• Kita dan Kesadaran

5.2K 740 189
                                        

Jean duduk dengan tegak di sofa, siap mendengarkan cerita dari sang adik tercinta.

Rose menarik napasnya sebelum memulai. "Lima tahun lalu, aku tengah kebingungan karena baru pertama kali menginjakkan kaki di Korea. Bahkan bahasa Korea ku benar-benar buruk saat itu."

"Aku hanya bisa duduk di halte bus dengan pikiran yang tidak karuan. Saat itu ponselku rusak, aku asal menaiki bus hingga akhirnya sampai di Gwangju." Jeda sejenak, lalu Rose melanjutkan. "Kemudian Jira dan Hoseok yang sepertinya baru pulang dari pasar saat itu, menghampiriku dan bertanya kenapa aku terlihat kebingungan. Mereka akhirnya memutuskan untuk membawaku ke rumah Hoseok. Mereka baik, sangat baik malah. Apalagi Jira. Dia teman terbaik sepanjang masa. Kami melewati hari-hari kami dengan melakukan berbagai macam hal menyenangkan. Jira benar-benar tahu cara bersenang-senang."

Tanpa sadar, Jean tersenyum kecil. Pikirannya menerawang ke waktu SMA nya. Saat itu Jira memang tipe gadis yang sangat mudah bergaul.

"Ku kira semuanya akan menyenangkan untuk kami. Sampai saat tengah malam, aku melihatnya menangis keras sekali. Aku jelas panik dan aku memaksa Jira mengatakan semuanya."

Rose menatap Jean. "Dia pernah diperkosa, Jean. Dia bilang, saat SMA dia benar-benar mencintai seorang pria, bahkan mereka hampir bertunangan. Sampai  dua hari sebelum pertunangan mereka, Jira diperkosa oleh seseorang. Aku bisa melihat gurat penyesalan dan ketakutan yang amat sangat di wajahnya saat itu. Ia membenci dirinya, Jean. Ia sudah kotor, dan dia tidak mau calon tunangannya itu ikut menderita karena sudah memiliki hubungan dengan gadis sepertinya."

Di sini, lidah Jean mendadak kelu. Otaknya mati selama beberapa detik.

Rose menatap kakaknya dengan pandangan sendu. "Dia tidak ingin reputasi keluarga calon tunangannya hancur. Dia tidak ingin reputasi keluarga kita hancur, Jean. Dia melindungimu dan nama baik keluarga kita."

"T-tapi kenapa dia harus berkata padaku jika ia memiliki pria lain? Aku benar-benar tidak mengerti," ujar Jean. Matanya mulai memerah menahan segala perasaannya.

"Lalu apa? Apa ia harus bilang, karena aku diperkosa, aku tidak bisa bersama denganmu lagi. Kau ingin dia bilang begitu? Lalu setelahnya kau akan datang ke tempat pemerkosanya dan membunuh atau setidaknya menuntut bajingan itu, kemudian semua orang akan tahu kalau Jira sudah tidak suci lagi? Kau ingin begitu? Kau ingin dia mempermalukan dirinya lagi?"

Jean tidak menjawab.

"Jean, dia bukannya tidak mau menjelaskan. Dia tidak bisa. Kau pikir mudah untuk menceritakan hal seperti itu pada seseorang yang kita cintai?" kata Rose.

"Tapi jika dia melakukannya, aku akan menerimanya. Itu bukan salahnya." Jean mulai menangis.

"Kau bisa berkata seperti itu sekarang karena kau tidak menjadi dirinya saat itu."

"Tapi---tapi aku---" Jean mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menatap Rose dengan matanya yang memerah. "Aku menghabiskan lima tahun belakangan hanya untuk membencinya, Rose. Lima tahun! Aku membencinya tanpa tahu bahwa dia juga menderita di luar sana."

Rose menatap iba pada kakaknya itu. "Ini bukan sepenuhnya salahmu, Jean. Jira juga salah karena dia tidak pernah punya keberanian untuk jujur. Tetapi, Jean, ku pikir kelakuanmu selama ini cukup berlebihan." Rose meringis.

"Aku tahu! Karena itu sekarang aku benar-benar frustasi, Rose! Apa yang harus kulakukan?"

"Apa kau merasa bersalah?"

"Tentu saja."

"Kalau begitu minta maaf lah. Tidak ada jalan keluar lain bagi orang yang bersalah kecuali dengan minta maaf." Rose menangkup wajah Jean. "Minta maaf padanya, Jean."

Dear, Mr. ParkCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang