10. Futsal Berdarah

97 5 0
                                        

Keesokan harinya di hari Senin. Setelah kemarin mendapat chat dari Kang Dudi, itu benar-benar membuatku waspada saat nanti bermain futsal. Mau bagaimanapun, saya harus bisa menahan emosi demi kebaikan diri sendiri.

Di pagi yang cerah saya pergi berkuliah seperti biasa. Hari Senin itu seperti yang sudah saya bilang adalah hari neraka, di pagi hari kita akan disiksa kuliah renang, setelahnya kuliah dikelas, dan jam satu sampai jam tiga disiksa di kuliah sofball. Melelahkan sekali itu semua, tapi perlahan saya dan yang lain mulai terbiasa dengan ini. Kali ini tidak terlalu banyak yang mengeluh. Itu menandakan memang fisik kita sudah kuat, atau mungkin pasrah saja mau gimana lagi hahaha.

Selesailah hari ini berkuliah, lalu kita berkumpul di kosan Ledeng Ceria seperti biasa. Saya Panji dan Reinhard membicarakan tentang kejadian kemarin berkelahi.

"Med, loe gapapa kan sekarang?" tanya Reinhard

"Gapapa Nard, santai lah"

"Ahh euy!" sela Panji "Rugi saya ga dateng ke acara kemarin, kalo dateng saya bakal bantu kamu Med! tuman lah senior itu memang!" lanjutnya

"Yaahh biarin lah Ji, itumah sekedar respon balasan aja"

"Tapi gue salut sama loe Med! loe emang berani, percaya lah sekarang sama yang namanya Ahmed Codet! hahaha" ujar Reinhard

"Ahhh biasa lah hahaha" balas saya

Sebenarnya saya pura-pura bangga saja kemarin berani melawan. Tapi dalam lubuk hati terdalam, saya sangat menyesal. Gaenak kalo ke Reinhard dan yang lainnya bilang nyesel kemarin berantem. Nanti dikira saya nyesel nolong temen, jadi jelek deh tanggapan mereka ke saya.

Sekarang saya sudah tanggung dikenal lagi sebagai petarung, teman-teman memujiku karena rela melawan senior sekalipun demi menolong teman. Mendadak mereka sangat respeck padaku. Padahal sekarang sangat saya sesali apa yang kemarin kulakukan. Meskipun sudah saya dianggap pengecualian.

Tak terasa waktu sorepun tiba sekitar pukul tiga, ini dalah saatnya kita bermain futsal dengan senior. Kita bersepuluh berangkat bersama dari Ledeng Ceria. Semua satu angkatan menggunakan baju merah polos.

Setelah beberapa lama perjalanan kita semua sampai di lapang futsal. Kita mulai masuk ke gedung lapangnya yang besar dan luas itu. Lapangnya ada dua menggunakan lantai bahan karet khusus lapang futsal berwarna biru dan kuning.

Terlihat senior sudah banyak yang menunggu, kurang lebih 30 orang yang didominasi laki-laki. Tapi tidak terlihat Kang Dudi, yang saya tau hanya Kang Arif. Mereka semua menggunakan kaos tim angkatannya yang berwarna hitam.

Sebagian teman angkatanku sudah duduk di depan senior, kurang lebih berjumlah 40 orang.

"CEPETT OYY!!" bentak senior cewe

Kitapun menghampiri dan ikut bergabung duduk.

"UDAH TELAT MALAH LELET!"

Tentu saja, senior-senior melihatku dengan tatapan tajamnya. Mereka seperti benci padaku karena kejadian kemarin. Terlebih si Kang Arif dia melihatku sambil mengepalkan tangannya. Tapi saya mencoba biasa saja, dan tentu tidak ada sedikitpun rasa takut dalam diriku.

Kemudian senior wanita yang tadi berbicara lagi, perawakannya tinggi putih dan berambut panjang. Memang dia paling cantik kalo dibanding senior yang lain.

"Okee... Ini udah semua belum?" tanya dia

"Belum Teh!" jawab salah satu dari kita

"Kemana yang lainnya ini? pada niat ga? kalian tinggal dateng aja susah gini!"

Semua terdiam tidak menjawab.

"JAWAB WOY!" bentaknya.

Tapi sayang sekali, cantik-cantik galak bener.

Stay On My WayCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang