18

1K 99 1
                                    

Surya pun melirik pamannya yang sedang fokus menyetir itu,
"Jadi, yang lo ceritain ke gue selama ini itu Vanesya? Lo ketemu di kursus bahasa inggris gara-gara nganterin tante Kinan?"

"Secara garis besar ya gitu" jawab Dio dengan singkat.

Surya akhirnya memposisikan duduknya dengan normal dan meratapi jalanan yang kini sedang macet didepannya. Lelaki dengan penampilan urak-urakan ini sedang memberontak, bukan raganya namun hatinya.

"Lo.. cuma main-main kan?" tanya Surya tanpa menatap Dio yang selama ini selalu akrab dengannya layaknya abang dan adik.

"Lo suka sama Vanesya?" Dio berbalik bertanya dengan sekilas melirik Surya,
"Bukannya lo demen sama adiknya Hanip itu?"

"Bukan gue yang suka, tapi Dave" jawab Surya dengan tatapan memelas kepada pamannya yang masih muda dan tak pantas dipanggil paman.

Disaat seperti ini, Surya jauh mementingkan sahabatnya, Daffa. ketimbang pamannya sendiri. Lagi pula Vanesya jauh lebih pantas bersanding dengan Daffa ketimbang Dio, pikir Surya.

"Dave? maksudnya Daffa?" tanya Dio ikut melirik Surya,
"Ouh" Dio pun lagi-lagi kembali memfokuskan pandangannya kedepan.

"Kata lo tadi, lo gak serius kan sama dia? Yaudah lah banyak kok cewe cakep di jurusan pariwisata kampusnya lo, tau gue" jawab Surya berusaha membuat Dio setuju secara resmi bukan sekedar ber-oh ria.

Dio berpikir sejenak, lelaki berumur 25 tahun ini sedang menggigit bawah bibirnya sendiri. Gerahamnya pun dibuat bergesekkan akibat kebingungan untuk menjawab.

"Ya?" tanya Surya meminta jawaban.

"Gue.. gue pikir-pikir nanti" jawab Dio membuat Surya memutar bola matanya sendiri.

"Kenapa sih? Lo serius apa gimana sampai susah banget ngelepasin anak orang?"

"Surya" panggil Dio tanpa melirik,
"Bukannya gue mainin Vanesya, gue memang gak serius sama dia, tapi gue lagi berusaha"

"Umur lo sama dia itu beda jauh loh, ga ada harapan" Surya lagi-lagi menyela.

"Terus lo kira Daffa itu serius?" tanya Dio membuat Surya melirik tak senang.

"Gue tau sahabat gue kek gimana, kalau dia bilang sesuatu itu ga bakal main-main doang kek lo" jawab Surya dengan menaikkan nada suaranya.
"Hanip, Dave, gue tau mereka ga pernah main-main sama cewe mana pun. Mereka punya permainan sendiri dan ga perlu mainin cewe"

"Emang lo tau dari mana? lo gak tau hati orang, Surya"

Surya pun berdecak tak senang,
"Ck! keluarga kita ga pernah mainin cewe, bukannya lo sendiri yang bilang kalau lo deket banget sama bokap gue?"

Sontak Dio pun tertawa terbahak-bahak,
"Tau dari mana kalau keluarga kita ga pernah main-main sama hati? mitos itu mah"

Surya mengerutkan kedua alisnya, melihat pamannya yang menurutnya berbicara ngelantur sejak tadi.

"Jaya, bokap lo itu. Dia dapatin nyokap lo juga dari hasil main-main perasaan doang" Jawab Dio membuat Surya semakin kebingungan.

Namun Dio tak menjelaskan apa-apa membuat Surya pun malas bertanya panjang kali lebar.

---•••---

Daffa pun mengambil tasnya yang ada di dalam mobil kemudian menutup pintu mobil itu dengan keras agar tertutup rapat.

"Chacha...," ucap  seseorang begitu Daffa memasuki rumahnya yang seharusnya kosong, ayahnya sedang bekerja dan pasti pulang larut, apalagi bundanya yang sampai detik ini pun tak memberi kabar dan hanya terpampang di majalah atau televisi. Kinan juga memiliki rumahnya sendiri, pembantunya juga sudah pulang sendari sore tadi.

"Belum pulang juga disaat seperti ini?" sambung seseorang itu membuat Daffa yang ada baru memasuki ruang tamu pun mengendap-ngendap untuk melihat ruang keluarga yang besar itu.

Ternyata ada ayahnya disana dan juga kakeknya, Adiromo Gentara A. Sutomo. Ayahnya berada di ruang kerja kecilnya yang masih berada di wilayah ruang keluarga, hanya berbatas lemari buku saja.

"Sibuk," jawab Ardean dengan dingin sembari membolak-balikkan berkasnya.

"Kamu, rela-rela memindahkan perusahaan ke Indonesia cuma untuk Chacha. Tapi, aktris sok cantik itu bahkan perduli sama anakmu saja tidak, Dean." jawab kakeknya Daffa lagi.

Ardean tak menggubris omongan sang ayah itu, ia tetap melanjutkan pekerjaannya yang rela ia bawa pulang ke rumah walau sesungguhnya belum selesai di kantor.

"Lusa nanti, seandai dia belum memberi kabar juga-" nada suara kakeknya Daffa yang merupakan CEO sebelum ayahnya pun mulai meninggi,
"Lebih baik kalian berpisah saja sekalian"

Sontak Ardean menghentikan seluruh kegiatannya dan memutar kursi kerjanya menghadap ke arah meja makan, tempat dimana ayahnya itu duduk dengan angkuh sembari membaca koran menggunakan kacamata.

"Pulang aja gih," ucap Ardean dengan nada risih ke ayahnya itu,
"Nambah-nambah pikiran aja"

"Daffa sebentar lagi ikut perlombaan olahraga bergengsi, dia butuh semangat dari ibunya" jawab ayahnya Ardean sambil menurunkan koran dan langsung bertatapan dengan anak tunggal penerus perusahaannya sekarang itu.

"Daffa bisa tanpa Chacha, Pa. Dia bukan anak kecil lagi!"

"Justru yang seperti ini akan jadi kebiasaan," sambar ayahnya itu.

Ardean pun terdiam membisu, apalagi yang bisa membantah kalau kenyataan juga hatinya searah dengan ucapan ayahnya ini.

"Daffa masih berumur 16 tahun menjelang 17 tahun di tahun ini, dia masih anak kecil walau kategori remaja," tambah ayahnya Ardean lagi membuat Ardean mendesir.
"Ini salah satu alasan kenapa kamu sejujurnya tidak cocok dengan Chacha itu"

"Kenapa masalah sepele tentang Daffa ini justru mengedar ke pernikahannya Dean?! Justru papa itu adalah alasan kenapa Dean sempat pisah sama Chacha! Kenapa papa justru ngungkit hal ini lagi?!"

"Kamu bilang masalah sepele?!" ayahnya Ardean pun berdiri sambil memukul meja makan, matanya kembali berbinar seperti dahulu disaat Ardean masih remaja, nada menyeramkannya sontak menghantui seluruh penjuru rumah, dan lagi-lagi apa yang Ardean lupakan bertahun-tahun yang lalu seusai remajanya kembali terulang.

Urat punggung tangan ayahnya Ardean yang seperti membengkak, kedua alis mata yang menunjam, serta aura emosionalnya pun kembali dan sama persis seperti dulu.

Daffa? Daffa hanya beberapa kali bertemu kakeknya ini, dan memang ini pertama kalinya ia melihat kakeknya marah besar. Walau sesungguhnya Daffa telah melihat hal seperti ini terjadi didalam kepribadian ayahnya sendiri, kakek dan ayahnya memiliki satu sifat yang sama namun justru saling memerangi satu sama lain.

"Anakmu, Daffa! Kamu anggap sepele?!" tambah ayahnya Ardean itu lagi.
"Dia itu cucu saya! Yang sepele itu pernikahanmu!"

"Papa tidak mau tau! Kalau Chacha masih sibuk dengan karirnya, kamu harus mencari pengganti ibunda yang jauh lebih baik untuk Daffa atau Papa yang akan carikan sendiri untuk cucu Papa itu!" teriak ayahnya Ardean membuat Ardean tak mampu berkata-kata.

"Pa, masalah kek gini jangan diperumit dong, Pa" Ardean sontak memelankan suaranya dengan memelas,
"Perlombaan basket nasionalnya Daffa itu hanya sebatas ajang perlombaan, Dean tau karena Dean juga pernah ikut dulu. Masalah kek gini gak seharusnya jadi hambatan, Papa juga dulu gak nonton Dean kok dan rasanya biasa aja"

"Permainan basketnya Daffa itu jauh lebih baik dari kamu," jawab ayahnya Ardean lagi-lagi menusuk hati,
"Daffa pasti akan masuk ajang Internasional jika lolos tingkat nasional ini, dia fokus pada permainannya, dia juga pintar disekolah dan akademiknya luar biasa tinggi, dia karirnya bagus. Dan kamu? kamu hanya setengah-setengah saja. Bukan hal yang patut dibanggakan"

"Papa tak mau kalau sampai Daffa jadi gagal hanya karena ibunya mengecewakan," tambah ayahnya Ardean lagi menutup ucapannya.

Ardean sontak tertawa kecil melihat ayahnya ini yang berbicara semaunya,
"Kalau Papa nyuruh Dean buat cerai sama Chacha...,"
"Papa juga harus cerai sama Mama"

RUANG GANTI 2 [Hiatus]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang