Jira menatap datar Jaesuk yang sekarang mungkin sudah mati karena pukulan vas bunga pada kepalanya.
Jira berjalan tertatih menggapai kemeja seragam dan juga roknya. Jira ingin pergi dari tempat terkutuk ini.
Gadis itu pun membuka pintu kamar setelah tadi merogoh kuncinya yang ada di saku celana Jaesuk. Jira keluar dari rumah yang ternyata cukup besar itu, mencari taksi, lalu pulang. Dia tidak memikirkan tentang biaya taksi yang akan sangat mahal, sungguh, ia tidak peduli.
Jira sampai di rumahnya dalam keadaan paling buruk yang pernah ia rasakan. Tangannya membuka pintu kamar mandi, membasuh tubuhnya yang benar-benar terasa menjijikan.
Jira bolak balik mengguyur tubuhnya dengan ratusan gayung air. Benar-benar ingin menghilangkan semua sisa kebiadaban Jaesuk pada tubuhnya. Jira menggosok seluruh bagian tubuhnya dengan keras, membuat kulitnya memerah.
Gadis itu menangis keras sekali. Meraung dengan menyedihkan di dalam kamar mandi itu.
Dia sudah kotor.
Sangat memalukan.
Menjijikan.
Dirinya tidak lebih baik dari kotoran.
"ARRGHH!!" Jira menjambak rambutnya sendiri. Tangannya beberapa kali memukul dadanya yang terasa sangat sesak.
Semua sudah berakhir. Dia sudah tamat. Permata yang ia jaga selama ini, sudah dirampas. Dirinya sudah tidak berharga lagi.
Kenapa semua ini harus terjadi padanya? Ini benar-benar tidak adil! Kesalahan apa yang ia buat sampai Jira harus merasakan semua ini?
Malam itu, kamar mandi rumah Jira menjadi saksi bagaimana gadis itu meraung putus asa.
***
"Ya, Oppa. Aku baik-baik saja." Jira menggigit bibir menahan tangis.
Di seberang sana, Kim Taehyung menelpon karena khawatir, sedari tadi ia tak bisa menghubungi sepupunya ini.
'Kau benar-benar baik, kan? Kenapa tidak menjawab panggilanku?'
"Tadi aku sedang fokus membaca buku di perpustakaan." Jira menutup mulutnya menahan isakan. Gadis itu mengatur napas sebelum melanjutkan. "Ponsel harus dimatikan saat di perpustakan."
'Aku tahu. Lagipula kenapa kau sok sekali belajar, sih? Mentang-mentang sudah akan jadi tunangan Jimin kau jadi giat belajar, eh?'
Jira memaksakan tawa. "Tentu saja. Aku harus menjadi gadis pintar untuk Jimin Oppa. Aku tidak mau membuat malu seperti dirimu."
'Sialan. Oke, baiklah. Aku tutup panggilannya dulu.'
Jira pun menghela napas panjang saat panggilan itu terputus.
Gadis itu menggelung tubuhnya di pojok kamar. Kakinya menekuk, menyembunyikan wajahnya di antara kaki.
Jira menangis sejadi-jadinya. Semuanya hancur. Ia sudah tamat. Akan lebih baik jika Jira mati sekarang juga. Semua akan lebih baik jika ia mati.
Namun kemudian, Jira merasakan seseorang merengkuhnya dengan erat. Mengusap-usap punggungnya yang bergetar.
"Kau kenapa?" Suara berat dan dalam itu membuat tangisan Jira semakin pecah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Mr. Park
Fiksi Penggemar"Because everyone needs Park Jimin in their life." Dibalik nama besarnya, Jean V. Aiden mempunyai masa lalu yang cukup rumit. Siapa sangka jika pria penuh pesona itu ternyata mempunyai sebuah luka yang besar untuk seorang Kim Jira. Jean pikir, Jira...
