."

"Emang arti nama aku apa?"

"Cerdas dan pemberani"
Jinan bisa melihat ekspresi wajah sombong dari anak itu ketika mengetahui arti namanya.

"Gimana aku bisa ketemu sama Pakboss?"

"Kamu mau merampok barang bawaanku, kamu membawa orang-orang desa yang masih sanggup bekerja itu untuk merampok. Saat semua orang pergi karena ketakutan melawan pengawalku, cuma kamu sendiri yang masih mau bertahan dan menyerang. Padahal kamu sendiri tau kalau usahamu itu sia-sia. Aku memaklumi itu, karena kalian melakukannya dengan terpaksa. Jika tidak seperti itu kalian tidak akan bisa makan dan bertahan hidup."

"Astaga, ngerampok dong. Baru aja tadi sombong punya benih jiwa sultan dalam diri. Ternyata dulu hidupnya ngegembel sampai harus ngerampok pula." Jinan tertawa kecil.

"Kamu mau tau satu rahasia?"
Eve mengangguk cepat, ia suka jika mendengar sebuah rahasia.

"Entah sebuah kebetulan atau apa, sejak dulu kamu sudah menjadi anak angkat Cindy dan aku. Bahkan aku sempat menitipkan Cindy ke kamu selagi aku sibuk di istana."

"Gila sih, aku emang anak idaman dari dulu"

"Kamu satu-satunya anak yang bisa aku andalkan saat itu. Kamu belajar ilmu pedang sendiri, saat aku tanya itu untuk apa. Kamu dengan tegas menjawab itu semua untuk Cindy dan anak-anak yang  berada disana."

"Jadi ingin sombong nih tiba-tiba" Jinan tertawa.

"Kamu meninggal pun dengan cara yang terhormat."

"Terhormat?" Jinan mengangguk.

"Kamu meninggal karena melindungi seorang Ratu."

"life goals banget gak tuh. Gak apa-apa deh ngegembel, tapi matinya terhormat. Anak sultan aja belum tentu matinya terhormat."

"Sekarang waktunya tidur, selamat malam" 

"Selamat malam Pakboss"







😌I'm Back 😎

Gimana?

Ini part iseng buat yang kangen sama Nakboss ya..😁😂

See Ya 🙋
Salam Team CiNan

I Love You, StrangerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang