Jeongin terbangun karena mendengar suara bundanya yang berbincang dengan seseorang. Ia-pun mengusap kedua matanya supaya lebih fokus.
Sebenarnya perbincangan bundanya dengan seseorang itu tidak keras. Bahkan cenderung seperti bisikan. Tapi entah mengapa ia bisa mendengar semua perbincangan bundanya dengan sangat jelas. Seakan-akan bundanya sedang berada di sampingnya.
Sebenarnya hari ini aku kenapasih? Batin Jeongin. Ia merasa ada yang berbeda dengan dirinya hari ini. Bukan hanya penciumannya dan pendengarannya yang lebih peka. Tapi ia merasa penglihatannya sekarang menjadi lebih jelas. Padahal matanya minus, walaupun tidak terlalu besar.
Jeongin turun dari tempat tidurnya. Ia berjalan menghampiri bundanya.
"Aku membencinya. Aku membenci anak itu." Suara Jina dari dalam ruang makan terdengar ditelinga Jeongin.
Jeongin seketika menghentikan langkahnya. Tidak percaya. Anak laki-laki itu berusaha berpikir positif bahwa anak yang dimaksud bundanya itu bukanlah dirinya.
Tanpa berpikir lebih panjang lagi, Jeongin lansung membuka sekat pemisah antara ruang makan dan ruang tv.
"Bunda sudah pulang?" Tanya Jeongin. Tangannya sengaja dikepal untuk menguatkan diri.
"Hei, nak. Kau sudah bangun?" Respon Jina sesantai mungkin.
Jeongin mengangguk. Lalu anak laki-laki itu menoleh kepada Olin "Kau masih disini?"
"Iya. Ada yang perlu aku bicarakan dengan bundamu." Jawab Olin. "... bisakah kau keluar sebentar? Kami sebenarnya belum selesai bicara."
Jeongin menggeleng. "Percuma. Aku bisa mendengar pembicaraan kalian dari kamarku."
Jeongin kira kedua wanita itu akan bingung dengan maksud dari perkataannya. Tapi ekspektasinya melenceng. Keduanya cenderung biasa saja.
"Ah bunda mengerti." Jina tersenyum. "...bagaimana jika kau ke tempat Sam-Ahjussi untuk membeli daging? Bunda ingin masak sup iga malam ini."
Jeongin mengangguk. Ia mengerti bundanya itu mengusirnya secara halus. Mungkin pembicaraan bundanya dan Olin memang sangat penting dan rahasia.
"Iya bunda. Ayen ke tempat Sam-ahjussi dulu, ya?" Pamit Jeongin. "...dan Olin, jangan membentak bunda."
Olin yang mendengar peringatan Jeongin menelan ludahnya.
——
Jeongin tiba di bengkel Sam-ahjussi. Tampak laki-laki berambut ikal dan berkumis tipis sedang sibuk dengan obeng dan perkakas lainnya.
"Ahjussi!" Panggil Jeongin ceria.
Laki-laki paruh baya itu menghentikan aktvitasnya dan menoleh ke arah Jeongin.
"Hei, nak. Ada apa?" Balasnya ramah
Jeongin berjalan ke arah kursi yang terdapat di samping Sam. Ia duduk di kursi itu seraya menatap pamannya yang kembali sibuk dengan mainannya.
"Bunda menyuruhku kesini untuk membeli daging." Kata Jeongin polos.
"Ini bengkel, nak. Bukan pasar swalayan." Sam mengernyitkan dahinya. "... aku menjual mobil bekas, bukan sapi."
Jeongin tertawa mendengar kalimat terakhir pamannya itu. "Dirumah kedatangan tamu. Makanya bunda menyuruhku kemari."
"Sejak kapan Jina dikunjungi tamu? Apa kau mengenal tamu itu, nak?"
Jeongin mengangguk. "Aku mengenalnya. Olin menolongku tadi."
Sam menaikan alis, wajahnya seperti khawatir. Namun dengan cepat pria berkumis tipis itu mengubah ekspresinya menjadi normal kembali.
Jeongin menyadari perubahan mimik wajah pria itu. Apa Sam-ahjussi menyembunyikan sesuatu?
"Namanya Olin? Bagaimana ciri-cirinya?" Tanya Sam.
"Kulitnya tidak putih. Seperti sering terbakar matahari." Jeongin berpikir "...wajahnya seperti.... burung? Entahlah."
"Jujur saja aku sedikit curiga ketika kau bilang Jina memiliki tamu. Aku mengenalnya dari kami kecil. Jina tidak memiliki banyak teman."
"Seharusnya ahjussi bangga, dong. Bunda yang sekarang berarti sudah mau bergaul." Sudut bibir Jeongin tertarik keatas. Ia bangga dengan bundanya.
"No no no. Jina tidak boleh bergaul. Ia tidak bisa."
"Maksudnya?" Jeongin menyipitkan matanya.
Belum sempat Sam menjawab, telfon bengkel berbunyi.
"Aku angkat telfon dulu. Kau masuk saja ke ruanganku. Aku akan mengantarmu ke swalayan untuk membeli daging." Sam membersihkan tangannya yang penuh oli dengan kain lusuh.
Jeongin mengangguk. Ia langsung masuk ke ruangan Paman Sam yang sudah biasa ia kunjungi.
"Kau tenanglah, Jina. Jeongin aman bersamaku sekarang." Kata Sam dengan nada selembut mungkin. Mencoba menenangkan teman sedari kecilnya itu.
"Kau tidak mengerti! Anak itu segalanya bagiku. Aku tidak mau ia masuk karantina."
Diujung sana tangisan Jina pecah.
"Aku paham jika kau sangat mencintai anak itu. Tapi pelindungnya sudah rusak. Itu artinya masa hukumanmu sudah habis, Yang Jina. Seharusnya kau senang akan hal itu."
"Aku tidak senang sama sekali. Sejujurnya aku menikmati masa hukumanku . Menjadi orang tua asuh untuk Jeongin seperti...sebuah anugrah."
"Aku mengerti. Tapi bukankah kau harus merelakannya? Anak ini harus menemui takdirnya. Dunia ini semakin lama semakin terancam!"
Terdengar hembusan nafas.
"Aku akan mencoba menerimanya. Bawalah ia pulang sekarang. Dan...mari kita lepas pelindung terakhirnya."
Sudut bibir Sam naik ke atas.
"Olin. Aku sudah mendengar tentang Harpy itu dari Jeongin. Apa ia datang karena pelindung di mata kaki Jeongin sudah lepas?"
"Kau benar. Bawa Jeongin pulang sekarang. Aku tidak mau menyia-nyiakan waktu terakhirku dengan anak itu."
Sam mengiyakan. Lalu menutup sambungan telfon.
——
Harpy : Dalam mitologi Yunani, Harpi (si perenggut) adalah makhluk legenda yang bersayap, dilukiskan sebagai makhluk berwujud setengah wanita setengah burung yang cantik.
Sumber : Wikipedia
——
Jadi Ayen punya 2 pelindung. Satu di mata kakinya (sekarang udah rusak) dan satu lagi di.... situ:)
Vommentnya jangan lupa!
KAMU SEDANG MEMBACA
Demigod || Stray Kids
Fanfiction[Au -Stray Kids] Apa terlahir seperti ini adalah sebuah malapetaka? ©gaezelly, 2019 starts : 190119 #1 in demigod
